Badai Isaias Hantam Pesisir Teluk AS, Jutaan Warga Mengungsi
Baca dalam 60 detik
- Badai Isaias mendarat sebagai kategori 2 dengan kecepatan angin 105 mph, memicu evakuasi besar di Florida, Georgia, dan Alabama.
- FEMA hadapi ujian berat setelah pemangkasan 17% staf pada 2025, sementara Badai Milton dan Helene jadi pembanding mematikan.
- Pemerintah negara bagian dan federal bergerak cepat, tetapi kapasitas respons dan pemulihan jangka panjang masih dipertanyakan.

Badai Isaias menghantam pesisir Teluk Amerika Serikat pada Jumat malam waktu setempat sebagai badai kategori 2 dengan kecepatan angin berkelanjutan 105 mph. Peristiwa ini memaksa jutaan penduduk di Florida, Georgia, dan Alabama meninggalkan rumah, sekaligus menandai badai Atlantik pertama di musim 2026 yang datang sangat terlambat.
National Hurricane Center (NHC) memperingatkan gelombang badai yang mengancam nyawa serta angin merusak di sepanjang pantai Florida Panhandle dan Alabama. Curah hujan diperkirakan mencapai 4–8 inci, dengan titik lokal hingga 15 inci, yang berpotensi memicu banjir bandang dan banjir sungai, terutama di Alabama selatan, Florida Panhandle, dan Georgia barat daya.
Angin kencang diperkirakan menyebar hingga 100 mil ke daratan dari pantai Alabama. Peringatan tornado juga dikeluarkan untuk Jumat malam hingga Sabtu di pita hujan luar badai. NHC menambahkan bahwa wilayah tenggara lainnya bisa menerima 2–5 inci hujan, dengan akumulasi lokal hingga 10 inci di Pegunungan Appalachia Selatan dan Carolina pesisir.
Gubernur di Florida, Georgia, dan Alabama telah menetapkan keadaan darurat, dengan evakuasi wajib di beberapa komunitas pesisir. Tempat penampungan dibuka di Florida, Louisiana, Alabama, dan Mississippi. Palang Merah Amerika memposisikan tempat tidur, selimut, makanan tahan lama, dan perlengkapan darurat lainnya. Di Florida, sekitar 5.000 tentara Garda Nasional disiagakan, dan setidaknya empat distrik sekolah membatalkan kelas akhir pekan.
Sebelum badai datang, produsen minyak dan gas menutup sebagian besar produksi lepas pantai di Teluk, yang menyumbang hampir 15% minyak mentah tahunan AS. Langkah ini mencerminkan kehati-hatian industri terhadap risiko badai, meskipun juga berpotensi memengaruhi harga energi jangka pendek.
Fenomena El Niño menjadi faktor musim badai Atlantik yang lebih tenang tahun ini. El Niño menghangatkan suhu permukaan laut di Pasifik—tempat aktivitas badai lebih tinggi—tetapi meningkatkan geser angin di Atlantik, yang dapat melemahkan badai tropis sebelum menguat. Musim badai sendiri berlangsung 1 Juni hingga 30 November, dengan puncak biasanya pertengahan Agustus hingga pertengahan Oktober.
Badai terakhir yang mendarat di AS adalah Milton pada 9 Oktober 2024 di dekat Siesta Key, Florida. Sebulan sebelumnya, Helene menewaskan lebih dari 250 orang dan menjadi badai terfatal di daratan AS sejak Katrina 2005. Isaias menjadi ujian bagi FEMA yang tengah menghadapi pemangkasan staf signifikan dan restrukturisasi di era pemerintahan Trump.
"Bukan soal apakah FEMA akan merespons. Mereka akan merespons. Ini lebih tentang kedalaman responsnya," ujar Chris Currie, direktur keamanan dalam negeri dan keadilan di GAO.
FEMA menyatakan tim manajemen insiden dikerahkan ke Alabama dan Florida, personelnya tertanam di pusat operasi darurat negara bagian, dan pasokan darurat diposisikan di Pangkalan Angkatan Udara Maxwell, Montgomery, Alabama. Namun, sekitar 17% tenaga kerja FEMA hilang pada tahun fiskal 2025, memicu kekhawatiran tentang kapasitas penanganan bencana besar.
Bagi Indonesia, badai ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi. Negara kepulauan ini kerap dilanda banjir, tanah longsor, dan angin kencang, sehingga pelajaran dari respons AS—terutama koordinasi lintas lembaga dan evakuasi dini—relevan untuk memperkuat sistem mitigasi domestik.
Ke depan, keberhasilan penanganan Isaias tidak hanya diukur dari kecepatan evakuasi, tetapi juga kemampuan memulihkan infrastruktur dan ekonomi pascabadai. Akankah pemangkasan anggaran dan staf di lembaga penanggulangan bencana menjadi preseden yang mengkhawatirkan di tengah meningkatnya intensitas cuaca ekstrem global?



