Menjelang pertemuan krusial di Jenewa, atmosfer diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat bukan mendingin, melainkan justru semakin membara.
Teheran telah mengirimkan sinyal yang sangat jelas kepada Gedung Putih: mereka tidak akan datang ke Jenewa dengan bendera putih. Dalam pengarahan pers terbaru, juru bicara luar negeri Iran menekankan bahwa ancaman militer yang dilontarkan Donald Trump hanya akan memperumit jalannya perundingan. Bagi Iran, kedaulatan nasional tidak bisa ditawar, terutama terkait kapasitas pertahanan rudal dan riset nuklir mereka.
Poin Utama Perdebatan Pra-Jenewa:
- Syarat Pencabutan Sanksi: Iran menuntut pembatalan segera sanksi sektor energi sebelum pembicaraan teknis dimulai secara mendalam.
- Verifikasi Nuklir: Washington menginginkan akses tanpa batas ke situs militer sensitif, sebuah tuntutan yang secara historis selalu ditolak oleh Garda Revolusi Iran.
- Stabilitas Regional: Trump berkeras agar agenda perundingan mencakup aktivitas milisi proksi Iran di Lebanon dan Yaman, sementara Teheran bersikeras hanya membahas isu nuklir.
Pertemuan di Jenewa ini dipandang sebagai ujian pertama bagi kebijakan luar negeri administrasi Trump di periode keduanya terhadap Timur Tengah. Hasil dari perundingan ini tidak hanya akan menentukan arah ekonomi Iran, tetapi juga stabilitas harga minyak dunia di sepanjang tahun 2026. Dunia kini menanti apakah diplomasi akan menang, ataukah kebuntuan ini akan menjadi awal dari eskalasi militer yang lebih luas.




