Shabana Mahmood Hadapi Tekanan Soal Revisi Aturan Migran Legal: Antara Keadilan dan Kompromi Politik
Baca dalam 60 detik
- Menteri Dalam Negeri Inggris Shabana Mahmood merevisi rencana kontroversial yang memperpanjang masa tunggu izin tinggal permanen bagi migran legal, memicu tuduhan U-turn dari oposisi.
- Konsultasi publik yang melibatkan 200.000 responden menjadi dasar perubahan, namun kritikus menilai langkah itu sebagai respons terhadap tekanan internal Partai Buruh dan pergantian perdana menteri.
- Pemerintah Inggris berupaya menyeimbangkan tuntutan pengetatan imigrasi dengan komitmen keadilan, sementara Partai Konservatif mempertanyakan legalitas perubahan jika tidak melalui undang-undang primer.

Menteri Dalam Negeri Inggris Shabana Mahmood kembali menjadi sorotan setelah mengumumkan revisi terhadap rencana aturan migran legal yang sebelumnya ia canangkan. Perubahan ini menandai titik balik kebijakan yang semula hendak memperpanjang masa tunggu bagi migran berketerampilan rendah untuk mendapatkan izin tinggal permanen (ILR) dari lima menjadi 15 tahun. Langkah tersebut kini menghadapi pertanyaan tentang konsistensi dan motivasi politik di baliknya.
Rencana awal yang disebut "jalur yang lebih adil menuju permukiman" itu diluncurkan pada November tahun lalu. Mahmood beralasan bahwa antara 2021 dan 2024, migrasi neto Inggris melonjak 2,6 juta jiwa—sekitar satu dari 30 penduduk saat ini tiba dalam periode tersebut. Ia menyebut fenomena itu sebagai "Boriswave", merujuk pada kebijakan era Boris Johnson. Namun, angka itu juga yang memicu perdebatan sengit di dalam Partai Buruh dan masyarakat luas.
Kritik datang dari berbagai pihak, termasuk dari dalam kabinet sendiri. Angela Rayner, yang kini menjabat Menteri Perumahan, pada Maret lalu menilai rencana tersebut "tidak British" karena dianggap mengubah target secara sepihak—migran yang tiba dengan niat baik di bawah aturan lama akan menghadapi aturan baru. Tekanan ini diperparah oleh pergantian perdana menteri dan kekhawatiran akan dampak elektoral, terutama dengan meningkatnya popularitas Partai Reform UK yang vokal soal imigrasi.
"Kami telah menghabiskan waktu untuk melakukan ini dengan benar," ujar seorang sumber di Whitehall, seraya menepis anggapan bahwa revisi ini murni akomodasi politik.
Namun, oposisi dari Partai Konservatif menilai perubahan ini sebagai "U-turn yang menyakitkan" dan sangat memalukan bagi Mahmood. Mereka juga mempertanyakan apakah revisi akan dilakukan melalui undang-undang primer atau amandemen RUU Imigrasi dan Suaka yang sedang dibahas di parlemen. Jika tidak, kebijakan itu berisiko digugat di pengadilan. Di sisi lain, Mahmood berpendapat bahwa ia telah berupaya mencapai kebijakan yang paling adil bagi semua pihak—baik bagi mereka yang ingin mencari kehidupan lebih baik, maupun bagi pekerja dan generasi muda Inggris.
Perdebatan ini juga menyoroti kontestasi definisi keadilan dalam kebijakan imigrasi. Angka £10 miliar yang diklaim sebagai biaya fiskal migran berketerampilan rendah pun dipersoalkan. Institut Kebijakan Publik (IPPR) berargumen bahwa rencana awal tidak akan menghasilkan penghematan sebesar itu karena hanya menunda, bukan mencegah, akses ke tunjangan. Perdebatan soal angka dan metode ini menunjukkan bahwa kebijakan imigrasi Inggris masih menjadi medan tarik-menarik antara kebutuhan ekonomi, tekanan politik, dan nilai-nilai keadilan.
Bagi Indonesia, dinamika politik imigrasi Inggris ini layak dicermati. Sebagai negara pengirim tenaga kerja terampil dan berketerampilan rendah ke Inggris—terutama di sektor kesehatan dan perawatan—perubahan aturan ILR dapat memengaruhi daya tarik Inggris sebagai tujuan kerja. Jika masa tunggu diperpanjang, minat pekerja Indonesia untuk menempuh jalur migrasi legal ke Inggris bisa menurun, sementara sektor perawatan Inggris yang selama ini bergantung pada tenaga kerja asing berisiko mengalami kekurangan. Pemerintah Indonesia perlu mengantisipasi dampak ini dalam perundingan bilateral dan perlindungan WNI.
Ke depan, Mahmood dihadapkan pada ujian berat: meyakinkan publik bahwa revisi ini adalah bagian dari proses demokrasi yang sehat, bukan sekadar kompromi politik. Partai Buruh harus membuktikan bahwa mereka dapat mengelola imigrasi secara humanis tanpa kehilangan dukungan dari basis tradisionalnya. Sementara itu, Partai Konservatif dan Reform UK akan terus menekan dengan narasi pengetatan. Apakah Inggris mampu merumuskan kebijakan imigrasi yang benar-benar adil, atau justru terjebak dalam siklus perubahan aturan yang membingungkan migran? Jawabannya akan terlihat dalam beberapa bulan mendatang.



