Verstappen Menang Sprint Singapura, tapi Soroti Start Buruk dan Kualifikasi Ketat
Baca dalam 60 detik
- Max Verstappen meraih kemenangan perdananya di Marina Bay setelah start buruk dan insiden Russell.
- Juara dunia empat kali itu mengakui kelemahan start sepanjang musim dan membandingkan dengan tim Racing Bulls.
- Kualifikasi GP Singapura diprediksi lebih sulit karena format sprint membatasi penggunaan ban.

Max Verstappen akhirnya mengukir sejarah dengan memenangi Sprint Grand Prix Singapura di Sirkuit Jalanan Marina Bay, Sabtu (21/9). Namun, kemenangan tersebut tidak serta-merta membuat pembalap Red Bull Racing itu puas. Ia justru menyoroti masalah start yang dinilainya buruk sepanjang musim dan memprediksi kualifikasi GP Singapura akan menjadi pertempuran sengit.
Balapan sprint sempat tertunda selama 30 menit akibat hujan deras. Seluruh pembalap diwajibkan memakai ban intermediate. Verstappen yang start dari pole position langsung kehilangan posisi begitu lampu hijau menyala. George Russell dari Mercedes menyalipnya dengan cepat di Tikungan 1. Keberuntungan berpihak pada Verstappen ketika Russell berputar dan menabrak dinding pit pada akhir lap pertama, sehingga posisi terdepan kembali ke tangannya.
Meski finis pertama, Verstappen mengaku tidak senang dengan performa startnya. Dalam wawancara dengan Sky Sports F1, ia mengungkapkan kekecewaannya secara terbuka. "Sepanjang tahun ini start saya buruk," ujarnya. "Kami perlu melakukan sesuatu yang berbeda dan memahami apa masalahnya."
Verstappen secara spesifik menunjuk tim saudara Red Bull, Visa Cash App Racing Bulls, sebagai contoh bahwa ada yang salah dengan prosedur start di garasi tim utama. "Racing Bulls terkadang memiliki start yang bagus," katanya. "Jadi jelas kami melakukan kesalahan. Itu yang harus kami perbaiki besok."
Pembalap asal Belanda itu menyadari bahwa start buruk serupa pada balapan utama Minggu akan menghancurkan peluangnya meraih kemenangan beruntun. Sirkuit jalanan Marina Bay terkenal sempit dan sulit untuk menyalip, sehingga posisi start sangat menentukan.
"Ini target, tapi pasti akan menjadi pertempuran sulit. Karena di sprint, kualifikasi kadang untung-untungan. Saat Anda memakai medium, medium, lalu hanya satu kali pakai soft, kadang berhasil, kadang tidak."
Format sprint membatasi penggunaan ban, memaksa pembalap menjalani sesi kualifikasi dengan ban medium sebelum satu putaran bertekanan tinggi menggunakan ban soft. Hal ini sering menghasilkan urutan grid yang tidak terduga. Verstappen memperkirakan bahwa dalam kualifikasi reguler, para rival utamanya akan lebih dekat dengan kecepatannya karena mereka bisa melakukan beberapa kali putaran dengan ban soft untuk menyempurnakan setelan dan menemukan ritme.
"Sekarang di kualifikasi, semua orang di ban soft punya lebih banyak kesempatan," pungkasnya. "Biasanya mereka bisa menyempurnakan dan masuk ke ritme. Itu tentu membuat segalanya lebih sulit."
Kemenangan sprint ini memang memperlebar peluang Verstappen di klasemen, tetapi masalah start bisa menjadi bumerang jika tidak segera diatasi. Red Bull Racing dituntut untuk segera melakukan evaluasi teknis pada sistem launch control dan prosedur start. Sementara itu, para rival seperti Mercedes dan Ferrari akan memanfaatkan setiap celah untuk menekan dominasi Verstappen di sisa musim.
Pertanyaannya, akankah Verstappen mampu mengatasi kelemahan start dan meraih pole position di kualifikasi nanti? Atau justru rival-rivalnya yang akan memanfaatkan situasi ini untuk merebut kemenangan di GP Singapura?



