Tradisi Sunat Massal di Afrika Selatan: Puluhan Remaja Tewas, Praktik Ilegal Makin Marak
Baca dalam 60 detik
- Setidaknya 48 peserta ritual sunat tradisional di Afrika Selatan meninggal dalam musim inisiasi terbaru, dengan penyebab utama dehidrasi dan infeksi luka.
- Praktik ilegal menjamur karena biaya sekolah resmi tak terjangkau, sementara pengawasan pemerintah terhambat oleh kerahasiaan ritual dan lokasi terpencil.
- Pemerintah telah menetapkan standar kesehatan ketat sejak 2021, namun penegakan hukum masih lemah dengan hanya sedikit kasus yang berujung vonis.

PHUTHADITJHABA, Afrika Selatan — Lamkelo Mtyho, pemuda 22 tahun tanpa riwayat penyakit serius, bergabung dalam ritual sunat tradisional yang sakral. Keluarganya menanti kepulangannya sebagai seorang pria sejati. Namun tiga pekan kemudian, kabar duka datang: ia tewas dalam prosesi yang seharusnya menjadi puncak kebanggaan.
Mtyho hanyalah satu dari sedikitnya 48 remaja dan pria muda yang meninggal dalam musim inisiasi terbaru di Afrika Selatan. Angka ini menyoroti kegagalan sistem pengawasan terhadap praktik budaya yang sarat risiko. Menurut mantan Menteri Kesehatan Zwelini Mkhize, dalam kurun lima tahun tercatat 476 kematian peserta inisiasi—semuanya dalam kondisi sehat sebelum mengikuti ritual. "Kematian ini tidak bisa diterima dan seharusnya tidak pernah terjadi," tegasnya di hadapan parlemen tahun lalu.
Ritual sunat tradisional dijalankan di lokasi terpencil, seringkali di gubuk lumpur atau pondok darurat. Peserta diwajibkan merahasiakan prosesi, sehingga keluarga dan otoritas kesulitan memantau. Menteri Urusan Tradisional Velenkosini Hlabisa mengungkapkan bahwa mitos seperti menghindari minum air putih demi mempercepat penyembuhan justru memperparah risiko dehidrasi. Alat potong yang tidak steril dan praktisi tanpa pelatihan memadai menjadi faktor utama infeksi dan kematian.
Tekanan budaya dan ekonomi mendorong banyak keluarga memilih sekolah ilegal. Biaya sekolah resmi yang diatur pemerintah seringkali tidak terjangkau di tengah tingginya pengangguran. Akibatnya, anak-anak di bawah usia 16 tahun—batas minimal menurut undang-undang—nekat mengikuti inisiasi secara sembunyi-sembunyi. Kunjungan anggota parlemen ke Eastern Cape pada 2022 menemukan 68 sekolah ilegal berbanding 66 sekolah resmi di satu wilayah.
"Sangat sulit bagi pemerintah memantau sekolah yang tidak terdaftar. Mereka baru diketahui setelah terjadi tragedi," ujar Mluleki Ngomane, pejabat pengawas inisiasi di Gauteng. Investigasi independen juga mengungkap penyalahgunaan narkoba, kekerasan antarpeserta, hingga penculikan anak laki-laki untuk diinisiasi. Motlalepule Mantsha, pimpinan sekolah inisiasi di Phuthaditjhaba, menyesalkan praktik tersebut: "Kami melihat munculnya geng yang ingin memperbesar sekolah inisiasi mereka. Ini merusak citra tradisi."
Sejak 2021, Afrika Selatan mewajibkan sekolah inisiasi memenuhi standar kesehatan dan keselamatan ketat untuk mendapatkan registrasi. Persyaratan meliputi pendaftaran tiga bulan sebelum musim inisiasi, ketersediaan alat bedah yang cukup agar tidak dipakai bergantian, serta pelatihan higiene, pencegahan infeksi, perawatan luka, dan kesadaran HIV bagi "ahli bedah" dan "perawat" tradisional. Meski demikian, penegakan hukum masih lemah. Pada Januari-Februari tahun ini, 46 orang ditangkap terkait sekolah ilegal, termasuk 16 ahli bedah tradisional, 28 perawat tradisional, dan dua orang tua yang diduga memalsukan usia anak. Namun, hanya sedikit kasus yang berujung vonis; pada Februari, seorang pria dihukum dua tahun penjara karena menyunat dua remaja secara ilegal.
Komisi Hak Budaya, Agama, dan Bahasa—lembaga pengawas publik—dalam laporan 2017 menyebutkan bahwa prinsip kesakralan dan kerahasiaan, ditambah lokasi pedesaan yang sulit dijangkau, membuat pengawasan nyaris mustahil. "Pada saat komplikasi terjadi, sudah terlambat untuk penanganan medis," tulis laporan itu. Komisi merekomendasikan pemeriksaan kesehatan awal bagi calon peserta.
Makhanya Vangile, ibu dua anak yang pernah mengikuti inisiasi, mengakui pentingnya tradisi ini namun khawatir dengan praktik di sekolah ilegal. "Di sini, kami punya penjaga dari kepala suku yang memeriksa makanan, kondisi tempat tinggal, dan keamanan. Mereka bisa mencegah anak-anak membawa alkohol, pisau, atau senjata api," katanya. Namun, tidak semua komunitas memiliki pengawasan ketat seperti itu.
Ke depan, pemerintah perlu memperkuat penegakan hukum dan memperluas akses ke sekolah resmi agar tradisi tetap lestari tanpa mengorbankan nyawa generasi muda. Reformasi sistemik, termasuk edukasi masyarakat dan insentif ekonomi, menjadi kunci untuk menekan angka kematian yang terus berulang setiap musim inisiasi.



