Tape to Tape: Saat Gim Hoki Arcade Menantang Dominasi Microtransaction
Baca dalam 60 detik
- Tape to Tape, gim hoki roguelike yang dikembangkan secara independen, resmi rilis penuh setelah sukses di early access sejak 2023.
- Gim ini menawarkan pengalaman membangun tim layaknya FUT atau MyTeam, tetapi tanpa transaksi mikro—semua konten terbuka lewat progres permainan.
- Kehadirannya di PS5, Xbox, Switch, dan Steam seharga US$19,99 menjadi alternatif di tengah gim olahraga besar yang kian bergantung pada pembelian dalam aplikasi.

Di tengah gempuran gim olahraga yang berlomba mengejar realisme dan pendapatan dari pembelian dalam aplikasi, sebuah judul independen bernama Tape to Tape justru menempuh jalur berbeda. Gim hoki es bergaya arcade ini resmi meninggalkan fase early access dan siap bersaing di pasar konsol serta PC dengan harga US$19,99—sebuah tawaran langka di kategori yang didominasi perusahaan raksasa.
Sejak pertama kali muncul dalam versi beta pada 2023, Tape to Tape memang tidak pernah menjadi sorotan utama. Namun perlahan tapi pasti, gim ini mengumpulkan basis penggemar hingga menjadi fenomena viral di kalangan komunitas gim independen. Keputusan untuk merilis versi final pun disambut antusias, terutama karena gim ini menawarkan formula yang sulit ditemukan di pasar saat ini: keseruan murni tanpa embel-embel monetisasi agresif.
Alih-alih menyajikan simulasi pertandingan yang rumit, Tape to Tape melempar pemain ke dalam dunia absurd di mana hoki es telah dilarang dan digantikan oleh golf. Pemain ditugaskan merakit tim dari para pemain pinggiran, menjelajahi tiga pulau, dan menghadapi beragam karakter unik untuk mengembalikan kejayaan hoki. Ceritanya sederhana, tetapi eksekusinya yang membuat gim ini terasa istimewa.
Setiap sesi permainan dirancang agar tidak pernah terasa sama. Pemain dapat membangun tim dengan fokus pada peluang kritikal, seperti dalam gim peran (RPG), atau beralih ke strategi menyerang yang mengandalkan tabrakan dan cedera lawan. Kombinasi dari puluhan kemampuan pasif dan aktif memungkinkan setiap pemain menciptakan gaya bermain yang khas. Ketika strategi yang tepat bertemu dengan keberuntungan, permainan pun mengalir dengan memuaskan.
Menariknya, lawan dalam gim ini kerap bermain curang—dan itu memang disengaja. Ada tim wasit yang mendapat bantuan dari wasit itu sendiri, tahanan yang membelenggu kaki pemain, hingga tim Kanada yang gemar membalas dendam. Semua keanehan ini bukanlah cacat, melainkan bagian dari daya tarik yang membuat Tape to Tape sulit diletakkan.
“Separuh keseruan berasal dari menemukan berbagai peningkatan liar yang tersembunyi,” demikian kesan yang muncul dari pengalaman bermain, menggambarkan bagaimana kejutan menjadi elemen inti.
Dari sisi mekanika, Tape to Tape jelas bernostalgia ke era keemasan gim arcade. Kontrolnya sederhana, hanya dengan beberapa tombol, dan tidak ada trik rumit. Pertandingan berlangsung chaos: tidak ada aturan icing atau penalti, sementara perkelahian justru mengubah seluruh lapangan es menjadi arena baku hantam. Siapa pun yang kalah dalam perkelahian akan mendapat penalti—sebuah sentuhan lucu yang menegaskan bahwa gim ini tidak berniat serius.
Perbandingan dengan gim olahraga modern pun tak terhindarkan. EA Sports FC dengan mode Ultimate Team-nya, Madden NFL, dan NBA 2K lewat MyTeam, semuanya menawarkan sensasi membangun tim yang adiktif, tetapi kerap kali diikuti dengan dorongan untuk membeli paket pemain menggunakan uang sungguhan. Tape to Tape menghadirkan sensasi serupa tanpa meminta pemain merogoh kocek tambahan. Semua konten terbuka seiring dengan semakin seringnya pemain memainkan gim.
Bagi pasar Indonesia, kehadiran gim seperti ini bisa menjadi angin segar. Di tengah mahalnya harga gim AAA dan menjamurnya model free-to-play yang sarat transaksi mikro, Tape to Tape menawarkan pengalaman lengkap dengan harga terjangkau. Gim ini juga tersedia di berbagai platform, termasuk Nintendo Switch, sehingga cocok untuk dimainkan bersama teman di rumah. Meski hoki es bukanlah olahraga populer di Indonesia, gaya permainan arcade yang sederhana membuatnya mudah dinikmati siapa saja.
Ke depannya, kesuksesan Tape to Tape memunculkan pertanyaan: akankah gim olahraga independen lain mengikuti jejak serupa dan menantang dominasi model bisnis yang ada? Ataukah gim ini hanya akan menjadi nostalgia sesaat di tengah industri yang terus menuntut pertumbuhan pendapatan? Jawabannya akan bergantung pada seberapa besar pasar menerima formula permainan yang jujur dan menyenangkan tanpa jebakan monetisasi.



