Inggris Bentuk Satgas Banjir Hadapi Musim Dingin Ekstrem, 6,3 Juta Rumah Terancam
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Inggris membentuk gugus tugas khusus untuk mengantisipasi cuaca ekstrem dan banjir musim dingin, dengan rapat perdana digelar Rabu ini.
- Sebanyak 6,3 juta properti di Inggris berisiko banjir, sementara Met Office memperingatkan El Niño terkuat dalam sejarah yang akan memuncak akhir tahun.
- Dana perlindungan banjir sebesar £10,5 miliar hingga 2036 disiapkan, namun pertanyaannya apakah infrastruktur dan koordinasi lintas sektor mampu menahan tekanan berulang.

Pemerintah Inggris resmi membentuk satuan tugas (satgas) khusus untuk menghadapi ancaman cuaca ekstrem, terutama risiko banjir pada musim dingin mendatang. Langkah ini diambil setelah musim panas 2026 tercatat sebagai yang terpanas dalam sejarah negara itu, memicu kekhawatiran akan pola cuaca yang semakin tidak menentu.
Rapat perdana satgas dijadwalkan berlangsung Rabu ini, dipimpin oleh Kementerian Lingkungan, Pangan, dan Urusan Pedesaan (Defra). Forum tersebut akan mempertemukan Met Office, Environment Agency, otoritas walikota, serta perwakilan sektor pertanian, air, dan asuransi. Menteri Defra, Emma Hardy, menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam. "Kami menghadapi cuaca ekstrem, dengan banjir dan kekeringan yang saling terkait, namun pemerintah mengambil tindakan tegas," ujarnya dalam pernyataan sebelum pertemuan.
Environment Agency memperkirakan sekitar 6,3 juta rumah dan usaha di Inggris masih berada dalam zona rawan banjir. Angka ini menjadi alarm bagi efektivitas infrastruktur perlindungan yang ada saat ini. Pemerintah sendiri telah mengalokasikan dana minimal £10,5 miliar hingga tahun 2036 untuk melindungi properti, bisnis, dan infrastruktur kritis dari ancaman banjir yang terus meningkat.
Met Office melaporkan bahwa prospek musiman saat ini menunjukkan kemungkinan kondisi lebih basah dari rata-rata pada musim gugur, sebagian dipicu oleh fenomena El Niño. Lembaga itu memperingatkan bahwa El Niño tahun ini berpotensi menjadi yang terkuat dalam ingatan hidup, dengan puncak belum terjadi hingga akhir tahun. Artinya, tekanan cuaca buruk masih akan berlangsung panjang.
Environment Agency menambahkan bahwa meskipun banjir tidak dijamin terjadi, peluang badai berulang, hujan berkepanjangan, dan daerah tangkapan air yang jenuh lebih tinggi dari biasanya. Mereka mendesak rumah tangga untuk memeriksa risiko banjir, mendaftar peringatan, dan menyusun rencana darurat. Himbauan ini bukan tanpa dasar: musim dingin lalu membawa empat badai bernama—Bram, Goretti, Ingrid, dan Chandra—serta beberapa peristiwa banjir signifikan. Met Office mencatat Inggris menerima curah hujan 42% lebih tinggi dari rata-rata musim dingin.
"Ini akan menempatkan komunitas dan bisnis di jantung pekerjaan kami dan memastikan Inggris siap menghadapi cuaca apa pun berikutnya," kata Menteri Emma Hardy.
Pembentukan satgas ini mencerminkan pergeseran pendekatan dari respons reaktif menjadi kesiapsiagaan terkoordinasi. Namun, efektivitasnya akan bergantung pada sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan sektor swasta. Dengan dana besar yang sudah dialokasikan, tantangan utamanya adalah memastikan proyek-proyek perlindungan berjalan tepat waktu dan tepat sasaran, terutama di wilayah yang berulang kali dilanda banjir.
Bagi Indonesia, langkah Inggris ini bisa menjadi cermin. Sebagai negara dengan risiko banjir tinggi, Indonesia menghadapi tantangan serupa: koordinasi lintas lembaga, pendanaan infrastruktur, dan kesiapsiagaan masyarakat. Pola El Niño juga memengaruhi curah hujan di Nusantara, meski dampaknya berbeda. Pelajaran dari Inggris adalah bahwa investasi jangka panjang dan tata kelola yang baik sama pentingnya dengan respons darurat.
Ke depan, pertanyaan besarnya: apakah satgas ini mampu mengubah peringatan menjadi tindakan nyata sebelum badai berikutnya datang? Dengan El Niño yang belum memuncak, Inggris—dan dunia—hanya punya waktu terbatas untuk bersiap.



