SpaceX Cetak Rekor Baru NASA: Crew-13 Tiba di ISS dalam 7 Jam 55 Menit
Baca dalam 60 detik
- Misi Crew-13 SpaceX sukses merapat ke ISS pada 1 Oktober 2026 dengan durasi 7 jam 55 menit, memecahkan rekor sebelumnya 14 jam 43 menit.
- Rekor ini bukan yang tercepat secara global; Soyuz MS-17 masih memegang rekor 3 jam 3 menit sejak 2020.
- Keberhasilan ini memperkuat posisi SpaceX sebagai mitra utama NASA dan membuka jalan menuju misi Artemis IV ke bulan pada 2028.

SpaceX kembali menorehkan sejarah dalam penerbangan antariksa komersial. Misi Crew-13 yang membawa empat astronot berhasil merapat ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada 1 Oktober 2026, hanya dalam waktu 7 jam 55 menit setelah lepas landas dari Cape Canaveral, Florida. Durasi tersebut memecahkan rekor sebelumnya untuk misi berawak Amerika Serikat ke ISS yang dicatat Crew-11 pada Agustus 2025 dengan waktu 14 jam 43 menit.
Empat astronot yang terlibat dalam misi ini adalah Jessica Watkins dan Luke Delaney dari NASA, Joshua Kutryk dari Badan Antariksa Kanada (CSA), serta Sergey Teteryatnikov dari Roscosmos. Mereka diluncurkan menggunakan roket Falcon 9 dan kapsul Crew Dragon. Perjalanan yang hanya memakan waktu setara penerbangan New York–Paris itu menunjukkan efisiensi operasional SpaceX yang semakin matang.
Meski demikian, rekor dunia untuk perjalanan berawak tercepat ke ISS masih dipegang oleh misi Soyuz MS-17 milik Rusia. Pada Oktober 2020, tiga awak—Kate Rubins (NASA) serta Sergey Ryzhikov dan Sergey Kud-Sverchkov (Roscosmos)—tiba di stasiun hanya dalam 3 jam 3 menit setelah diluncurkan dari Kosmodrom Baikonur, Kazakhstan. Perbedaan waktu ini menyoroti perbedaan pendekatan antara SpaceX dan Roscosmos dalam merancang profil penerbangan.
Mengapa waktu tempuh bisa berbeda-beda? ISS mengorbit Bumi dengan kecepatan sekitar 17.400 mph, sehingga pesawat antariksa harus menyelaraskan kecepatan dan posisinya secara presisi. Jika posisi ISS menguntungkan saat peluncuran, pesawat dapat mengambil jalur langsung yang lebih cepat. Namun, jika tidak, pesawat harus melakukan serangkaian manuver orbital untuk mengejar stasiun. Faktor cuaca, kesiapan landasan peluncuran, dan kesiapan kendaraan juga membatasi jendela peluncuran, sehingga menunggu alignment sempurna tidak selalu praktis.
Sejak misi operasional pertama pada 2012, SpaceX telah mencetak berbagai tonggak bersama NASA. Crew Dragon menjadi wahana komersial pertama yang membawa astronot NASA ke orbit pada misi Demo-2 (2020), lalu menjadi yang pertama digunakan kembali untuk misi berawak (Crew-2, 2021). SpaceX juga merupakan perusahaan pertama yang menggunakan kembali booster Falcon 9 untuk peluncuran berawak NASA. Kemampuan mendaur ulang komponen ini menjadi kunci efisiensi biaya dan peningkatan frekuensi peluncuran.
"Keberhasilan SpaceX dalam menekan waktu tempuh dan biaya operasional menunjukkan bahwa era akses ruang angkasa yang lebih cepat dan terjangkau semakin dekat," ujar seorang analis industri antariksa yang tidak ingin disebutkan namanya.
Bagi Indonesia, pencapaian ini memiliki implikasi strategis. Sebagai negara kepulauan yang bergantung pada satelit untuk komunikasi, navigasi, dan pemantauan cuaca, Indonesia dapat memanfaatkan layanan peluncuran komersial yang semakin efisien. SpaceX telah beberapa kali meluncurkan satelit Indonesia, seperti Satria-1 pada 2023. Dengan waktu tempuh yang lebih singkat, biaya asuransi dan risiko operasional dapat ditekan, membuka peluang lebih besar bagi operator satelit nasional untuk bermitra dengan penyedia layanan peluncuran swasta.
Ke depan, SpaceX menargetkan tonggak yang lebih ambisius: menjadi perusahaan swasta pertama yang mendaratkan astronot NASA di permukaan bulan melalui misi Artemis IV, yang ditargetkan pada awal 2028. Misi ini akan menggunakan Starship Human Landing System (HLS), roket paling kuat yang pernah dibangun. Meski masih dalam tahap pengembangan dan menghadapi tantangan teknis, keberhasilan Crew-13 menjadi sinyal positif bahwa SpaceX mampu menjaga momentum inovasi. Akankah rekor berikutnya dipecahkan dalam waktu dekat, atau justru tantangan bulan yang akan menguji batas kemampuan perusahaan? Waktu yang akan membuktikan, tetapi satu hal yang pasti: persaingan antariksa semakin ketat dan berdampak langsung pada percepatan teknologi di Bumi.



