Penjualan Senjata AS ke Taiwan Ditunda Demi Pasokan Perang Iran, Akui Pejabat Angkatan Laut
Baca dalam 60 detik
- Penundaan paket senjata senilai $14 miliar ke Taiwan dikonfirmasi oleh Penjabat Sekretaris Angkatan Laut AS, Hung Cao, demi memenuhi kebutuhan operasi militer bersama AS-Israel di Iran.
- Presiden Trump sebelumnya menyebut kesepakatan itu sebagai alat tawar yang efektif dengan China, namun belum memberikan persetujuan final setelah pertemuan dengan Presiden Xi Jinping.
- Taiwan mengaku belum menerima pemberitahuan resmi terkait penundaan ini, sementara Beijing terus mengecam penjualan senjata AS ke pulau yang diklaimnya sebagai wilayah sendiri.

Penjabat Sekretaris Angkatan Laut Amerika Serikat, Hung Cao, mengungkapkan bahwa negaranya untuk sementara waktu menghentikan penjualan paket persenjataan senilai $14 miliar (sekitar Rp 224 triliun) ke Taiwan. Langkah ini diambil guna memastikan ketersediaan amunisi bagi operasi militer bersama AS-Israel di Iran, yang dikenal dengan sandi Epic Fury.
Pernyataan Cao disampaikan dalam sidang Komite Angkatan Bersenjata Senat pada Kamis (13/3). Ia menegaskan bahwa penghentian ini bersifat sementara dan penjualan akan dilanjutkan kembali ketika pemerintah AS menilai situasi sudah memungkinkan. "Kami hanya memastikan semua kebutuhan terpenuhi, tetapi penjualan militer ke luar negeri akan berjalan lagi saat administrasi menganggap perlu," ujar Cao.
Keputusan ini muncul setelah Presiden Donald Trump sebelumnya terkesan ragu-ragu mengenai nasib paket senjata tersebut. Dalam wawancara dengan Fox News, Trump menyebut kesepakatan itu sebagai "alat tawar yang sangat baik" dengan China. Ia juga mengindikasikan akan mengambil keputusan dalam waktu dekat, setelah melakukan pembahasan mendetail dengan Presiden China Xi Jinping dalam pertemuan puncak di Beijing.
Kantor kepresidenan Taiwan menyatakan pada Jumat (14/3) bahwa mereka belum menerima informasi apa pun mengenai penyesuaian penjualan senjata oleh AS. Juru bicara kepresidenan menegaskan bahwa Taiwan terus memantau perkembangan ini. Pemimpin Taiwan, Lai Ching-te, sebelumnya menekankan bahwa penjualan senjata AS merupakan faktor kunci dalam menjaga stabilitas dan perdamaian regional.
Penjualan senjata AS ke Taiwan telah lama menjadi sumber ketegangan dengan China. Beijing menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak menutup kemungkinan menggunakan kekuatan untuk menyatukannya. Kementerian Luar Negeri China sebelumnya menyatakan bahwa penjualan senjata AS akan "mempercepat dorongan menuju situasi berbahaya dan penuh kekerasan di Selat Taiwan."
Trump juga menyebut kemungkinan berbicara langsung dengan Lai Ching-te mengenai penjualan ini, sebuah langkah yang akan menjadi penyimpangan tajam dari tradisi diplomatik dan berpotensi memicu kemarahan Beijing. Selama beberapa dekade, pemimpin AS dan Taiwan tidak melakukan komunikasi langsung, meskipun Trump pernah berbicara dengan pendahulu Lai, Tsai Ing-wen, saat ia menjadi presiden terpilih.
Di bawah kepemimpinan Lai, Taiwan secara signifikan meningkatkan belanja pertahanannya sebagai respons terhadap tekanan militer China yang semakin besar. Penundaan ini menimbulkan tanda tanya mengenai komitmen AS terhadap keamanan Taiwan di tengah prioritas geopolitik yang bergeser.



