Mercedes Terbelah: Upaya Uji Aero di Singapura Justru Bikin Tim Makin Bingung
Baca dalam 60 detik
- Mercedes menjalankan dua spesifikasi mobil berbeda di Singapura untuk mengurai kegagalan upgrade di Malaysia, tetapi hasilnya kontraproduktif.
- Russell tampil kompetitif dengan paket lama, sementara Antonelli kesulitan mengendalikan paket baru dan hanya start ketujuh.
- Temuan ini mengindikasikan korelasi terowongan angin Mercedes bermasalah, memicu kekhawatiran jelang musim 2026.

Keputusan Mercedes untuk menurunkan dua spesifikasi aerodinamis berbeda pada Sprint weekend Grand Prix Singapura berujung pada kebingungan total. Alih-alih mendapatkan jawaban atas kegagalan paket upgrade di Malaysia, tim justru dihadapkan pada kenyataan bahwa mobil lama lebih cepat dari versi baru yang diproyeksikan superior.
Pada sesi kualifikasi Sprint di Marina Bay Street Circuit, Jumat, George Russell berhasil mengunci posisi baris depan bersama Max Verstappen menggunakan paket aero spesifikasi lama. Sementara itu, rekan setimnya, Andrea Kimi Antonelli, yang tetap memakai paket upgrade terbaru, bergulat dengan keseimbangan mobil dan hanya menempati urutan ketujuh. Kontras ini menjadi pukulan telak bagi ambisi Mercedes menyambut regulasi teknis 2026.
Andrew Shovlin, Direktur Teknik Sirkuit Mercedes AMG Petronas, mengakui bahwa hasil tersebut memicu kebingungan di dinding pit. Menurutnya, keputusan menjalankan dua spesifikasi mobil diambil setelah akhir pekan sulit di Malaysia, meski ia menyadari bahwa sirkuit jalanan Singapura dan format Sprint bukanlah tempat ideal untuk eksperimen semacam itu.
"Kami senang melihat George di baris depan, tetapi ini membuat kami harus menggaruk-garuk kepala untuk memahami mengapa upgrade tidak memberikan peningkatan performa yang kami harapkan," ujar Shovlin kepada media.
Data dari sesi kualifikasi memperlihatkan bahwa paket lama yang sudah terbukti mampu dimanfaatkan secara maksimal oleh Russell. Sebaliknya, Antonelli harus berjuang keras dengan paket baru di tikungan 90 derajat yang sempit dan tidak kenal ampun. Shovlin mencatat bahwa kedua mobil tidak memiliki keseimbangan ideal, dengan Antonelli khususnya kehilangan kepercayaan diri pada fase pengereman dan masuk tikungan—area krusial untuk menyerang lap kualifikasi di Singapura.
Implikasi dari hasil ini lebih dari sekadar kekecewaan sesaat. Fakta bahwa mobil lama lebih cepat mengonfirmasi adanya masalah fundamental pada korelasi terowongan angin Mercedes—alat yang seharusnya memvalidasi pengembangan aerodinamis. Jika korelasi tidak akurat, setiap upgrade yang diproduksi berisiko menjadi langkah mundur. Ini adalah sinyal alarm bagi tim yang tengah membangun fondasi untuk musim 2026, ketika regulasi mesin dan aero berubah total.
Shovlin menegaskan bahwa tim akan terus menganalisis data yang tersedia untuk memahami akar masalah. Dengan regulasi parc fermé yang ketat, insinyur Mercedes hanya bisa mengandalkan penyesuaian perangkat lunak dan perubahan kecil pada flap sayap depan untuk menyelamatkan paket upgrade sebelum balapan Sprint. Upaya berikutnya akan difokuskan pada perbaikan setelan mobil Antonelli untuk kualifikasi utama.
Bagi penggemar Formula 1 di Indonesia, dinamika ini menjadi cerminan betapa kompleksnya pengembangan mobil di era modern. Mercedes, tim yang mendominasi satu dekade lalu, kini harus mengakui bahwa keunggulan teknologi tidak lagi jaminan. Sementara tim-tim seperti Red Bull dan Ferrari terus mengejar, Mercedes justru terjebak dalam labirin data yang tidak konsisten. Kegagalan memahami paket sendiri bisa berdampak panjang, termasuk pada daya tarik sponsor dan pasar otomotif di kawasan Asia Tenggara yang menjadi target ekspansi mereka.
Pertanyaannya kini: mampukah Mercedes membalikkan keadaan sebelum musim 2026 dimulai, atau akankah mereka menjadi korban dari ambisi teknologi yang tidak terukur? Yang jelas, tekanan di Brackley dan Brixworth akan semakin panas dalam beberapa pekan mendatang.



