Festival Film Arab Berlin (ALFILM) Bertahan di Tengah Tekanan Isu Gaza dan Soroti Standar Ganda
Baca dalam 60 detik
- Arab Film Festival Berlin (ALFILM) ke-17 tetap konsisten menyoroti isu Palestina, membuka festival dengan film Palestine 36 untuk mengangkat sejarah perlawanan sebelum peristiwa Nakba.
- Direktur ALFILM, Pascal Fakhry, mengkritik keras sikap standar ganda di festival film Jerman (seperti Berlinale) yang sangat vokal mendukung Ukraina namun membungkam dukungan politik untuk Palestina.
- Festival tahun ini juga menyoroti perang di Sudan yang terlupakan, perkembangan pesat sinema Arab Saudi lewat film Hobal, dan memberikan penghormatan kepada tokoh-tokoh besar sinema Arab yang telah tiada.
Di tengah perdebatan sengit mengenai sikap politik di Eropa, Arab Film Festival Berlin (ALFILM) ke-17 tetap teguh berdiri. Direktur festival, Pascal Fakhry, secara terbuka mengkritik standar ganda yang terjadi di kancah festival film Jerman, dan menegaskan komitmen ALFILM untuk terus menyuarakan narasi Palestina serta berbagai krisis lain di dunia Arab.
Fakta Kunci ALFILM ke-17:
- Waktu Pelaksanaan: 22 hingga 28 April.
- Skala Acara: Menampilkan sekitar 60 film layar lebar, dokumenter, dan film pendek dari seluruh dunia Arab.
- Film Pembuka: Dibuka dengan film Palestine 36 karya sutradara Palestina, Annemarie Jacir. Ini menandai tahun ketiga berturut-turut festival dibuka dengan karya sineas Palestina.
Kritik Tajam terhadap Standar Ganda Berlinale
Fakhry menyoroti krisis yang menimpa Berlinale awal tahun ini, di mana direktur festival Tricia Tuttle hampir kehilangan posisinya karena membiarkan suara pro-Palestina bergema di atas panggung. Fakhry mengkritik identitas Berlinale yang mengaku didorong oleh keterlibatan politik, namun dinilai bersikap sangat tebang pilih.
"Volodymyr Zelensky diundang, namun ketika menyangkut Palestina, festival tersebut tiba-tiba berhenti menjadi politis... Hari ini, tidak ada yang mampu mengambil sikap berani dan mengatakan bahwa apa yang dilakukan pemerintah Jerman tidak dapat diterima, bahwa perang ini adalah genosida," tegas Pascal Fakhry.
Mengangkat Sejarah Sebelum Peristiwa Nakba
Film pembuka Palestine 36 dipilih secara khusus untuk menyoroti pemberontakan Palestina tahun 1936 melawan pemerintahan kolonial Inggris, era di mana institusi Palestina mulai dibongkar dan pendudukan zionis mulai mengakar. Fakhry menjelaskan bahwa narasi konflik sering kali hanya diceritakan sejak peristiwa Nakba (1948), padahal gerakan perlawanan awal sudah terbentuk jauh sebelumnya.
Selain Palestina, festival yang berawal dari inisiatif sukarela pada tahun 2009 ini juga menyoroti krisis kemanusiaan yang terlupakan serta perkembangan pesat sinema di berbagai negara Arab.
| Fokus Program ALFILM Tahun Ini | Detail & Tujuan |
|---|---|
| Sorotan Krisis Sudan | Dikurasi secara khusus oleh seniman Sudan, Talal Afifi. Menampilkan film-film (seperti The Station dan Khasha) serta diskusi arsip untuk menyoroti perang Sudan yang telah memasuki tahun keempat namun sering diabaikan oleh media Eropa dan Arab. |
| Sinema Arab Saudi | Penayangan perdana film Hobal di Berlin. Festival ini menunjukkan dukungan terhadap kebangkitan sinema Saudi yang kini berani mengeksplorasi isu mendalam tentang adat istiadat dan posisi perempuan, bukan sekadar hiburan komersial. |
| Penghormatan (Tribute) | Mengenang aktor Palestina Mohammad Bakri dan sutradara Mesir Daoud Abdel Sayed (keduanya wafat Desember lalu), serta peringatan 100 tahun sutradara legendaris Youssef Chahine. Penata artistik ikonik Onsi Abou Seif juga turut hadir untuk memberikan masterclass. |
Melalui kurasi yang berani dan komprehensif, ALFILM membuktikan bahwa mereka bukan sekadar ruang pemutaran film alternatif. Festival ini telah berevolusi menjadi wadah esensial bagi masyarakat Arab di Jerman untuk mendefinisikan diri mereka sendiri dan mempertahankan kehadiran narasi mereka di panggung internasional secara bermartabat.



