Zero Parades: Director's Cut Resmi Meluncur di Konsol, RPG Terbaik 2026 Kini Lebih Mudah Diakses
Baca dalam 60 detik
- Zero Parades: Director's Cut akhirnya hadir di Nintendo Switch 2, PS5, dan Xbox Series X setelah sebelumnya eksklusif di PC.
- Game ini menawarkan narasi spionase yang kelam dengan sistem RPG berbasis dadu, disebut sebanding bahkan melampaui Disco Elysium dalam beberapa momen.
- Peluncuran ini memperluas jangkauan ZA/UM di pasar konsol dan berpotensi mengubah peta persaingan RPG naratif menjelang musim penghargaan akhir tahun.

Setelah hampir setahun menjadi eksklusif PC, Zero Parades: For Dead Spies akhirnya menyapa pemain konsol melalui edisi Director's Cut yang dirilis untuk Nintendo Switch 2, PlayStation 5, dan Xbox Series X. Langkah ini menandai babak baru bagi RPG naratif besutan ZA/UM tersebut, sekaligus menjawab penantian panjang penggemar genre yang enggan bermain di komputer.
Kehadiran Zero Parades di konsol bukan sekadar porting biasa. Edisi ini membawa konten tambahan yang memperkaya alur cerita, meski game dasar sudah tergolong lengkap. Keputusan ekspansi ke platform lain ini tampak strategis mengingat rekam jejak ZA/UM yang sebelumnya sukses besar dengan Disco Elysium, sebuah titel yang nyaris identik dengan PC. Kini, ZA/UM seolah ingin membuktikan bahwa karya mereka mampu bersaing di pasar konsol yang didominasi game aksi dan open-world.
Namun, perjalanan Zero Parades tidak lepas dari bayang-bayang kontroversi. Pengembangan game ini sempat diwarnai gejolak internal, termasuk pemutusan hubungan kerja setelah peluncuran versi PC. Meski demikian, kualitas tulisan dan desain permainan berhasil menutupi cela. Banyak pengamat menilai Zero Parades sebagai salah satu RPG paling berani dalam beberapa tahun terakhir, dengan narasi yang berani mengangkat tema kegagalan personal dan pengkhianatan.
Dari sisi mekanik, Zero Parades setia pada formula yang membuat Disco Elysium dicintai: narator yang menggambarkan konflik batin tokoh utama, karakter-karakter eksentrik di kota fiksi Portofiro, serta gaya seni lukis yang khas. Pemain berperan sebagai Hershel Wilk, agen rahasia yang jatuh harga diri setelah operasi sebelumnya berantakan. Alih-alih menjadi mata-mata mumpuni ala James Bond, Hershel justru sering gagal dan harus menebus kesalahannya kepada rekan-rekan yang ia khianati.
Premis tersebut menjelma menjadi komedi tragis yang memikat. Setiap keputusan, baik berhasil maupun gagal dalam lemparan dadu, memiliki konsekuensi emosional. Pemain diajak merenung tentang arti pengampunan, kesetiaan, dan harga dari sebuah pengkhianatan. Tidak heran jika banyak kritikus menyebut Zero Parades sebagai game yang sulit dilupakan, bahkan setelah tamat.
"Kekuatan cerita datang dari fakta bahwa pekerjaan besar terakhir Hershel berakhir bencana. Sayangnya, ia tidak bisa menyelesaikan misi barunya tanpa mendapatkan kembali kepercayaan dari para agen yang ia khianati dalam operasi itu," tulis Polygon dalam ulasannya.
Bagi industri game Indonesia, peluncuran Zero Parades di konsol bisa menjadi cermin betapa pentingnya narasi kuat dalam sebuah RPG. Meski pasar domestik masih didominasi game mobile dan esports, kehadiran titel seperti ini di platform arus utama membuka peluang bagi pengembang lokal untuk bereksperimen dengan cerita yang lebih dalam. Apalagi, komunitas RPG naratif di Indonesia cukup aktif, terutama di kalangan penggemar Disco Elysium dan visual novel.
Dengan dirilisnya Director's Cut, Zero Parades kini berpeluang menjangkau audiens yang lebih luas, termasuk mereka yang sebelumnya ragu membeli karena keterbatasan platform. Pertanyaannya, akankah langkah ini cukup untuk mengantarkan game tersebut ke jajaran RPG terbaik tahun ini? Musim penghargaan akhir tahun akan menjadi ajang pembuktian, dan persaingan dengan titel-titel besar lain diprediksi memanas.



