Hadjar Minta Red Bull Ganti Total Mesin: "Semuanya Rusak" di Singapura
Baca dalam 60 detik
- Isack Hadjar tersingkir di Q1 GP Singapura akibat kegagalan mesin dan gearbox, memaksa start dari posisi buncit.
- Pembalap Prancis itu mendesak Red Bull memasang unit daya baru meski harus melanggar aturan parc fermé.
- Kepala tim Laurent Mekies belum memutuskan, tetapi masalah keandalan menjadi fokus utama evaluasi malam ini.

Isack Hadjar menutup sesi kualifikasi Grand Prix Singapura dengan kemarahan terbuka setelah serangkaian masalah mekanis membuatnya gagal mencatatkan waktu representatif dan harus puas start dari posisi paling belakang. Pembalap Red Bull Racing itu mengalami mati mesin di Q1, lalu kehilangan seluruh gigi akibat kerusakan gearbox sekunder, memaksanya menepi di Marina Bay Street Circuit, Sabtu (4/10/2026).
Insiden ini mempertegas kontras tajam di kubu Milton Keynes: Max Verstappen merebut pole position untuk balapan Minggu, sementara Hadjar justru menjadi korban keenam dalam rentetan masalah keandalan yang menghantui tim sepanjang akhir pekan. Padahal, mekanik Red Bull telah bekerja keras mengganti komponen power unit usai kegagalan fatal di Sprint race beberapa jam sebelumnya. Namun perbaikan kilat itu tidak bertahan lama.
Kegagalan Hadjar bukan sekadar insiden tunggal. Ini menandai pola kerapuhan teknis yang mengancam posisi konstruktor Red Bull di sisa musim. Dengan regulasi teknis 2026 yang membatasi alokasi komponen, setiap penggantian di luar jadwal berpotensi memicu penalti grid tambahan. Situasi ini memaksa tim menimbang ulang strategi: apakah mempertahankan komponen lama yang rentan, atau mengambil penalti demi keandalan jangka panjang.
Kekecewaan Hadjar bukan hanya soal hasil, melainkan waktu trek yang terbuang. Ia menyebut masih memiliki banyak ban soft di garasi yang tidak akan terpakai—sebuah sindiran pedas terhadap potensi mobil yang sebenarnya mampu melaju lebih jauh di sesi kualifikasi.
"Saya tidak peduli P22. Saya hanya ingin keluar dan melakukannya. Ayo bergerak," ujar Hadjar kepada Sky Sports F1, menolak anggapan bahwa kerusakan gearbox bukan kesalahannya.
Pembalap Prancis itu bahkan secara terbuka mendukung usulan untuk menambah unit daya baru ke dalam alokasi tahunannya, meski harus menerima penalti grid tambahan. Menurutnya, mobil membutuhkan komponen segar untuk menghentikan rentetan masalah yang ia sebut sebagai "semuanya rusak" akhir pekan ini.
Kepala tim Laurent Mekies belum memberikan konfirmasi resmi mengenai rencana tersebut. Namun, arah diskusi internal tim diperkirakan akan didominasi oleh evaluasi menyeluruh terhadap prosedur perakitan dan kontrol kualitas komponen. Dalam beberapa tahun terakhir, Red Bull dikenal memiliki salah satu departemen teknis paling efisien, sehingga gelombang kegagalan ini menimbulkan pertanyaan tentang kemungkinan perubahan personel atau metode kerja.
Bagi penggemar Formula 1 di Indonesia, dinamika di Red Bull ini menjadi cermin betapa tipisnya batas antara dominasi dan keruntuhan teknis. Tim-tim papan atas dituntut tidak hanya cepat, tetapi juga konsisten dalam manajemen risiko. Kegagalan Hadjar bisa menjadi pelajaran berharga bagi tim mana pun yang mengandalkan perbaikan darurat tanpa akar masalah yang tuntas.
Dengan posisi start dari barisan belakang, balapan Minggu akan menjadi ujian berat bagi Hadjar dan seluruh kru Red Bull. Jika mereka memilih memasang unit daya baru, penalti tambahan mungkin tidak lagi relevan karena posisi sudah di dasar grid. Namun, keputusan itu akan menjadi sinyal jelas: Red Bull lebih memilih membangun ulang fondasi teknis daripada menambal masalah yang terus muncul. Akankah langkah radikal ini mengakhiri mimpi buruk mereka, atau justru membuka babak baru ketidakpastian?



