Sara Duterte Ubah Retorika Laut China Selatan: Antara Elektoral dan Diplomasi
Baca dalam 60 detik
- Wakil Presiden Filipina Sara Duterte-Carpio mengeluarkan pernyataan tegas terkait kedaulatan maritim, menandai pergeseran nada dari sikap sebelumnya yang lebih lunak terhadap Beijing.
- Langkah ini dinilai sebagai upaya meraih simpati publik domestik yang nasionalis tanpa memutus hubungan ekonomi dan diplomatik dengan China.
- Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan, terutama setelah serangkaian insiden antara kapal Filipina dan China.

Wakil Presiden Filipina, Sara Duterte-Carpio, baru-baru ini menyampaikan pernyataan yang lebih tegas mengenai sengketa Laut China Selatan. Dalam pidato video untuk memperingati hari jadi Angkatan Laut Filipina yang ke-128, ia memuji personel angkatan laut atas dedikasi mereka dalam mempertahankan kedaulatan dan integritas wilayah maritim negara.
Pernyataan ini menandai perubahan nada dari Duterte-Carpio yang sebelumnya cenderung menghindari retorika keras terhadap Beijing. Pengamat menilai langkah ini merupakan strategi politik untuk merespons sentimen publik yang semakin nasionalis, tanpa harus mengorbankan hubungan bilateral yang penting dengan China.
Dalam pidatonya, Duterte-Carpio menyebut tantangan di laut sebagai ujian bagi ketahanan bangsa. Ia mengatakan, βDi tengah tantangan di lautan kita, kalian menjadi garis pertahanan pertama bangsa. Tugas kalian bukanlah perkara kecil β melindungi wilayah kita berarti menjaga masa depan generasi berikutnya dari rakyat Filipina.β
Pergeseran sikap ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan, termasuk insiden penabrakan kapal dan penyitaan peralatan oleh penjaga pantai China. Meskipun demikian, Duterte-Carpio tetap berhati-hati untuk tidak secara langsung mengecam Beijing, melainkan lebih fokus pada semangat patriotisme dan pengabdian prajurit.
Para analis melihat bahwa retorika baru ini lebih bersifat pragmatis. Di satu sisi, ia ingin mempertahankan basis dukungan dari kelompok nasionalis yang menginginkan sikap keras terhadap China. Di sisi lain, ia tidak ingin memicu konfrontasi langsung yang dapat merugikan kepentingan ekonomi Filipina, terutama dalam hal investasi dan bantuan China.
Langkah ini juga dipandang sebagai persiapan menjelang pemilihan umum mendatang, di mana isu kedaulatan menjadi salah satu topik sentral. Dengan mengadopsi sikap yang lebih tegas, Duterte-Carpio berharap dapat menarik pemilih tanpa harus mengorbankan hubungan diplomatik yang telah dibangun oleh pemerintahan ayahnya, Rodrigo Duterte.
Ke depannya, publik akan terus memantau konsistensi sikap Sara Duterte-Carpio. Apakah retorika ini akan diikuti dengan tindakan nyata di lapangan, atau sekadar strategi politik jangka pendek? Yang jelas, dinamika politik domestik dan tekanan dari China akan terus membentuk arah kebijakan luar negeri Filipina di kawasan yang rawan konflik ini.



