Houthi Ancam Bandara Arab Saudi, Penerbangan Sipil di Ambang Bahaya
Baca dalam 60 detik
- Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, memperingatkan maskapai dan penumpang menjauhi seluruh bandara Arab Saudi kecuali Mekah dan Madinah.
- Serangan udara dan rudal Houthi terhadap bandara Riyadh berlangsung sepanjang pekan, sementara koalisi pimpinan Saudi melancarkan serangan balasan besar-besaran.
- Penguasaan Houthi atas pulau-pulau di Selat Bab al-Mandab memperlebar kendali mereka atas jalur pelayaran strategis, mengancam pasokan minyak Arab Saudi.

Kelompok Houthi secara resmi memperingatkan maskapai penerbangan dan wisatawan untuk menghindari bandara-bandara di Arab Saudi, kecuali Mekah dan Madinah, menyusul serangan mematikan yang mereka lakukan terhadap Bandara Internasional Riyadh pada Sabtu (10/10). Peringatan ini menjadi pesan publik pertama kelompok tersebut sejak aksi tersebut, dan menandai eskalasi baru dalam konflik Yaman yang semakin menyeret infrastruktur sipil.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, dalam pernyataannya menyebut bahwa bandara dan wilayah udara Saudi di luar dua kota suci Islam itu "terbuka untuk menjadi sasaran dan merupakan medan operasi bagi pasukan kami". Ia meminta publik "menanggapi peringatan ini dengan serius" dan menegaskan bahwa Arab Saudi "bertanggung jawab atas setiap kegagalan intersepsi" rudal yang diluncurkan. Saree juga menutup pernyataannya dengan ancaman eskalasi berjenjang: "bandara dibalas bandara, pengepungan dibalas pengepungan, dan eskalasi dibalas eskalasi" hingga tujuan mereka tercapai.
Serangan terhadap bandara utama ibu kota Saudi itu berlangsung intens sepanjang pekan, bersamaan dengan meningkatnya serangan udara Arab Saudi ke wilayah Houthi di Yaman. Kementerian Kesehatan yang dikelola Houthi melaporkan 91 warga Yaman tewas dan 168 lainnya luka-luka dalam lima pekan terakhir akibat serangan koalisi pimpinan Saudi. Mereka mengklaim 60% dari korban tewas adalah perempuan dan anak-anak. Data tersebut belum diverifikasi secara independen, namun menjadi indikasi tingginya biaya kemanusiaan dari konflik yang kembali memanas.
Merespons agresi tersebut, koalisi pimpinan Saudi yang mendukung pemerintah Yaman melancarkan operasi kontra-ofensif besar pekan ini untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi. Kelompok rebel itu tercatat bergerak cepat sejak September, merebut sejumlah pulau di Selat Bab al-Mandab dan membangun posisi di sepanjang Laut Merah. Langkah ini memperketat cengkeraman mereka atas jalur pelayaran krusial yang selama ini menjadi alternatif Arab Saudi saat Selat Hormuz tertutup.
"Bandara dibalas bandara, pengepungan dibalas pengepungan, dan eskalasi dibalas eskalasi." โ Yahya Saree, juru bicara militer Houthi
Bagi Indonesia, eskalasi di Laut Merah dan Bab al-Mandab bukan sekadar peristiwa jauh. Jalur tersebut merupakan salah satu rute utama kapal tanker dan kargo yang mengangkut energi serta komoditas ke Asia, termasuk Indonesia. Ketegangan yang berlanjut berpotensi menaikkan premi asuransi pelayaran, memperlambat waktu pengiriman, dan pada akhirnya mendorong harga minyak dunia. Sebagai importir minyak, Indonesia rentan terhadap lonjakan harga energi yang dapat memicu inflasi dan melemahkan daya beli masyarakat.
Selain itu, banyak tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Arab Saudi dan negara Teluk. Peringatan Houthi terhadap bandara Saudi dapat memengaruhi rute penerbangan pulang-pergi pekerja migran, serta meningkatkan risiko keselamatan jika eskalasi militer meluas ke kota-kota lain. Pemerintah Indonesia perlu memperbarui protokol perlindungan WNI dan berkoordinasi dengan otoritas setempat untuk mengantisipasi skenario terburuk.
Hingga kini, Arab Saudi terus meminta pasokan rudal pencegat tambahan dari Amerika Serikat dan sekutu Baratnya. Permintaan itu mencerminkan keterbatasan kapasitas pertahanan udara Saudi dalam menghadapi gelombang serangan Houthi yang kian canggih. Jika permintaan tersebut tidak segera dipenuhi, risiko kebocoran pertahanan dan jatuhnya korban sipil di kota-kota besar Saudi akan meningkat, yang bisa memaksa Riyadh mengubah strategi militernya secara drastis.
Dengan Houthi yang menguasai posisi strategis di Bab al-Mandab dan Arab Saudi yang meningkatkan serangan udara, jalan menuju de-eskalasi tampak semakin sempit. Akankah komunitas internasional, termasuk negara-negara Asia yang bergantung pada jalur pelayaran ini, mengambil peran lebih aktif untuk meredam konflik sebelum krisis kemanusiaan dan ekonomi kian memburuk?



