Kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi ke Israel di penghujung Februari 2026 berakhir dengan pesan yang bergema kuat di koridor diplomasi internasional. India kini secara terbuka memposisikan diri sebagai pilar penyeimbang di tengah gejolak Timur Tengah.
Dalam pidato perpisahannya, PM Modi memberikan penekanan khusus pada kolaborasi keamanan antara India dan Israel. Ia menyatakan bahwa tantangan terorisme bersifat universal dan tidak mengenal batas negara, sehingga menuntut respons kolektif yang tegas. Namun, yang menarik perhatian para analis adalah dukungannya yang eksplisit terhadap "Rencana Perdamaian Gaza" yang sedang diupayakan. Dukungan ini dianggap sebagai langkah strategis New Delhi untuk menjaga hubungan baik dengan dunia Arab sekaligus mempertahankan aliansi eratnya dengan Tel Aviv. Di tahun 2026, peran India sebagai "Suara Global South" memberikan bobot tambahan bagi setiap inisiatif perdamaian di kawasan tersebut.
Poin Penting Doktrin Modi di Israel:
- Zero Tolerance: Penegasan kembali bahwa tidak ada justifikasi politik atau agama bagi tindakan terorisme, menyelaraskan narasi keamanan India dengan Israel.
- Dukungan Rekonstruksi: Modi mengisyaratkan kesiapan India untuk berkontribusi dalam bantuan kemanusiaan dan pembangunan infrastruktur di Gaza pasca-konflik.
- Teknologi Pertahanan: Kesepakatan baru mengenai pengembangan bersama (co-development) sistem pertahanan udara dan siber generasi terbaru.
Secara objektif, keberhasilan diplomasi Modi terletak pada kemampuannya merangkul Israel tanpa mengalienasi kepentingan energi dan tenaga kerja India di negara-negara Arab. Dengan mendukung rencana perdamaian Gaza, Modi memberikan ruang bernapas bagi diplomasi internasional untuk bekerja. Di tengah ketidakpastian keamanan tahun 2026, stabilitas hubungan India-Israel menjadi salah satu jangkar penting bagi perdagangan dan kerja sama teknologi di koridor ekonomi India-Timur Tengah-Eropa (IMEC).




