Serangan Houthi ke Bandara Riyadh Bikin Jemaah Umrah Telantar di Makassar
Baca dalam 60 detik
- Penerbangan jemaah umrah dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar dibatalkan maskapai akibat eskalasi serangan Houthi di Bandara Riyadh.
- Kanwil Kemenhaj Sulsel mengerahkan tim untuk mendata jumlah jemaah yang terdampak, namun data pasti belum tersedia.
- Pemerintah mendesak travel menenangkan jemaah dan memastikan pelayanan tetap berjalan demi keselamatan.

Sejumlah jemaah umrah yang hendak berangkat ke Arab Saudi terpaksa bertahan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, setelah maskapai membatalkan penerbangan mereka. Pembatalan ini merupakan buntut dari serangan kelompok Houthi terhadap Bandara Riyadh, yang memicu ketegangan politik di kawasan Timur Tengah.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Sulawesi Selatan, Ikbal Ismail, membenarkan insiden tersebut. Menurutnya, pembatalan terjadi sebagai dampak langsung dari eskalasi konflik di Arab Saudi. "Iya betul, dampak dari eskalasi politik Saudi, penerbangan dibatalkan," ujar Ikbal seperti dikutip dari Detik, Senin (12/10).
Merespons laporan tersebut, Kanwil Kemenhaj Sulsel segera mengirim tim ke bandara untuk melakukan pendataan terhadap jemaah yang telantar. Namun, Ikbal mengaku belum dapat memastikan berapa jumlah jemaah dan penerbangan yang dibatalkan karena proses verifikasi masih berlangsung. "Sementara ini tim saya lagi ke bandara untuk mendata. Belum bisa menyebut berapa karena lagi on process," jelasnya.
Insiden ini menyoroti kerentanan sektor perjalanan ibadah terhadap gejolak geopolitik. Serangan Houthi tidak hanya berdampak pada keamanan di Arab Saudi, tetapi juga mengganggu operasional maskapai dan mobilitas jemaah dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, Indonesia memiliki kepentingan besar dalam memastikan kelancaran ibadah umrah dan haji.
Pemerintah melalui Kemenhaj berharap pihak travel dapat menenangkan jemaah agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. "Saya mengharapkan kepada jemaah, terutama pimpinan-pimpinan travel, untuk menenangkan jemaahnya karena ini demi keselamatan jiwa jemaah itu sendiri," tegas Ikbal. Ia juga menekankan pentingnya pelayanan prima dari penyelenggara perjalanan selama masa penundaan.
"Saya mengharapkan kepada jemaah, terutama pimpinan-pimpinan travel, untuk menenangkan jemaahnya karena ini demi keselamatan jiwa jemaah itu sendiri." โ Ikbal Ismail, Kepala Kanwil Kemenhaj Sulsel
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari maskapai terkait jadwal pengganti atau kebijakan refund. Para jemaah yang telantar pun masih menunggu kepastian keberangkatan. Situasi ini menambah beban psikologis dan finansial bagi mereka yang telah mempersiapkan perjalanan jauh sebelumnya.
Ke depan, pemerintah Indonesia perlu memperkuat koordinasi dengan otoritas Arab Saudi dan maskapai untuk mengantisipasi dampak serupa. Perlindungan terhadap warga negara, terutama dalam konteks ibadah, harus menjadi prioritas. Apakah eskalasi konflik di Timur Tengah akan semakin mengganggu arus perjalanan umrah? Publik menanti langkah konkret dari semua pihak.



