Freiburg Puncaki Bundesliga dengan 13 Poin, Rekor Baru di Bawah Schuster
Baca dalam 60 detik
- Freiburg mengalahkan Schalke 2-1 meski bermain dengan 10 orang sejak menit ke-60, mencatatkan 13 poin dari lima laga pembuka Bundesliga 2026/27.
- Kemenangan ini mengukuhkan Freiburg di puncak klasemen dan memperlihatkan kedalaman skuad serta ketajaman strategi pelatih Julian Schuster.
- Tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi usai jeda internasional, dengan tekanan dari klub-klub besar yang mulai menempel.

Freiburg sukses merebut kembali takhta klasemen Bundesliga setelah menundukkan Schalke 2-1 di Europa-Park Stadion, Minggu (20/9/2026). Bermain dengan sepuluh orang sejak menit ke-60, tim asuhan Julian Schuster menunjukkan mentalitas juara yang jarang dimiliki klub sekelas mereka.
Kemenangan ini menandai rekor baru: 13 poin dari lima pertandingan pembuka, pencapaian terbaik sepanjang sejarah Freiburg di kompetisi papan atas Jerman. Lebih dari sekadar angka, capaian tersebut menegaskan bahwa Die Breisgauer bukan lagi sekadar penghuni papan tengah, melainkan penantang serius gelar juara.
Jalannya pertandingan tidak mudah. Maximilian Eggestein membuka keunggulan cepat, namun Schalke menyamakan kedudukan lewat Adrian Gantenbein pada menit ke-30. Schalke nyaris tidak mengancam, dengan hanya satu tembakan tepat sasaran sepanjang laga. Namun, kartu kuning kedua untuk Yuito Suzuki pada menit ke-60 membuat Freiburg harus bertahan dengan sepuluh pemain.
Alih-alih goyah, Schuster merespons dengan cerdik. Pada menit ke-83, ia memasukkan Gotō dan Grifo. Keduanya langsung berpadu menghasilkan gol kemenangan. “Para pemain pantas mendapat pujian besar. Saya sangat bangga,” ujar Schuster usai laga, seraya menambahkan bahwa Schalke adalah lawan yang sulit ditembus.
“The boys took it in their stride and saw it through despite being a man down.” – Julian Schuster
Bagi pengamat Bundesliga, start gemilang Freiburg bukanlah kebetulan. Kualitas lini depan, kekuatan di sayap, dan konsistensi telah menjadi fondasi permainan mereka. Kini, resilience dan sentuhan taktis Schuster menambah dimensi baru yang membuat Freiburg semakin diperhitungkan.
Meski demikian, perjalanan masih panjang. Jeda internasional sering menjadi titik rawan bagi tim yang sedang dalam momentum. Freiburg harus menjaga fokus dan kebugaran pemain, terlebih beberapa klub besar seperti Bayern Munich dan Borussia Dortmund diprediksi akan menekan ketat.
Dari kacamata Indonesia, pencapaian Freiburg bisa menjadi pelajaran berharga bagi klub-klub Liga 1 yang kerap mengandalkan individu ketimbang kolektivitas. Konsistensi, kedalaman skuad, dan kecerdasan taktis adalah kunci untuk bersaing di level atas, bukan sekadar belanja pemain mahal.
Akankah Freiburg mampu mempertahankan posisi puncak hingga akhir musim, ataukah ini hanya euforia awal yang akan sirna seiring bergulirnya kompetisi? Yang jelas, Bundesliga musim ini menyajikan persaingan yang lebih terbuka, dan Freiburg telah mengirim sinyal bahwa mereka siap menjadi kuda hitam yang mengganggu hegemoni raksasa Jerman.



