FBI Peringatkan Modus Baru Penipuan Kartu Pokémon, Pedagang dan Kolektor Diminta Waspada
Baca dalam 60 detik
- FBI Newark mengungkap skema penipuan kartu Pokémon yang menyasar toko kartu lokal, dengan kerugian mencapai ribuan dolar.
- Pelaku menggunakan aplikasi ponsel yang menyimpan banyak nomor kartu kredit curian untuk memproses pembayaran palsu.
- Kolektor diimbau berhati-hati saat membeli dari reseller, terutama jika harga terlalu murah, karena kartu palsu semakin sulit dibedakan.

FBI melalui kantor Newark, New Jersey, mengeluarkan peringatan resmi tentang gelombang penipuan yang menargetkan toko kartu Pokémon dan pedagang kartu koleksi. Dalam beberapa pekan terakhir, setidaknya tujuh toko dilaporkan menjadi korban skema yang memungkinkan pelaku mendapatkan kartu bernilai tinggi tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Peringatan ini muncul setelah sebelumnya FBI mengumumkan investigasi atas pencurian kartu Pokémon terbesar dalam sejarah, menandakan bahwa industri kartu koleksi yang bernilai miliaran dolar kini menjadi sasaran empuk kejahatan finansial.
Modus pertama yang diungkap FBI melibatkan pembayaran nirsentuh melalui ponsel. Pelaku berpura-pura membayar dengan metode contactless, namun transaksi sengaja dibuat gagal. Mereka kemudian meminta kasir memasukkan nomor kartu kredit secara manual. Pembayaran memang berhasil, tetapi beberapa minggu kemudian pihak toko menerima laporan bahwa transaksi tersebut menggunakan kartu kredit curian atau telah dikompromikan. Saat itulah pelaku sudah menjual kembali kartu Pokémon yang mereka dapatkan, meninggalkan toko menanggung kerugian.
Metode kedua yang kian marak adalah penggunaan aplikasi ponsel yang dikendalikan jaringan kriminal dan menyimpan banyak nomor kartu kredit curian. Pelaku menempelkan ponsel ke mesin pembaca kartu, dan aplikasi itu secara otomatis mencoba berbagai nomor hingga menemukan yang disetujui sistem. Karena proses ini memakan waktu, pelaku biasanya mengalihkan perhatian kasir. FBI mencontohkan seorang pria yang berpura-pura menjual kotak kartu kepada toko, sementara rekannya yang lain meraih ke balik meja dan mencuri kartu tambahan.
Meski para penipu terus mengembangkan cara baru, FBI mencatat bahwa banyak pelaku masih menggunakan metode sederhana dan brutal. Perampokan bersenjata di luar konvensi atau acara kartu, serta pembobolan toko, menjadi ancaman nyata. Karena itu, FBI merekomendasikan agar toko kartu meningkatkan keamanan dengan memasang kamera pengawas, alarm, dan tombol panik. Mereka juga menyarankan agar kasir tidak bekerja sendirian dan meminta identitas berfoto untuk pembayaran kartu kredit tertentu.
"Dalam satu contoh, seorang pria mencoba menjual sekotak kartu ke toko sementara rekannya meraih ke balik meja dan mencuri kartu tambahan," demikian bunyi peringatan FBI.
Peringatan ini tidak hanya relevan bagi pedagang, tetapi juga bagi konsumen yang membeli kartu dari reseller. FBI mengimbau agar pembeli waspada terhadap harga yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, karena kartu palsu semakin canggih dan sulit dibedakan. Bagi kolektor di Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat bahwa pasar kartu Pokémon juga memiliki risiko serupa. Meski skala penipuan di Tanah Air mungkin belum sebesar di Amerika Serikat, transaksi jual-beli kartu secara online dan di komunitas lokal tetap rentan terhadap penipuan pembayaran dan produk palsu.
Ke depan, industri kartu koleksi perlu memperkuat sistem verifikasi pembayaran dan meningkatkan kesadaran kolektor akan pentingnya bertransaksi dengan penjual terpercaya. Pertanyaannya, akankah asosiasi pedagang kartu di berbagai negara, termasuk Indonesia, mengadopsi langkah pengamanan yang direkomendasikan FBI sebelum kerugian semakin meluas?



