Persija Puncaki Klasemen BRI Super League, Shin Tae-yong Puji Loyalitas The Jakmania di Bantul
Baca dalam 60 detik
- Persija Jakarta mengalahkan PSIM Yogyakarta 4-0 pada pekan keempat BRI Super League 2026/2027, dengan empat gol tercipta di 15 menit terakhir.
- Kemenangan keempat beruntun mengangkat Macan Kemayoran ke puncak klasemen dengan 12 poin, sekaligus mencatatkan 8 gol dan baru kebobolan sekali.
- Pelatih Shin Tae-yong menyoroti peran suporter yang menempuh perjalanan jauh sebagai faktor krusial dalam menjaga momentum juara.

Persija Jakarta menutup pekan keempat BRI Super League 2026/2027 dengan kemenangan telak 4-0 atas PSIM Yogyakarta di Stadion Sultan Agung, Bantul, Sabtu (10/10/2026). Hasil ini mengukuhkan Macan Kemayoran di puncak klasemen sementara dengan koleksi 12 poin dari empat laga—sebuah start sempurna yang belum tertandingi tim mana pun.
Menariknya, pesta gol Persija baru pecah di seperempat jam terakhir. Alexander Jeremejeff membuka keunggulan pada menit ke-76, lalu Stjepan Loncar mencetak dua gol dalam rentang sepuluh menit (80' dan 90+2'), dan Kwon Chang-hoon menutup pesta pada menit ke-86. Pola ini menunjukkan daya tahan dan ketajaman lini depan yang mampu memanfaatkan kelelahan lawan di fase kritis.
Kemenangan tersebut tidak lepas dari dukungan langsung sekitar 1.000 suporter The Jakmania yang memadati tribun Stadion Sultan Agung. Nyanyian mereka sepanjang laga membuat Persija seolah tampil di kandang sendiri, meski secara status berstatus tim tamu. Pelatih Shin Tae-yong pun secara khusus menyoroti kontribusi tersebut.
"Saya sangat berterima kasih kepada para suporter yang datang jauh-jauh dari Jakarta untuk mendukung Persija," ujar Shin Tae-yong. "Dukungan suporter seperti inilah yang menjadi salah satu hal terpenting untuk meraih gelar juara."
Pernyataan itu bukan sekadar basa-basi. Dalam sepak bola modern, kehadiran suporter di laga tandang sering menjadi pembeda antara tim yang sekadar bersaing dan tim yang benar-benar siap juara. The Jakmania dikenal sebagai salah satu basis suporter paling loyal di Indonesia, dan kesediaan mereka menempuh perjalanan darat Jakarta–Bantul—sekitar 500 kilometer—menegaskan ikatan emosional yang jarang dimiliki klub lain.
Bagi Persija, catatan 8 gol dan sekali kebobolan memperlihatkan keseimbangan yang jarang dimiliki tim di awal musim. Lini belakang yang solid memberi kebebasan bagi para gelandang untuk menekan lawan, sementara lini depan memiliki opsi mematikan dari bangku cadangan. Kombinasi ini menjadi modal berharga menghadapi jadwal padat BRI Super League yang akan semakin ketat.
Di sisi lain, kekalahan PSIM Yogyakarta menyoroti tantangan bagi tim promosi atau tim papan tengah: menjaga konsentrasi hingga peluit akhir. Dua gol yang bersarang di menit 80 dan 90+2' menunjukkan lemahnya fokus di fase krusial, sesuatu yang harus segera dibenahi jika ingin menghindari zona degradasi.
Ke depan, Persija akan menghadapi ujian sesungguhnya ketika bertemu tim-tim besar yang juga mengincar gelar. Apakah konsistensi ini berlanjut, atau justru menjadi puncak semu yang cepat sirna? Yang jelas, modal poin dan dukungan suporter telah menempatkan Macan Kemayoran sebagai kandidat juara paling serius musim ini.



