Hamilton Desak Sirkuit Singapura Dirombak: Sprint 2026 'Membosankan' Tanpa Hujan
Baca dalam 60 detik
- Lewis Hamilton menilai Marina Bay butuh lintasan lurus lebih panjang agar aksi menyalip benar-benar terjadi, bukan sekadar bergantung pada hujan.
- Max Verstappen dan Charles Leclerc mempertanyakan kelayakan sprint di sirkuit jalan raya, menyoroti regulasi Overtake Mode yang dinilai tidak efektif.
- Penyelenggara F1 menghadapi tekanan untuk mengevaluasi ulang pemilihan venue sprint, terutama menjelang Monaco 2027 yang juga berkarakter jalan raya.

Lewis Hamilton menyatakan bahwa Marina Bay Street Circuit perlu dirombak secara struktural jika Singapura ingin terus menjadi tuan rumah sprint Formula 1 yang layak tonton. Pebalap Ferrari itu menilai balapan sprint akhir pekan lalu hanya terasa menarik karena diguyur hujan, bukan karena kualitas sirkuitnya.
Balapan sprint penutup musim 2026 itu memang berlangsung kacau: hanya 13 dari 22 mobil yang mencapai garis finis, dengan insiden George Russell dan tabrakan dua pembalap McLaren menjadi sorotan utama di paddock. Namun di balik drama tersebut, para pebalap justru menyoroti persoalan mendasar—tidak ada satu pun titik di Marina Bay yang memungkinkan manuver menyalip secara bersih.
Hamilton, yang finis kedua dalam sprint tersebut, mengungkapkan bahwa ia sempat berbicara dengan Max Verstappen soal perlunya penambahan lintasan lurus yang lebih panjang. Menurutnya, Marina Bay punya potensi menjadi sirkuit balap yang hebat, tetapi saat ini hanya mengandalkan satu jalur balap—terlebih ketika trek dalam kondisi setengah basah.
"Saya benar-benar menyukai balapan di sini, tetapi saya bilang ke Max bahwa mereka perlu mengubah trek, mungkin membuat lintasan lurus yang lebih panjang agar kami bisa menyalip," ujar juara dunia tujuh kali itu. "Trek ini luar biasa untuk satu putaran di kualifikasi, tetapi tidak ada satu pun tempat di mana kami bisa mendekat untuk menyalip."
Ia juga menyoroti kondisi permukaan aspal di Tikungan 16 yang memiliki tonjolan di tengah lintasan, memicu percikan api dari bagian bawah mobil. Menurut Hamilton, penyesuaian teknis pada area tersebut bisa membuat Marina Bay menjadi sirkuit yang benar-benar berkualitas.
Hamilton menegaskan bahwa sprint yang berlangsung dramatis pekan lalu tidak bisa dijadikan tolok ukur. Tanpa hujan, ia memperkirakan balapan akan berjalan monoton—didominasi manajemen ban dan para pebalap yang saling menempel tanpa aksi berarti. "Jika Anda bisa membuat hujan selalu turun, sprint akan selalu menyenangkan," candanya. "Tapi kalau tidak, itu hanya soal mengatur ban."
Verstappen mengambil posisi lebih tegas. Pebalap Red Bull itu menilai F1 semestinya tidak menyelenggarakan sprint di sirkuit yang secara fundamental tidak memungkinkan overtaking. Ia merujuk pada regulasi teknis saat ini, terutama Overtake Mode, yang dinilai hampir tidak memberikan keunggulan berarti di Marina Bay.
"Treknya bagus, tetapi masalahnya ada pada Overtake Mode yang nyaris tidak berfungsi di sini. Anda tidak mendapatkan kecepatan berlebih di lintasan lurus," kata Verstappen. "Kami butuh delta kecepatan yang lebih besar, bukan sekadar lintasan lurus tambahan."
Leclerc melangkah lebih jauh dengan menyerukan agar sprint tidak lagi digelar di sirkuit jalan raya sama sekali. Menurutnya, format sprint seharusnya ditempatkan di sirkuit permanen yang secara alami mendukung aksi salip-menyalip, sehingga kehadirannya benar-benar menambah nilai akhir pekan balapan.
Kritik ini menempatkan F1 pada posisi yang tidak nyaman. Singapura dan Monaco dipilih sebagai tuan rumah sprint justru karena daya tarik komersial dan atmosfernya, bukan karena kualitas balapannya. Jika para pebalap terus menyuarakan ketidakpuasan, penyelenggara berisiko menghadapi persepsi bahwa sprint hanyalah produk hiburan tanpa substansi olahraga.
Pertanyaannya kini: apakah F1 akan mengubah pendekatan dalam memilih venue sprint, atau justru mempertahankan status quo demi kepentingan komersial? Keputusan soal Monaco 2027 akan menjadi indikator pertama seberapa serius kritik para pebalap ini didengar.



