Pernyataan Xi Jinping di Beijing yang dilaporkan India Today menunjukkan bahwa China tidak berniat melunakkan posisinya terhadap Taiwan di tahun 2026. Dengan memanfaatkan pertemuan dengan pemimpin oposisi, Xi mencoba mengirimkan pesan ganda: pintu dialog terbuka untuk "Satu China", namun pintu bagi kedaulatan mandiri Taiwan telah terkunci rapat dengan ancaman militer di baliknya.
Di saat perhatian AS terpecah oleh krisis di Selat Hormuz dan Ukraina, Beijing tampak memperkuat narasi domestik dan regionalnya. Ketegasan ini menempatkan tekanan besar bagi pemerintah di Taipei untuk menavigasi ruang antara menjaga demokrasi dan menghindari konfrontasi fisik yang dapat melumpuhkan ekonomi global, mengingat peran sentral Taiwan dalam industri semikonduktor.
β’ Kedaulatan: Reunifikasi dipandang sebagai harga mati bagi integritas teritorial China.
β’ Diplomasi Oposisi: Upaya Beijing memecah suara internal Taiwan melalui jalur partai oposisi.
β’ Konteks Global: Pesan kepada Barat agar tidak mencampuri "urusan dalam negeri" China.
β’ Pesan Utama: "Kemerdekaan adalah jalan buntu; stabilitas hanya bisa dicapai melalui pengakuan Satu China."




