Di Balik Kehangatan Beijing: Putin Pulang Tanpa Kesepakatan Pipa Gas dari Xi
Baca dalam 60 detik
- Kunjungan Vladimir Putin ke Beijing dihiasi sambutan meriah, namun gagal menghasilkan kontrak final untuk proyek pipa gas Power of Siberia 2.
- China cenderung menahan diri demi menghindari ketergantungan energi berlebih pada Rusia, meski kedua pemimpin menonjolkan retorika persahabatan strategis.
- Ketiadaan kesepakatan pipa menggarisbawahi batas nyata dalam kemitraan Rusia-China yang kerap digambarkan tanpa celah.

Kunjungan kenegaraan Presiden Rusia Vladimir Putin ke China pekan ini menyuguhkan tontonan diplomatik yang penuh simbolisme. Dari alunan lagu klasik Rusia Moscow Nights yang dimainkan marching band militer China hingga sapaan akrab “sahabatku” dari Presiden Xi Jinping, panggung Beijing seolah ingin menegaskan kedekatan dua negara adidaya itu. Namun di balik kemeriahan tersebut, hasil konkret justru mandek: proyek pipa gas strategis Power of Siberia 2 gagal mencapai kata sepakat.
Proyek pipa yang direncanakan membawa gas alam dari Siberia Barat ke China utara melalui Mongolia ini menjadi salah satu agenda utama Kremlin. Bagi Moskow, jalur suplai baru itu krusial untuk menggantikan pasar Eropa yang hilang akibat sanksi perang Ukraina. Meski nota kesepahaman telah diteken tahun lalu, Beijing menunjukkan sikap hati-hati. Selain soal harga, sejumlah pengamat menilai China enggan terlalu bergantung pada bahan bakar fosil Rusia di tengah transisi energi domestiknya.
Retorika publik kedua pemimpin memang penuh pujian. Putin dan Xi sama-sama mengecam kebijakan nuklir AS serta rencana perisai rudal Golden Dome ala Donald Trump. Media pemerintah Rusia bahkan memajang foto perbandingan: Trump yang tampak sendirian menaiki tangga Air Force One bersebelahan dengan gambar lama Putin dan Xi berjalan berdampingan. Pesan visual itu jelas: Rusia dan China bersatu di panggung global. Namun, seperti diakui surat kabar yang sama, “posisi Rusia dan China tidak identik. Kepentingan mereka tidak selalu selaras.”
Kegagalan mencapai kesepakatan pipa bukanlah kejutan bagi para pejabat Rusia. Mereka sadar bahwa China, dengan mentalitas negara besar yang sama, tidak akan mudah meneken kontrak yang merugikan kepentingan nasionalnya. Kremlin hanya bisa menyatakan bahwa kedua pihak telah mencapai “pemahaman umum tentang parameter” proyek—sebuah frasa yang jauh dari komitmen mengikat.
Perbandingan dengan momen “bromance” Putin-Trump di masa lalu pun tak terelakkan. Setelah pertemuan di Alaska tahun lalu, pejabat Rusia ramai menyebut “semangat Anchorage” dan mengisyaratkan kesepahaman dengan Washington untuk mengakhiri perang Ukraina. Kenyataan berkata lain: perang terus berlangsung, dan “semangat Anchorage” kini tinggal kenangan. Penasihat kebijakan luar negeri Putin, Yuri Ushakov, dengan tegas membedakan: “Semangat Beijing itu ada. Tapi semangat Anchorage? Saya tidak pernah menggunakan frasa itu.”
Ke depan, hubungan Rusia-China kemungkinan akan terus dihiasi kerja sama di forum multilateral dan retorika anti-Barat, namun keputusan bisnis strategis seperti pipa gas akan tetap berlandaskan perhitungan pragmatis. China tidak akan mengorbankan fleksibilitas energinya hanya demi solidaritas geopolitik. Bagi Putin, pelajaran dari Beijing kali ini adalah bahwa persahabatan sedekat apa pun tidak otomatis menghasilkan kontrak.



