Pramono Anung Resmi Jadi Wakil Ketua C40, Jakarta Kian Kokoh di Panggung Iklim Global
Baca dalam 60 detik
- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung terpilih sebagai Wakil Ketua Steering Committee C40 Cities, menempatkan Jakarta sebagai salah satu motor penggerak aksi iklim di kawasan Asia Timur hingga Oseania.
- Peran baru ini memperkuat diplomasi antarkota Jakarta dan membuka peluang kolaborasi langsung dengan hampir 100 kota besar dunia dalam percepatan target net zero emission.
- Kepercayaan global terhadap Jakarta diharapkan mendorong adopsi kebijakan iklim yang lebih inovatif dan inklusif, serta memberikan dampak nyata bagi masyarakat perkotaan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5570649/original/017466900_1777535444-89139acd-21cc-4a80-b9e7-a68980f4d269.jpg)
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, resmi menjabat sebagai Wakil Ketua Steering Committee C40 Cities, sebuah jaringan global yang beranggotakan hampir 100 kota besar dunia. Penunjukan ini tidak hanya menjadi pengakuan atas komitmen Jakarta dalam aksi iklim, tetapi juga menempatkan ibu kota Indonesia sebagai salah satu pemimpin utama di kawasan Asia Timur, Asia Tenggara, dan Oseania (ESEAO).
Dalam keterangan resminya, Pramono menegaskan bahwa posisi ini akan dimanfaatkan untuk memperkuat peran Jakarta sebagai kota global yang mendorong kepemimpinan kolektif menuju emisi nol bersih. “Kami ingin menghadirkan manfaat nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujarnya. Langkah ini sejalan dengan target ambisius Jakarta untuk menjadi kota berkelanjutan yang tangguh terhadap perubahan iklim.
Kepala Biro Kerja Sama Daerah Setda Provinsi DKI Jakarta, Marulina Dewi, menambahkan bahwa kepercayaan dunia terhadap Pramono mencerminkan pengakuan atas kontribusi Jakarta dalam solusi iklim, pembangunan berkelanjutan, dan diplomasi kota. “Pramono akan mewakili suara kawasan ESEAO di tingkat global dan berkolaborasi dengan para pemimpin kota lain untuk mempercepat aksi iklim yang inklusif,” jelas Dewi.
Penunjukan ini juga membuka peluang bagi Jakarta untuk menjadi contoh bagi kota-kota megapolitan lainnya. Dengan populasi yang padat dan tantangan urbanisasi yang kompleks, Jakarta diharapkan dapat menunjukkan bahwa transisi menuju ekonomi hijau dapat dilakukan secara bertahap namun berdampak luas. Kolaborasi antarkota melalui C40 memungkinkan pertukaran praktik terbaik, seperti pengelolaan transportasi rendah karbon, efisiensi energi, dan adaptasi terhadap risiko banjir.
“Momentum ini sekaligus memperkuat posisi Jakarta sebagai mitra penting dalam jejaring kota global untuk membangun masa depan perkotaan yang lebih tangguh, inklusif, dan berkeadilan,” tandas Dewi.
Ke depan, peran strategis Pramono di C40 diharapkan mampu mendorong percepatan implementasi solusi iklim yang tidak hanya berskala lokal, tetapi juga memberikan dampak regional. Dengan dukungan penuh dari pemerintah provinsi, Jakarta siap menjadi pionir dalam diplomasi iklim antarkota dan membuktikan bahwa aksi kolektif dapat menghasilkan perubahan signifikan bagi bumi.



