Perlawanan Valve: "Loot Box Adalah Koleksi, Bukan Judi," Sebut Valve dalam Respons Gugatan New York
Baca dalam 60 detik
- Valve merespons gugatan Jaksa Agung New York terkait loot box pada Maret 2026.
- Valve menyamakan kotak misteri dengan kartu bisbol dan menolak tuduhan perjudian.
- Perusahaan menolak keras tuntutan untuk menghapus fitur trading barang digital antar pengguna.

Ketegangan antara raksasa platform gaming Valve dan otoritas hukum Amerika Serikat mencapai puncaknya. Berdasarkan laporan dari Game Rant per Rabu (11/3/2026), Valve secara resmi merilis pernyataan publik yang gahar sebagai tanggapan atas gugatan Jaksa Agung New York, Letitia James. Valve dengan tegas menolak tuduhan bahwa sistem loot box dalam game seperti Counter-Strike 2 dan Dota 2 merupakan bentuk perjudian ilegal, melainkan menyamakannya dengan hobi koleksi fisik yang sudah ada selama beberapa generasi.
Dalam pernyataannya, Valve mengungkapkan kekecewaannya terhadap langkah hukum yang diambil setelah sebelumnya mencoba "mendidik" pihak Kejaksaan Agung mengenai mekanisme ekonomi barang virtual sejak tahun 2023. Di tahun 2026, di mana regulasi mikrotransaksi semakin ketat, Valve berargumen bahwa kotak misteri mereka memiliki prinsip yang sama dengan kartu bisbol atau mainan blind box populer seperti Labubuโdi mana pembeli mendapatkan barang yang bisa dikoleksi atau diperdagangkan. Valve juga menolak keras tuntutan untuk menghapus fitur transferabilitas barang, menyebut bahwa kemampuan pengguna untuk menukar barang digital adalah hak konsumen yang sangat gahar dan harus dipertahankan.
Valve membedah argumen mereka untuk melawan tuduhan perjudian ilegal di pengadilan New York:
- Analogi Koleksi Fisik: Valve menyamakan pembukaan case dengan membeli paket kartu Pokรฉmon atau kartu bisbol di dunia nyata.
- Sifat Kosmetik: Menegaskan bahwa barang dalam kotak hanyalah kosmetik dan tidak memberikan keuntungan kompetitif dalam permainan.
- Menolak Perubahan Radikal: Valve menolak keras permintaan jaksa untuk mengumpulkan data pribadi pengguna secara lebih invasif dan menghapus fitur trading.
- Pemberantasan Judi Pihak Ketiga: Valve mengklaim telah menutup lebih dari satu juta akun yang terlibat dalam situs judi pihak ketiga sebagai bukti proaktif mereka.
Gugatan ini merupakan tantangan hukum terbesar bagi Valve di tahun 2026, yang juga mencakup tuduhan bahwa platform mereka menargetkan anak-anak dan remaja melalui mekanisme yang adiktif. Jika Valve kalah, hal ini dapat memaksa perubahan besar pada struktur ekonomi Steam dan cara pengembang game mengimplementasikan monetisasi secara global. Namun, Valve menyatakan lebih memilih untuk membiarkan pengadilan memutuskan daripada menerima kesepakatan yang dianggap akan merusak inovasi desain game dan merugikan komunitas pengguna setia mereka.
"Transferabilitas adalah hak yang kami percaya tidak boleh direnggut dari pengguna, dan kami menolak untuk melakukan itu." โ Valve Statement.



