Harga PS5 Naik Dua Kali Lipat dalam Enam Tahun, Sony Terjebak Krisis Chip AI
Baca dalam 60 detik
- Harga resmi PlayStation 5 di Amerika Serikat melonjak dari 399 dolar pada 2020 menjadi 599 dolar pada 2026, kenaikan tertinggi dalam sejarah konsol generasi kesembilan.
- Kelangkaan memori NAND dan DRAM akibat ekspansi pusat data AI memaksa Sony menaikkan biaya produksi, bukan karena peningkatan performa mesin.
- Jika pasokan memori global tidak membaik, harga konsol generasi berikutnya berpotensi ikut terdampak dan konsumen Indonesia harus bersiap menghadapi impor yang lebih mahal.

PlayStation 5 resmi mencatatkan kenaikan harga ritel tertinggi sepanjang sejarah konsol modern. Enam tahun setelah peluncurannya pada November 2020, Sony menetapkan harga eceran PS5 Disc Edition di Amerika Serikat menjadi 649 dolar AS, sementara versi Digital Edition melesat dari 399 dolar AS menjadi 599 dolar AS. Kenaikan ini terjadi di tengah siklus hidup konsol yang biasanya justru diwarnai pemotongan harga dan bundel diskon menjelang akhir generasi.
Perubahan harga tersebut bukan hasil dari peningkatan spesifikasi. Sony tercatat hanya melakukan perampingan desain pada 2023 melalui PS5 Slim yang memperkecil ukuran fisik dan menambah kapasitas penyimpanan dari 825GB ke 1TB, tanpa menyentuh performa prosesor maupun grafis. Justru pada akhir 2025, Sony kembali menurunkan kapasitas penyimpanan versi Digital Slim ke 825GB, sehingga konsumen membayar lebih mahal untuk perangkat dengan spesifikasi yang tidak lebih baik dari model awal.
Lonjakan harga ini dipicu oleh krisis pasokan memori global yang dipicu oleh ekspansi besar-besaran pusat data kecerdasan buatan. Perusahaan-perusahaan teknologi raksasa mengunci kontrak jangka panjang untuk pasokan DRAM dan NAND berperforma tinggi, sementara jumlah pabrik yang mampu memproduksi chip memori canggih sangat terbatas. Akibatnya, alokasi untuk perangkat konsumen seperti laptop dan konsol game menyusut drastis. Dalam panggilan investor kuartal keempat 2025, Sony secara eksplisit menyatakan bahwa kenaikan harga memori telah meningkatkan biaya bahan baku dan memperburuk ongkos manufaktur PS5.
Meskipun harga jual naik, margin keuntungan dari perangkat keras konsol tetap tipis. Sony menggantungkan laba utama dari penjualan game, aksesori, dan langganan PlayStation Plus. Perusahaan memungut komisi 30 persen dari hampir setiap transaksi di PlayStation Store, termasuk pembelian game, konten tambahan, dan mikrotransaksi. Dengan rencana penghentian disk game fisik pada 2028, ketergantungan pada pendapatan digital akan semakin besar. Namun, kenaikan biaya produksi yang tidak diimbangi penurunan harga komponen membuat strategi subsidi silang ini berada di bawah tekanan.
"Kenaikan harga memori meningkatkan biaya bahan baku dan memperburuk biaya manufaktur," demikian pernyataan resmi Sony dalam panggilan investor kuartal keempat 2025, seperti dikutip dari laporan Engadget.
Bagi konsumen Indonesia, dampak kenaikan ini tidak bisa diabaikan. Harga resmi PS5 di Tanah Air selama ini mengikuti pergerakan dolar AS dan biaya impor. Dengan harga ritel di Amerika Serikat yang naik 30 hingga 50 persen, distributor lokal menghadapi tekanan untuk menyesuaikan harga jual. Ditambah lagi, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dapat memperparah lonjakan harga di pasar domestik. Konsumen yang berencana membeli PS5 untuk menyambut peluncuran Grand Theft Auto 6 pada 2026 harus mempertimbangkan anggaran yang lebih besar atau beralih ke pasar sekunder.
Pasar konsol global saat ini berada di persimpangan. Di satu sisi, permintaan tetap tinggi, terutama menjelang perilisan judul-judul besar yang eksklusif. Di sisi lain, pasokan komponen yang seret membuat produsen tidak punya banyak ruang untuk menurunkan harga. Jika harga memori global mulai melandai, penurunan harga ritel mungkin baru terasa melalui diskon sementara dan bundel dari peritel, sebelum akhirnya sampai ke pemotongan harga resmi. Namun, selama gelombang investasi AI belum surut, konsol generasi kesembilan—dan mungkin kesepuluh—akan tetap mahal. Pertanyaannya, sampai kapan konsumen bersedia membayar premium untuk perangkat yang secara teknis tidak banyak berubah?



