Anak Krakatau Naik ke Status Siaga, BPBD Lampung: Belum Ada Dampak Abu Vulkanik
Baca dalam 60 detik
- Gunung Anak Krakatau meningkatkan statusnya menjadi Siaga setelah erupsi Jumat malam, namun BPBD Lampung memastikan belum ada abu vulkanik yang mencapai daratan.
- Zona eksklusi lima kilometer dari pusat erupsi diberlakukan, sementara warga diminta mewaspadai potensi hujan abu lebat, lontaran batu pijar, dan erupsi sekunder.
- Pemerintah daerah mengandalkan pemantauan satelit dan mengimbau publik tidak terpengaruh informasi tak terverifikasi.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung memastikan hingga Sabtu pagi tidak ada abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau yang mencapai wilayah Lampung, meski gunung berapi di Selat Sunda itu telah dinaikkan statusnya menjadi Siaga. Peningkatan status ini menyusul erupsi yang terjadi pada Jumat malam (9/10).
Kepala BPBD Lampung, Aswarodi, mengatakan bahwa pemantauan citra satelit melalui Terminal BMKG Lampung hingga pukul 07.00 WIB, Sabtu (10/10), tidak menunjukkan dampak langsung abu vulkanik terhadap provinsi tersebut. "Belum terpantau dampak langsung abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terhadap wilayah di Provinsi Lampung," ujarnya di Bandarlampung, mengutip Antara.
Meski demikian, otoritas tidak mengendurkan kewaspadaan. Masyarakat dan wisatawan dilarang memasuki atau beraktivitas dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi. Larangan ini merupakan prosedur standar untuk mengantisipasi potensi bahaya seperti lontaran batu pijar, hujan abu lebat, aliran lava, serta erupsi sekunder akibat kontak material lava bersuhu tinggi dengan air laut atau air hujan.
Aswarodi menambahkan bahwa jika erupsi berkepanjangan, warga diimbau menyiapkan dan menggunakan masker untuk mengurangi paparan abu vulkanik. Ia juga menyebut curah hujan yang beberapa kali terjadi belakangan ini dapat membantu mengurangi dampak abu jika terbawa ke permukiman. "Beruntung saat ini sudah ada beberapa kali hujan yang bisa mengurangi dampak abu vulkanik bila terbawa sampai sini lagi," katanya.
Pemerintah daerah juga menekankan pentingnya literasi informasi. Warga diminta tidak mudah terpengaruh oleh kabar yang belum terverifikasi dan selalu merujuk pada arahan instansi berwenang. "Masyarakat diharapkan tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, dan mengikuti arahan dari instansi berwenang, dan memantau informasi dari Pusdalops BPBD Provinsi Lampung atau sumber terpercaya," tambahnya.
Peningkatan status Anak Krakatau menjadi Siaga merupakan yang terbaru dalam beberapa tahun terakhir. Gunung ini sebelumnya pernah erupsi besar pada 2018 yang memicu tsunami di Selat Sunda. Meski demikian, belum ada indikasi bahwa erupsi kali ini akan berdampak sebesar itu. BPBD Lampung terus berkoordinasi dengan BMKG dan BNPB untuk memantau perkembangan.
Bagi warga pesisir Lampung, terutama di Kabupaten Lampung Selatan yang berhadapan langsung dengan Selat Sunda, kewaspadaan terhadap abu vulkanik dan potensi tsunami menjadi hal yang melekat. Pemerintah daerah telah menyiapkan jalur evakuasi dan posko darurat jika situasi memburuk. Namun, aktivitas sehari-hari masih berjalan normal.
Ke depan, tantangan utama adalah menjaga keseimbangan antara kesiapsiagaan dan ketenangan publik. BPBD mengingatkan bahwa informasi resmi dari Pusdalops dan BMKG adalah acuan utama. Masyarakat diimbau tidak menyebarkan hoaks yang dapat memicu kepanikan. Dengan pemantauan intensif, diharapkan dampak erupsi dapat diminimalkan.



