Pria 72 Tahun Tembak Agen ICE yang Diduga Serang Dirinya dan Putrinya di Fresno
Baca dalam 60 detik
- Seorang pria berusia 72 tahun di Fresno, California, melepaskan tembakan ke arah pejabat Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) yang sedang tidak bertugas setelah pria berseragam itu diduga menyerangnya dan putrinya di halaman rumah.
- Insiden ini menambah daftar panjang kasus dugaan kriminal yang melibatkan personel ICE, memicu pertanyaan baru tentang proses rekrutmen dan pengawasan lembaga tersebut.
- Otoritas setempat masih menyelidiki motif keberadaan agen tersebut, sementara korban yang membela diri tidak dikenai tuduhan pidana.

Seorang pria berusia 72 tahun di Fresno, California, melepaskan tembakan ke arah seorang pejabat Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE) yang sedang tidak bertugas, Jumat dini hari waktu setempat. Insiden itu terjadi setelah pejabat tersebut, yang diduga dalam pengaruh alkohol, menyerang pria itu dan putrinya di halaman rumah mereka, menurut keterangan kepolisian Fresno.
Pejabat ICE yang terlibat diidentifikasi sebagai David Gonzalez. Ia saat ini dirawat di rumah sakit akibat luka tembak di bagian perut dan menghadapi tuduhan kejahatan karena penyerangan terhadap ayah dan anak tersebut. Kepolisian Fresno menyatakan bahwa Gonzalez dijerat dengan pasal penganiayaan yang berpotensi menyebabkan cedera tubuh berat, perusakan properti, dan penganiayaan. Sementara itu, pria 72 tahun dan putrinya tidak dikenai tuduhan apa pun karena dianggap bertindak membela diri.
Peristiwa bermula sekitar pukul 3 pagi ketika putri pria tersebut menemukan Gonzalez tertidur di halaman depan rumah mereka. Ia kemudian membangunkan ayahnya yang berada di dalam rumah dan berusaha mengusir Gonzalez dari properti. Namun, saat terbangun, Gonzalez disebut tampak mabuk dan gelisah, lalu menyerang pria 72 tahun itu hingga terjatuh. Ketika putrinya mencoba melerai, Gonzalez juga menyerang dan menjatuhkannya. Karena khawatir akan keselamatan diri dan anaknya, pria tersebut menembak Gonzalez satu kali. Tak lama kemudian, kekasih putrinya yang merupakan polisi lepas tugas tiba dan memborgol Gonzalez.
Kepolisian Fresno menyatakan belum mengetahui alasan keberadaan Gonzalez di area tersebut saat kejadian. Namun, dipastikan bahwa ia sedang tidak bertugas dan sendirian. Penyelidikan atas insiden ini masih berlangsung, sementara Gonzalez tetap dalam tahanan dan menerima perawatan medis.
"Kami belum dapat memastikan mengapa Gonzalez berada di lokasi saat penembakan terjadi, tetapi telah dikonfirmasi bahwa ia sedang tidak bertugas dan sendirian," ujar pihak berwenang setempat.
Kasus ini menjadi sorotan terbaru terhadap perilaku personel ICE yang dalam beberapa waktu terakhir menghadapi berbagai tuduhan kriminal. Sepanjang masa jabatan kedua Donald Trump, ICE mendapat kritik tajam dari berbagai pihak akibat taktik penangkapan, penahanan, dan deportasi yang dianggap agresif. Para anggota parlemen juga menyoroti praktik perekrutan lembaga tersebut yang dinilai terburu-buru untuk memenuhi target deportasi massal.
Pada Agustus 2025, seorang supervisor ICE mengajukan pengaduan whistleblower ke kantor inspektur jenderal DHS. Ia menuduh lembaga itu mengabaikan prosedur penyaringan dasar dan melanggar aturan federal dalam gelombang perekrutan. Sebelumnya, pada Juli, seorang petugas ICE menembak mati seorang imigran asal Kolombia di Biddeford, Maine. Petugas tersebut dilaporkan merupakan rekrutan baru meskipun memiliki riwayat kekerasan dan masalah kesehatan mental. Sementara pada April, seorang petugas ICE senior di Cincinnati ditangkap karena diduga berbohong kepada DHS soal tuduhan kekerasan dalam rumah tangga. Laporan media lokal menyebut polisi telah dipanggil lebih dari 20 kali ke rumah yang ia tinggali bersama kekasihnya dalam dua tahun terakhir.
Ohio Immigrant Alliance, sebuah kelompok pro-imigran, merilis laporan pada Agustus yang mendokumentasikan lebih dari 150 pejabat imigrasi federal yang dituduh melakukan kekerasan dan kejahatan. Salah satu entri terbaru dalam laporan itu menyebut dugaan seorang pejabat ICE membobol apartemen mantan kekasihnya di Louisiana tenggara.
Insiden di Fresno ini memunculkan pertanyaan lebih besar tentang pengawasan terhadap personel ICE, terutama di tengah percepatan rekrutmen. Apakah lembaga itu akan memperketat seleksi dan pengawasan, atau justru mengabaikan pola perilaku bermasalah demi mengejar target operasional? Publik dan pembuat kebijakan menanti jawabannya.



