Studi Baru: Konsumsi Daging Berkaitan dengan Penurunan Risiko Demensia pada Pembawa Gen Alzheimer
Baca dalam 60 detik
- Temuan Mengejutkan: Sebuah penelitian di Swedia menemukan bahwa orang dengan gen risiko tinggi Alzheimer memiliki penurunan kognitif yang lebih lambat jika mereka mengonsumsi lebih banyak daging.
- Kualitas Menentukan: Penelitian ini juga menegaskan bahwa mengonsumsi proporsi daging yang tidak diproses dikaitkan dengan risiko demensia dan kematian yang lebih rendah dibandingkan dengan daging olahan.
- Peringatan Medis: Para pakar menekankan bahwa studi ini bersifat observasional sehingga tidak membuktikan hubungan sebab akibat langsung dan perlunya pendekatan nutrisi yang disesuaikan secara personal.

Sebuah studi observasional terbaru dari Swedia mengungkapkan temuan yang cukup mengejutkan mengenai hubungan antara pola makan dan kesehatan otak. Penelitian ini menunjukkan bahwa orang yang memiliki risiko genetik tinggi terhadap penyakit Alzheimer mungkin justru mendapatkan manfaat perlindungan kognitif dari konsumsi daging dalam jumlah yang lebih tinggi.
Selama ini, panduan diet konvensional untuk mencegah penurunan kognitif di usia lanjut sering kali merekomendasikan diet nabati (berbasis tumbuhan) dan membatasi asupan daging. Namun, penelitian yang diterbitkan di jurnal medis bergengsi JAMA Network Open ini mengisyaratkan bahwa saran diet umum tersebut mungkin tidak berlaku secara universal, terutama bagi individu dengan profil genetika tertentu.
- Fokus Genetik: Penelitian ini menyoroti individu dengan varian gen APOE 3/4 dan APOE 4/4 (faktor genetik terkuat untuk risiko perkembangan penyakit Alzheimer).
- Metode: Melibatkan 2.157 orang dewasa berusia di atas 60 tahun di Stockholm, Swedia, yang dipantau hingga 15 tahun.
- Hasil Temuan: Konsumsi daging yang tinggi (sekitar 870 gram per minggu) pada pembawa varian gen ini tidak menunjukkan peningkatan risiko demensia, melainkan penurunan risiko yang signifikan dibandingkan pembawa gen yang makan lebih sedikit daging.
- Kualitas Daging: Daging merah segar yang tidak diproses (unprocessed red meat) memberikan perlindungan kognitif yang lebih baik dan dikaitkan dengan risiko kematian yang lebih rendah.
Dr. Jakob Norgren, penulis utama studi dari Karolinska Institutet, berspekulasi bahwa varian genetik APOE4 adalah varian gen yang tertua secara evolusioner. Gen ini kemungkinan besar berkembang pada periode ketika nenek moyang manusia mengonsumsi pola makan yang jauh lebih banyak berbasis hewani.
Meskipun hasil ini membuka peluang baru bagi personalisasi pencegahan medis, para pakar neurologi mengingatkan bahwa penelitian ini masih bersifat observasional. Hal ini berarti studi tersebut tidak membuktikan bahwa makan daging adalah penyebab langsung dari penurunan risiko demensia. Faktor penyerta lain seperti status sosial ekonomi dan kebiasaan gaya hidup sehat secara keseluruhan juga sangat memengaruhi hasil tersebut.
| Kondisi Varian Gen & Pola Makan | Tingkat Risiko Terhadap Demensia / Alzheimer |
|---|---|
| APOE 3/4 dan 4/4 dengan konsumsi daging rendah | Memiliki risiko demensia dua kali lipat lebih tinggi. |
| APOE 3/4 dan 4/4 dengan konsumsi daging tinggi | Penurunan kognitif lebih lambat dan risiko demensia yang lebih rendah. |
| Seluruh Genotipe (Daging Olahan vs Segar) | Proporsi daging olahan yang rendah dalam konsumsi harian tetap dikaitkan dengan risiko demensia yang lebih rendah secara umum. |



