Nokia Sempat Nyalakan 4G di Bulan, Tapi Hanya 25 Menit
Baca dalam 60 detik
- Nokia mengklaim sebagai operator pertama yang mengaktifkan jaringan 4G di permukaan bulan melalui perangkat Network In a Box (NIB) pada Maret 2025.
- Jaringan hanya bertahan 25 menit karena pendarat Athena milik Intuitive Machines terjungkal dan tidak bisa mengisi daya, sehingga misi berakhir prematur.
- Nokia berencana kembali ke bulan lewat kemitraan dengan Axiom Space untuk menyematkan konektivitas nirkabel di pakaian antariksa misi Artemis III pada 2027.

Nokia mencatatkan namanya dalam sejarah eksplorasi antariksa dengan mengaktifkan jaringan seluler 4G pertama di bulan, namun kejayaan itu hanya bertahan 25 menit. Peristiwa pada Maret 2025 tersebut menjadi bagian dari misi IM-2 yang digarap Intuitive Machines, dan berakhir sebelum sempat dimanfaatkan secara optimal.
Jaringan tersebut dioperasikan oleh Nokia Bell Labs melalui unit Space Communications Solutions yang kini berganti nama menjadi Modul8. Perangkat utamanya adalah Network In a Box (NIB), sebuah kotak telekomunikasi ringkas yang mengemas radio, base station, serta teknologi routing dan core dalam satu unit. NIB standar sebenarnya dirancang untuk aplikasi komersial dan industri, tetapi versi yang dikirim ke bulan dimodifikasi agar lebih ringan, dilengkapi solusi manajemen termal dan radiasi khusus, serta redundansi mekanis dan elektris untuk mengantisipasi kegagalan.
Sayangnya, misi induknya tidak berjalan mulus. Pendarat Athena milik Intuitive Machines terjatuh miring sehingga panel suryanya tidak mendapat cahaya matahari yang cukup untuk mengisi ulang baterai. Akibatnya, misi dihentikan lebih awal. Meski demikian, Nokia mengklaim NIB sempat menyala selama 25 menit sebelum kehilangan daya. Dalam rentang singkat itu, jaringan 4G sempat aktif, tetapi tidak ada peralatan yang benar-benar memanfaatkannya karena semua instrumen masih terparkir di dalam garasi Athena.
Jika misi berjalan sesuai rencana, jaringan Nokia seharusnya menopang berbagai rover dan perangkat di permukaan bulan, mempercepat pengumpulan data, dan mengirimkannya ke Bumi. Nokia bahkan berencana melakukan panggilan pertama dari bulan, tetapi karena tidak ada peralatan yang keluar dari Athena, rencana itu pupus. Alhasil, jaringan tersebut bisa dibilang sukses sekaligus gagal: sempat online dalam waktu singkat, namun tidak pernah digunakan sebagaimana mestinya.
Terlepas dari kegagalan misi, tim peneliti dan insinyur yang terlibat mengklaim jaringan 4G tersebut layak dan berhasil. Mereka memverifikasi sejumlah indikator kunci bahwa jaringan sempat beroperasi. Menurut Nokia, pencapaian ini tetap menjadi tonggak penting karena untuk pertama kalinya teknologi seluler komersial diadaptasi untuk lingkungan bulan.
Nokia tidak berhenti di situ. Perusahaan asal Finlandia itu tengah bersiap kembali ke bulan melalui kerja sama dengan Axiom Space. Kali ini, fokusnya adalah menyematkan konektivitas nirkabel ke dalam pakaian antariksa yang akan digunakan kru NASA dalam misi Artemis III, yang dijadwalkan meluncur pada 2027. Pakaian antariksa generasi baru itu dirancang lebih tahan terhadap fluktuasi suhu ekstrem di permukaan bulan dan ruang angkasa, sehingga teknologi Nokia diharapkan dapat berfungsi lebih lama dan lebih andal.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka cakupan baru tentang bagaimana teknologi telekomunikasi terrestrial dapat diadaptasi untuk lingkungan ekstrem. Meskipun belum ada rencana langsung untuk mengadopsi teknologi serupa di sektor satelit nasional, keberhasilan Nokia menjadi preseden bahwa infrastruktur 4G tidak lagi terbatas pada Bumi. Ini bisa mendorong riset dan pengembangan di bidang komunikasi antariksa, terutama bagi negara yang tengah memperluas konektivitas di daerah terpencil atau bencana.
"Kami membuktikan bahwa jaringan 4G dapat beroperasi di bulan, meski hanya sebentar. Ini adalah langkah awal menuju infrastruktur komunikasi yang lebih mapan di luar angkasa," ujar perwakilan Nokia Bell Labs dalam pernyataan resminya.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah jaringan seluler bisa menyala di bulan, melainkan seberapa lama dan seberapa luas manfaatnya. Dengan Artemis III sebagai ajang uji berikutnya, Nokia berpeluang membuktikan bahwa teknologi mereka bukan sekadar eksperimen singkat, melainkan fondasi bagi komunikasi antarplanet yang berkelanjutan. Apakah 25 menit cukup untuk disebut sejarah? Mungkin, tetapi standar berikutnya sudah menanti.



