Jason Collins, Pemain NBA Pertama yang 'Coming Out' sebagai Gay, Meninggal di Usia 47 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Jason Collins, mantan pemain NBA yang menjadi pionir keterbukaan sebagai gay, meninggal dunia pada usia 47 tahun akibat kanker otak glioblastoma stadium 4.
- Ia menghabiskan 13 musim di NBA bersama enam tim berbeda dan mengumumkan identitas seksualnya pada 2013, menginspirasi inklusivitas di dunia olahraga.
- Komisioner NBA Adam Silver mengenang Collins sebagai sosok yang tidak hanya memecahkan hambatan, tetapi juga dikenal karena kebaikan dan kemanusiaannya.

Jason Collins, pemain NBA pertama yang secara terbuka mengakui dirinya gay, meninggal dunia pada usia 47 tahun setelah berjuang melawan kanker otak glioblastoma stadium 4. Berikut fakta kariernya:
| Aspek | Detail |
|---|---|
| Karier NBA | 13 musim (2001β2014) untuk 6 tim: New Jersey Nets, Memphis Grizzlies, Minnesota Timberwolves, Atlanta Hawks, Boston Celtics, Washington Wizards, Brooklyn Nets |
| Rata-rata Statistik | 3,6 poin dan 3,7 rebound per pertandingan |
| Pencapaian | Membawa New Jersey Nets ke Final NBA dua kali (2002, 2003) |
| Momen Bersejarah | Mengumumkan dirinya gay pada 2013, menjadi pemain NBA aktif pertama yang melakukannya |
| Penghargaan Terakhir | Menerima Bill Walton Global Champion Award (2024) secara anumerta |
Jason Collins, mantan pemain Brooklyn Nets dan Atlanta Hawks, meninggal dunia pada Selasa (12/3) akibat kanker otak glioblastoma stadium 4 yang didiagnosis tahun lalu. Keluarganya mengumumkan kabar duka ini melalui pernyataan resmi yang dirilis NBA.
Collins menghabiskan 13 musim di NBA bersama enam tim berbeda. Ia mencatatkan rata-rata 3,6 poin dan 3,7 rebound per pertandingan, serta membantu New Jersey Nets mencapai Final NBA dua kali. Musim terbaiknya adalah 2004-05 bersama Nets dengan rata-rata 6,4 poin dan 6,1 rebound.
Pada 2013, Collins mengumumkan dirinya gay melalui artikel di Sports Illustrated, menjadi pemain NBA aktif pertama yang melakukannya. Langkah berani ini menginspirasi banyak orang dan membuka jalan bagi inklusivitas yang lebih besar di dunia olahraga.
"Jason mengubah hidup dengan cara yang tak terduga dan menjadi inspirasi bagi semua yang mengenalnya dan yang mengaguminya dari jauh," demikian pernyataan keluarga Collins. "Kami bersyukur atas curahan cinta dan doa selama delapan bulan terakhir, serta perawatan medis luar biasa yang diterima Jason."
Pekan lalu, Collins menerima penghargaan perdana Bill Walton Global Champion Award di Green Sports Alliance Summit. Karena kondisinya yang terlalu lemah untuk hadir, saudara kembarnya, mantan pemain NBA Jarron Collins, menerima penghargaan tersebut atas namanya. "Saya memberi tahu saudara saya sebelum saya datang ke sini: Dia pria paling berani dan terkuat yang pernah saya kenal," ujar Jarron Collins saat menerima penghargaan.
Komisioner NBA Adam Silver memberikan penghormatan: "Dampak dan pengaruh Jason Collins melampaui basket. Ia membantu menjadikan NBA, WNBA, dan komunitas olahraga yang lebih luas lebih inklusif dan ramah bagi generasi mendatang. Ia menunjukkan kepemimpinan dan profesionalisme yang luar biasa sepanjang karier NBA-nya selama 13 tahun dan dalam pekerjaannya sebagai Duta NBA Cares. Jason akan dikenang tidak hanya karena memecahkan hambatan, tetapi juga karena kebaikan dan kemanusiaan yang mendefinisikan hidupnya dan menyentuh begitu banyak orang."
Warisan Jason Collins tidak hanya terletak pada statistiknya di lapangan, tetapi pada keberaniannya untuk menjadi diri sendiri di tengah tekanan publik. Langkahnya membuka pintu bagi atlet lain untuk hidup autentik dan mempercepat perubahan budaya di NBA dan olahraga global.
Collins meninggalkan suaminya, Brunson, serta keluarga dan teman-teman yang sangat mencintainya. NBA dan komunitas olahraga dunia kehilangan seorang pionir sejati.



