Altcoin Melonjak di Tengah Likuiditas Tipis, Bitcoin Tertahan di Bawah US$84.000
Baca dalam 60 detik
- Indeks CoinDesk 80 mencatat kenaikan 3% dalam 24 jam, dua kali lipat performa CoinDesk 5 yang hanya naik 1,2%.
- Arus keluar bersih ETF Bitcoin spot AS mencapai US$681 juta pekan lalu, terbesar sejak Juni, menandakan investor institusi menarik dana.
- Pasar menanti data inflasi AS Rabu mendatang sebagai penentu arah suku bunga dan pergerakan aset kripto selanjutnya.

Kenaikan harga altcoin pada Senin (12/10/2026) terjadi di tengah likuiditas yang menipis, sementara Bitcoin bertahan di bawah level US$84.000. Indeks CoinDesk 80, yang melacak token-token berkapitalisasi kecil, menguat sekitar 3% dalam 24 jam terakhir โ lebih dari dua kali lipat kenaikan 1,2% pada CoinDesk 5 yang berisi aset utama. Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$83.459,75 setelah sempat menyentuh US$84.000 pada Minggu, sedangkan Ether naik sekitar 2,5% ke US$2.560.
Menurut riset CoinDesk, pemulihan likuiditas tidak merata. Kedalaman order book untuk Bitcoin dan Ether dalam denominasi dolar telah kembali ke level sebelum flash crash 10 Oktober 2025, tetapi likuiditas altcoin terus tergerus. "Market maker telah kembali ke aset utama," ujar Joshua de Vos, research lead CoinDesk, dalam laporan Sabtu. Artinya, reli altcoin saat ini lebih didorong oleh volume tipis ketimbang masuknya modal besar, sehingga rentan pembalikan arah.
Di sisi lain, investor institusi justru mengurangi eksposur. ETF Bitcoin spot yang tercatat di AS mencatat arus keluar bersih US$681 juta sepanjang pekan lalu, tertinggi sejak Juni, berdasarkan data SoSoValue. Penjualan terbesar terjadi pada Rabu dan Kamis. Sementara itu, ETF Ether spot belum mencatat satu hari pun inflow sejak 28 September, dan rentetan outflow selama sembilan hari menjadi yang terpanjang sejak Juni. Pola ini menunjukkan bahwa kenaikan altcoin tidak diikuti oleh minat institusi yang signifikan.
Faktor eksternal juga mempengaruhi sentimen pasar. Harga minyak mereda dengan futures WTI turun sekitar 2% ke US$90 per barel setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Rusia akan memasok 300.000 metrik ton diesel ke pasar global, pelonggaran sebagian sanksi. Perhatian kini beralih ke data indeks harga konsumen (CPI) AS yang akan dirilis Rabu mendatang. Angka inflasi ini akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve, yang selama ini menjadi pendorong utama volatilitas aset kripto.
Di ranah aset digital, stablecoin yang didiversifikasi dengan aset dunia nyata (RWA) menawarkan imbal hasil 5-7% dari kredit riil, sementara pendanaan kripto terkompresi ke sekitar 4%. Platform GENIUS mendorong imbal hasil ke luar rantai, dengan total pasar yang dapat dialamatkan (TAM) tumbuh menjadi US$4 miliar dalam tiga tahun. Instrumen ini menjadi alternatif bagi investor yang mencari yield stabil di tengah ketidakpastian pasar spot.
"Market maker telah kembali ke aset utama," โ Joshua de Vos, Research Lead CoinDesk
Bagi investor Indonesia, dinamika ini patut dicermati. Meskipun pasar kripto domestik tidak terhubung langsung dengan ETF AS, arus modal global dan kebijakan suku bunga Fed sering kali mempengaruhi sentimen di bursa lokal seperti Indodax dan Pintu. Reli altcoin yang tipis bisa menjadi peluang jangka pendek, tetapi risiko likuiditas tetap tinggi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang kini mengawasi aset kripto di Indonesia juga terus mengingatkan pentingnya kehati-hatian terhadap volatilitas ekstrem.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah reli altcoin ini berkelanjutan atau hanya pantulan sementara di pasar yang tipis. Data CPI AS pada Rabu akan menjadi katalis pertama. Jika inflasi lebih tinggi dari perkiraan, tekanan jual pada aset berisiko termasuk kripto bisa meningkat, dan altcoin dengan likuiditas rendah akan menjadi yang paling rentan. Sebaliknya, jika inflasi melandai, harapan pemangkasan suku bunga dapat kembali mengangkat seluruh kelas aset, meski tetap dengan seleksi ketat pada token-token yang fundamentalnya kuat.



