Di Balik 'Pedestrian' Resident Evil: Wētā Ungkap Trik Visual yang Bikin Monster Itu Terasa Nyata
Baca dalam 60 detik
- Wētā Workshop menegaskan monster Pedestrian di film Resident Evil sepenuhnya dibuat dengan CGI, bukan efek praktis seperti yang diasumsikan warganet dari video viral.
- Pendekatan desain yang tidak simetris dan penambahan tubuh ketiga membuat siluet monster lebih organik dan mengerikan.
- Transformasi Bryan menjadi monster setinggi 2,6 meter menegaskan strategi Wētā memadukan akting aktor dengan animasi digital untuk hasil maksimal.

Wētā Workshop membantah anggapan publik bahwa monster berputar bernama Pedestrian dalam film Resident Evil arahan Zach Cregger dibuat secara praktis. Video uji gerak yang memperlihatkan sejumlah akrobat terikat pinggang dan berguling-guling sempat viral, memicu spekulasi bahwa adegan itu dihasilkan dari properti fisik dengan sedikit sentuhan CGI. Namun, supervisor efek visual Kevin Smith menegaskan bahwa rekaman tersebut hanyalah eksplorasi awal, bukan hasil akhir yang dipakai di layar lebar.
"Kami semua sudah melihat uji gerak itu. Itu hanya eksplorasi ide. Memang keren bisa mengikat orang lalu membuat mereka berguling, tapi jelas ada batasan. Anda tidak akan pernah memakai itu di film," kata Smith, seperti dikutip Polygon. Ia menjelaskan bahwa pertanyaan sesungguhnya adalah bagaimana wujud monster itu jika tanpa batasan fisik dari para pemain sirkus.
Smith, yang bergabung dengan Wētā sejak 2000 untuk The Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring, bersama animation supervisor Eric Reynolds dan VFX producer Janet Walters, membeberkan proses di balik Pedestrian dan sejumlah monster lain di Raccoon City. Salah satu keputusan kunci adalah menghindari komposisi tubuh yang terlalu rapi. Reynolds menyebut bahwa dalam video uji, tubuh-tubuh terikat secara simetris, sehingga monster tampak terlalu normal. Wētā kemudian menyusun ulang tubuh-tubuh itu dengan sudut yang berbeda-beda agar terlihat lebih tidak alami.
Perubahan lain yang signifikan adalah penambahan tubuh ketiga pada kemunculan perdana Pedestrian. Awalnya, creature ini hanya terdiri dari dua tubuh—petani dan perempuan—tetapi setelah melalui serangkaian uji, tim memutuskan menambahkan sosok gadis agar siluetnya makin sulit dilacak. "Semakin banyak tubuh, semakin menyeramkan," ujar Reynolds. Keputusan ini juga memperkuat kesan gerakan berguling yang hipnotik, sesuai visi Cregger yang menginginkan monster itu benar-benar berguling, bukan sekadar berjalan.
Selain Pedestrian, adegan lain yang menyita perhatian adalah kemunculan "Fat Man", monster botak raksasa yang duduk diam di saluran pembuangan sebelum perutnya meledak dan mengeluarkan ratusan tikus mutan. Berbeda dengan Pedestrian, Fat Man dibuat sebagai properti fisik raksasa oleh Legacy Effects dan desainer creature Shane Mahan. Namun, tikus-tikus yang keluar dari perutnya sepenuhnya digital. Walters menjelaskan bahwa proses menggabungkan properti fisik dengan elemen CGI memungkinkan animasi tikus, robeknya kulit, dan cipratan darah menjadi lebih mudah dikendalikan.
Smith sendiri mengaku terkesan dengan skala Fat Man. "Tinggi saya sekitar enam kaki, dan saat berdiri di sampingnya, kepala kami sejajar—padahal monster itu sedang duduk. Jika berdiri, tingginya bisa mencapai delapan setengah kaki. Ada empat orang di dalamnya yang mengendalikan," kenangnya.
Transformasi Bryan (Austin Abrams) menjadi monster juga menjadi tantangan tersendiri. Di akhir film, Bryan berubah menjadi makhluk dengan lengan tentakel, satu mata besar merah, dan mulut penuh gigi tajam di perutnya. Reynolds mengungkapkan bahwa monster ini dibangun di atas kerangka tubuh Austin, tetapi diperbesar hingga sekitar 2,6 meter agar tampak mengintimidasi. "Kepala Austin di monster itu sengaja dibuat lebih besar karena semuanya diperbesar secara seragam. Dia aktor yang tidak tinggi, dan lawannya lebih tinggi. Jadi kami sedikit 'curang'," akunya.
Momen paling dramatis terjadi ketika Bryan seolah bertarung melawan versi monsternya sendiri, terutama saat memperebutkan syringe berisi antidotum. Reynolds menggambarkan bagaimana tubuh Bryan terus-menerus ditarik ke arah berlawanan oleh monster yang tidak menginginkan obat itu. "Dia selalu meraih syringe, dan monster itu berusaha menepisnya. Dia seperti terperangkap dalam tubuhnya sendiri, ditarik menjauh dari obat oleh kakinya sendiri karena dia sudah kehilangan kendali," jelasnya.
Keberhasilan Wētā meramu efek praktis dan CGI dalam Resident Evil menunjukkan bahwa batas antara keduanya kian kabur. Penonton memang cenderung memuji efek praktis sebagai lebih "nyata", tetapi seperti diakui Smith, adegan-adegan paling ikonik justru lahir dari kebebasan digital yang memungkinkan eksplorasi bentuk di luar hukum fisika. Film ini kini tersedia untuk disewa atau dimiliki secara digital, dan bagi industri efek visual Indonesia, pendekatan hibrida semacam ini bisa menjadi pelajaran berharga.
Ke depan, makin banyak studio mungkin akan meninggalkan pendekatan murni praktis atau murni digital dan beralih ke kolaborasi keduanya. Pertanyaannya, akankah penonton semakin sulit membedakan mana yang nyata dan mana yang animasi—dan apakah itu akan mengubah cara kita menikmati horor?



