Masa Depan Taiwan: Antara Strategi Jangka Panjang dan Drama KTT Trump-Xi
Baca dalam 60 detik
- KTT Beijing antara Xi Jinping dan Donald Trump tidak menghasilkan kesepakatan yang mengorbankan Taiwan, meskipun kekhawatiran global sempat memuncak.
- Taiwan justru menunjukkan ketenangan karena telah terbiasa dengan status geopolitiknya yang rumit dan terus memperkuat pertahanan secara mandiri.
- Pertarungan sesungguhnya bagi Beijing bukanlah pada perjanjian dengan presiden AS, melainkan pada upaya memenangkan pemilihan presiden Taiwan 2028.

Kekhawatiran global bahwa masa depan Taiwan akan menjadi taruhan dalam pertemuan puncak antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada 14-15 Mei lalu ternyata tidak terbukti. Meskipun banyak spekulasi bahwa Trump mungkin melunakkan dukungannya terhadap Taiwan demi bantuan China dalam mengakhiri perang di Iran atau imbalan ekonomi seperti pembelian kedelai dan pesawat Boeing, tidak ada kesepakatan semacam itu yang tercapai. Panggilan telepon antara Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dan Trump segera setelah pertemuan tersebut kemungkinan besar bertujuan untuk meyakinkan Tokyo bahwa kebijakan AS terhadap Taiwan tidak berubah, terutama mengingat ketegangan Sino-Jepang sejak pernyataan Takaichi di parlemen pada Oktober lalu.
Menariknya, Taiwan sendiri justru menyikapi drama KTT Trump-Xi dengan tenang. Bahkan pernyataan Trump di perjalanan pulang bahwa ia belum memutuskan paket penjualan senjata senilai 14 miliar dolar AS ke Taiwan tidak menimbulkan gejolak berarti di Taipei. Ketenangan ini bukan tanpa alasan. Taiwan telah belajar hidup dengan status geopolitiknya yang anomali selama hampir 80 tahun. Jika harus cemas setiap kali pemimpin China dan AS bertemu, pulau itu akan mengalami kelelahan mental.
Di balik ketenangan itu, Taiwan terus memperkuat pertahanannya. Pemerintahan Presiden Lai Ching-Te dari Partai Progresif Demokratik (DPP) telah berjuang untuk mendapatkan persetujuan parlemen guna meningkatkan anggaran pertahanan secara signifikan. Pada 8 Mei lalu, Legislatif Yuan akhirnya menyetujui tambahan belanja pertahanan sebesar 25 miliar dolar AS, meskipun jumlah ini jauh lebih kecil dari permintaan pemerintah yang mencapai 40 miliar dolar AS. Keterbatasan ini menunjukkan bahwa tantangan domestik, khususnya politik internal, menjadi faktor yang lebih krusial bagi Taiwan dibandingkan diplomasi Trump dengan Xi.



