Aktivis Flotila Gaza Bongkar Dugaan Kekerasan Seksual dan Penyiksaan oleh Israel
Baca dalam 60 detik
- Setidaknya 15 aktivis bantuan kemanusiaan melaporkan pelecehan seksual, termasuk pemerkosaan, saat ditahan Israel setelah mencegat flotila menuju Gaza.
- Jerman dan Italia menyatakan keprihatinan serius, dengan Roma membuka penyelidikan atas dugaan penculikan dan kekerasan seksual.
- Laporan ini memperkuat tekanan internasional terhadap Israel setelah video menteri kabinetnya mengejek para tahanan memicu kemarahan global.

Para aktivis pro-Palestina yang ditahan setelah mencoba membawa bantuan ke Gaza melalui jalur laut melaporkan mengalami penyiksaan fisik dan kekerasan seksual selama dalam tahanan Israel. Organisator Global Sumud Flotilla menyatakan sedikitnya 15 orang menjadi korban pelecehan seksual, termasuk pemerkosaan, dan beberapa di antaranya harus dirawat di rumah sakit akibat luka serius.
Insiden ini bermula ketika angkatan laut Israel mencegat 50 kapal yang membawa sekitar 430 relawan di perairan internasional pada Selasa lalu. Para aktivis kemudian dipindahkan ke dua kapal penjara darurat yang dilengkapi kawat berduri dan kontainer pengiriman. Menurut kesaksian yang dihimpun, di salah satu kapal terjadi kekerasan paling brutal, di mana para tahanan dimasukkan ke dalam kontainer gelap, dipukuli, dan disetrum dengan alat kejut listrik.
Mi Hoa Lee, aktivis asal Spanyol, menuturkan dalam sebuah wawancara video bahwa ia dipukuli berulang kali dan disetrum selama lebih dari satu menit hingga hampir kehilangan kesadaran. Ilaria Mancosu dari Italia menambahkan bahwa para tahanan di kapal tersebut menderita patah tulang rusuk dan lengan, serta cedera mata dan telinga akibat setrum. Mereka juga tidak diberi selimut, air bersih, dan dipaksa berlutut berjam-jam setelah tiba di darat.
Pemerintah Israel membantah keras tuduhan tersebut. Juru bicara dinas penjara Israel menyatakan bahwa semua tahanan diperlakukan sesuai hukum dan mendapat perawatan medis yang layak. Namun, pernyataan itu dirilis sebelum rincian tuduhan terbaru dari Global Sumud Flotilla dipublikasikan. Reuters belum dapat memverifikasi klaim-klaim tersebut secara independen.
Sejumlah negara memberikan respons cepat. Jerman menyatakan beberapa warganya cedera dan menganggap tuduhan itu "serius". Italia, melalui sumber hukum di Roma, mengonfirmasi bahwa jaksa sedang menyelidiki kemungkinan tindak pidana penculikan, penyiksaan, dan kekerasan seksual. Para aktivis yang telah kembali ke Italia akan dimintai keterangan dalam beberapa hari ke depan. Perancis melaporkan lima peserta flotila dirawat di rumah sakit di Turki, beberapa dengan patah tulang rusuk dan vertebra, serta adanya tuduhan pemerkosaan.
Tekanan diplomatik semakin meningkat setelah Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, mengunggah video yang mengejek para tahanan yang sedang ditundukkan di penjara. Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, mengatakan ia berkoordinasi dengan mitra-mitra Uni Eropa untuk menjatuhkan sanksi terhadap Ben-Gvir. Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, menyatakan keprihatinan mendalam atas laporan tersebut.
Kasus ini menambah daftar panjang kontroversi seputar perlakuan Israel terhadap aktivis pro-Palestina. Dengan adanya penyelidikan di Italia dan desakan dari Jerman serta Perancis, tekanan terhadap Tel Aviv untuk memberikan penjelasan transparan semakin besar. Ke depannya, kredibilitas Israel dalam menangani isu kemanusiaan dan hak asasi manusia akan kembali diuji di forum internasional.



