Pohon Kapas Berusia 200 Tahun Tumbang demi Tembok Trump, Puluhan Aktivis Ditangkap
Baca dalam 60 detik
- Pohon kapas 'nenek' berusia dua abad di Arizona ditebang paksa untuk proyek tembok perbatasan AS-Meksino.
- Lebih dari 80 agen federal menyerbu kamp aktivis, memicu bentrokan dan puluhan penangkapan.
- Anggota Kongres berencana mengajukan RUU untuk mencabut kewenangan DHS mengabaikan hukum lingkungan.

Sebuah pohon kapas (cottonwood) berusia 200 tahun di Lochiel, Arizona, yang dijuluki “nenek” oleh warga setempat, tumbang pada Senin pekan ini setelah puluhan agen federal menyerbu kamp aktivis lingkungan yang telah mendudukinya selama lebih dari 70 hari. Penebangan itu dilakukan untuk memberi jalan bagi pembangunan tembok perbatasan Amerika Serikat-Meksiko yang digagas Presiden Donald Trump.
Konfrontasi memuncak saat lebih dari 80 personel dari Patroli Perbatasan AS (CBP) dan unit taktis Bortac tiba fajar buta. Mereka membubarkan perkemahan di atas tanah pribadi, menahan sejumlah orang, dan menghalangi akses ke pohon. Menurut kesaksian dan rekaman video yang beredar, seorang aktivis yang bertahan di platform kanopi pohon dievakuasi paksa menggunakan keranjang baja yang diangkat crane. Aktivis lain yang mencoba menerobos ke arah pohon didorong dan dijatuhkan.
Tidak lama setelah itu, kontraktor Fisher Sand & Gravel mengerahkan ekskavator dan merobohkan pohon raksasa tersebut. Suara retakan dan benturan keras terdengar saat batang pohon menghantam tanah. Para aktivis yang menyaksikan langsung histeris, menangis, dan meneriaki aparat.
“Melihat itu, hati terasa hancur,” ujar Erick Meza, koordinator Borderlands Sierra Club, yang telah berbulan-bulan mengirim surat ke CBP untuk menyelamatkan pohon-pohon itu. “Pohon itu menyatukan banyak orang. Sekarang muncul kemarahan kolektif. Orang-orang sangat marah.”
Insiden ini bukan yang pertama. Sebelumnya, pada 27 Juli, kontraktor telah menumbangkan tiga pohon kapas kuno lain di sekitar lokasi. Aksi duduk di pohon pun dimulai sebagai bentuk protes damai. Namun, pembangunan tembok terus berjalan cepat, 24 jam sehari, di lembah San Rafael—sebuah padang rumput dataran tinggi terpencil yang pernah menjadi lokasi syuting film Oklahoma.
Lembah San Rafael dan pegunungan Patagonia serta Huachuca di sekitarnya membentuk salah satu koridor satwa liar terpenting antara AS dan Meksiko. Jalur ini dilalui jaguar, ocelot, beruang, bahkan berang-berang dan landak. Pembangunan tembok dianggap mengancam konektivitas ekologis yang sudah rapuh.
Russ McSpadden dari Center for Biological Diversity menjelaskan bahwa pohon kapas bergantung pada pasokan air bawah tanah yang stabil. Keberadaannya menjadi penanda hutan riparian, tipe ekosistem yang langka di wilayah barat daya. “Pohon-pohon ini adalah urat nadi kehidupan di gurun,” ujarnya. Ia menambahkan, penggunaan air untuk konstruksi tembok telah menguras sumur-sumur di sekitar, mengancam mata air seperti Quitobaquito Springs.
Sejak Senin, puluhan aktivis ditangkap, banyak di antaranya karena memasuki jalan yang ditutup otoritas federal sejak akhir September. Sebagian dari mereka mengaku dipukul dan pulang dengan memar serta mata lebam. Seorang perempuan bahkan sempat memborgol dirinya pada truk semen pada 7 Agustus, sebelum disemprot gas merica dan diseret oleh beberapa agen. Ia kini ditahan.
Julia Butterfly Hill, aktivis lingkungan yang pernah tinggal di pohon redwood selama dua tahun pada akhir 1990-an, mengaku terharu melihat perlakuan kasar terhadap perempuan tersebut. “Keberanian dan komitmennya pada perlawanan tanpa kekerasan membuat saya menangis. Dia pahlawan kelas atas,” katanya.
CBP belum memberi tanggapan resmi atas insiden ini, tetapi sebelumnya berdalih tembok di wilayah seperti ini diperlukan untuk menekan imigrasi ilegal. Sementara itu, Sheriff Santa Cruz County, David Hathaway, menilai tembok di lembah terpencil itu tidak masuk akal karena tidak ada sejarah aktivitas ilegal signifikan. Fisher Sand & Gravel juga tidak merespons permintaan komentar.
Anggota Kongres Adelita Grijalva, yang mewakili daerah tersebut, menyatakan “patah hati” atas hilangnya pohon “nenek”. Ia berencana mengajukan RUU untuk mencabut kewenangan Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) yang dapat mengabaikan semua hukum dalam pembangunan infrastruktur perbatasan.
Kate Scott, salah satu pemimpin aksi duduk di pohon, menegaskan bahwa penebangan ini tidak akan mematahkan semangat mereka. “Mereka mencoba menghancurkan kami, tapi kami tidak hancur. Kami memulai gerakan, dan kami tidak akan ke mana-mana. Kami berakar, seperti para nenek,” tegasnya.
Dengan pembangunan tembok yang terus berlanjut dan perlawanan sipil yang semakin keras, pertanyaannya kini: akankah Kongres mampu menghentikan laju proyek yang mengorbankan warisan ekologis dan memicu ketegangan sosial di perbatasan?



