Liga Premier Uji Coba Platform Streaming Mandiri di Singapura, Industri Sepak Bola Dunia Menyimak
Baca dalam 60 detik
- Premier League meluncurkan layanan streaming langsung ke konsumen (DTC) bernama Premier League+ di Singapura mulai musim 2026/2027, menandai langkah pertama liga masuk ke bisnis platform digital.
- Singapura dipilih karena kombinasi populasi makmur, infrastruktur teknologi canggih, dan regulasi anti-pembajakan yang ketat, menjadikannya laboratorium ideal untuk model distribusi konten baru.
- Kesuksesan uji coba ini berpotensi mengubah peta negosiasi hak siar global, namun ekspansi ke pasar lain masih terhalang oleh kontrak jangka panjang dengan penyiar tradisional.

Liga Premier Inggris (EPL) akan memulai babak baru dalam distribusi kontennya dengan meluncurkan layanan streaming langsung ke konsumen (DTC) bertajuk Premier League+ di Singapura. Langkah ini, yang mulai berlaku pada musim 2026/2027, tidak hanya mengubah cara penggemar di negara kota itu menikmati pertandingan, tetapi juga menjadi uji coba yang akan diamati ketat oleh industri sepak bola global dan sektor olahraga lainnya.
Keputusan EPL untuk masuk ke bisnis streaming langsung merupakan respons terhadap perlambatan pertumbuhan pendapatan hak siar internasional. Selama ini, liga mengandalkan penjualan hak siar ke berbagai penyiar di seluruh dunia, yang menghasilkan sekitar £2,1 miliar per musim dari luar negeri—lebih besar dibandingkan pendapatan domestik sebesar £1,7 miliar. Namun, tanda-tanda jenuh di pasar memaksa EPL mencari alternatif, mengikuti jejak platform hiburan seperti Netflix dan layanan streaming liga olahraga Amerika Serikat.
Singapura dipilih sebagai lokasi uji coba karena sejumlah faktor strategis. Negara ini memiliki populasi yang relatif kecil namun makmur, dengan tingkat penetrasi internet dan literasi digital yang tinggi. Kecintaan masyarakat terhadap sepak bola Inggris sudah lama terbukti, dan infrastruktur hukum yang kuat terhadap pembajakan konten menjadi nilai tambah yang dicari EPL. Dengan demikian, transisi dari model berlangganan tradisional ke platform digital dianggap relatif mulus.
Meskipun demikian, langkah ini tidak tanpa risiko. Konsumen mungkin enggan menambah satu lagi layanan berlangganan di tengah menjamurnya platform streaming. Beberapa pengamat juga memperingatkan bahwa diskon awal mungkin bersifat sementara, dan harga bisa naik setelah basis pelanggan terbentuk. EPL juga menghadapi keterbatasan konten—tidak seperti Netflix yang menawarkan ribuan judul, Premier League+ hanya menyediakan pertandingan liga.
Dampak dari uji coba ini bisa meluas ke panggung global. Jika respons pasar Singapura positif, EPL berencana memperluas model DTC ke negara lain. Namun, realitasnya tidak sesederhana itu. Di banyak pasar, penyiar tradisional seperti Sky Sports di Inggris telah menjadikan sepak bola sebagai pilar bisnis mereka dan bersedia membayar mahal untuk mempertahankan hak siar. Memutus kontrak semacam itu bisa sangat mahal dan berisiko. Namun, memiliki opsi untuk menjual langsung ke konsumen memberikan EPL posisi tawar yang lebih kuat dalam negosiasi di masa depan.
Langkah EPL ini sejalan dengan tren yang terlihat di liga lain. Ligue 1 Prancis, misalnya, meluncurkan layanan streaming sendiri pada Agustus 2025 setelah kesepakatan dengan DAZN gagal. Namun, belum jelas apakah liga-liga besar Eropa lainnya akan mengikuti jejak serupa dalam waktu dekat.
Yang pasti, dunia olahraga akan mencermati bagaimana penggemar sepak bola di Singapura menyambut Premier League+ musim depan. Keberhasilan atau kegagalan platform ini tidak hanya akan menentukan masa depan distribusi konten EPL, tetapi juga bisa menjadi preseden bagi liga-liga lain yang ingin memotong rantai perantara dan membangun hubungan langsung dengan penggemar.



