Serangan Rusia Tewaskan 20 Warga Sipil Usai Kesepakatan Diesel Trump-Putin, Zelenskyy: Itu Bentuk 'Terima Kasih'
Baca dalam 60 detik
- Kesepakatan pembelian solar Rusia oleh AS memicu gelombang kecaman karena dianggap mendanai mesin perang Moskow.
- Serangan udara Rusia ke Zaporizhzhia menewaskan 20 orang, termasuk tiga anak, hanya berselang beberapa jam setelah kesepakatan diumumkan.
- Uni Eropa bersiap mengesahkan paket sanksi terbesar, sementara Trump menyerukan pemimpin baru bagi Ukraina.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menuding Rusia melancarkan serangan mematikan terhadap warga sipil sebagai balasan atas kesepakatan yang diteken Donald Trump dengan Vladimir Putin untuk membeli solar dalam jumlah besar. Menurut Zelenskyy, kesepakatan itu secara tidak langsung membantu membiayai agresi Moskow, dan serangan yang menewaskan 20 orang di wilayah tenggara Ukraina menjadi bukti nyata dari kekhawatirannya.
Kesepakatan yang diumumkan Trump pada Jumat (9/10) itu disebut-sebut untuk menekan harga solar domestik menjelang pemilu sela November, di mana biaya bahan bakar menjadi isu sensitif bagi pemilih. Namun, langkah tersebut mengejutkan Kyiv karena diumumkan saat perundingan damai tengah berlangsung di Miami. Zelenskyy menyebutnya sebagai "hadiah" bagi Putin dan memperingatkan bahwa pelonggaran sanksi hanya akan memperpanjang perang.
Beberapa jam setelah pernyataan Zelenskyy, otoritas Ukraina melaporkan bahwa serangan udara Rusia menghantam wilayah Zaporizhzhia dan sekitarnya, menewaskan 20 orang, termasuk tiga anak-anak. "Hari ini Rusia mengucapkan terima kasih atas pencabutan sanksi ekspor solar dengan menjatuhkan lima bom luncur ke bangunan tempat tinggal di Zaporizhzhia," tulis Zelenskyy di media sosial. Ia menegaskan bahwa Rusia menafsirkan setiap pelonggaran tekanan sebagai izin untuk terus berperang.
Kesepakatan solar ini mengganggu empat tahun tekanan finansial Barat terhadap Moskow dan memaksa sekutu Kyiv di Eropa dan NATO untuk menyesuaikan rencana sanksi. Diplomat tertinggi Uni Eropa, Kaja Kallas, menyatakan bahwa kesepakatan tersebut "memberi Moskow lebih banyak pendapatan untuk berperang". Ia menegaskan Eropa tidak akan melonggarkan tekanan dan pada Senin mendatang para menteri luar negeri UE berencana menyetujui paket sanksi terbesar sejak invasi dimulai.
Pemerintah Jerman melalui juru bicaranya, Stefan Kornelius, menegaskan komitmennya terhadap sanksi Rusia dan dukungan tanpa henti untuk Ukraina. Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson menyatakan "penyesalan" atas kesepakatan AS, seraya mengingatkan bahwa pendapatan energi adalah sumber pendanaan vital bagi agresi Rusia. Sementara itu, Trump justru meningkatkan ketegangan dengan menyerukan agar Ukraina memiliki presiden baru, menuding Zelenskyy gagal mencapai kesepakatan damai dan berkontribusi pada harga solar tinggi di AS.
"Saya sarankan mereka mencari pemimpin baru yang bisa membuat kesepakatan, karena dia sebenarnya bisa membuat banyak kesepakatan tapi entah kenapa tidak pernah," kata Trump.
Di sisi lain, Perdana Menteri Inggris Andy Burnham menyatakan solidaritas penuh kepada Zelenskyy dalam panggilan telepon dan keduanya sepakat bertemu dalam beberapa hari ke depan. Kremlin menggambarkan panggilan antara Trump dan Putin sebagai "sangat substantif dan bersahabat", dengan ajudan kebijakan luar negeri Yuri Ushakov mengatakan keduanya tidak ingin lebih dulu menutup telepon. Kontras tajam ini menyoroti posisi Ukraina yang semakin terjepit di antara kepentingan domestik AS dan dukungan Eropa yang tetap kokoh.
Zelenskyy menegaskan Ukraina siap mengambil langkah de-eskalasi, tetapi hanya jika Rusia melakukan hal serupa. Ia juga berjanji akan membalas serangan Rusia. Di wilayah Luhansk yang diduduki Rusia, serangan Ukraina dilaporkan menewaskan empat warga sipil dan melukai lima orang. Sementara itu, laporan Financial Times mengungkap bahwa utusan Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner, dalam perundingan di Miami, mengisyaratkan kemungkinan pemutusan berbagi intelijen AS jika Kyiv tidak menghentikan serangan terhadap kilang minyak Rusia.
Bagi Indonesia, dinamika ini menjadi cermin bagaimana tekanan geopolitik dapat memengaruhi harga energi global dan stabilitas pasokan. Sebagai importir minyak, Indonesia perlu mencermati potensi lonjakan harga solar di pasar internasional akibat ketegangan yang berkepanjangan. Selain itu, sikap negara-negara besar dalam konflik ini dapat memengaruhi posisi Indonesia di forum multilateral, terutama terkait prinsip non-blok dan perdamaian dunia.
Ke depan, apakah Eropa mampu mempertahankan front persatuan melawan Rusia di tengah kebijakan AS yang berfluktuasi? Ataukah kesepakatan solar ini menjadi preseden yang melemahkan rezim sanksi dan memperpanjang penderitaan rakyat Ukraina? Pertanyaan itu akan dijawab dalam beberapa hari mendatang, saat UE mengumumkan sanksi baru dan pertemuan Zelenskyy dengan para pemimpin Eropa berlangsung.



