Putin Sampaikan Proposal Damai Iran ke Trump, Disusul Kesepakatan Diesel 4 Juta Ton
Baca dalam 60 detik
- Kremlin mengonfirmasi Putin meneruskan pandangan Teheran soal kemungkinan penghentian perang Iran kepada Trump melalui saluran telepon.
- Washington melonggarkan sanksi diesel Rusia hingga April 2027 sebagai imbalan pasokan 4 juta ton ke pasar global.
- Langkah ini memicu kritik keras dari Zelenskyy yang menilai konsesi energi justru memperpanjang konflik, bukan mengakhirinya.

Presiden Rusia Vladimir Putin dikabarkan telah menyampaikan pandangan Iran mengenai kemungkinan berakhirnya perang di Timur Tengah kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Informasi ini pertama kali dilaporkan oleh media negara Rusia, Interfax, yang mengutip juru bicara Kremlin Dmitry Peskov pada Sabtu lalu.
Menurut Peskov, pesan tersebut dikirim Putin "sejalan dengan kesepakatan Presiden Iran Masoud Pezeshkian." Laporan itu muncul hanya berselang sehari setelah Trump mengumumkan bahwa Rusia akan memasok lebih dari 4 juta ton diesel ke pasar global—sebuah kesepakatan yang ia klaim telah disetujui dalam pembicaraan telepon dengan Putin.
Kesepakatan diesel ini menjadi sorotan karena datang di tengah lonjakan harga energi dunia akibat perang di Iran dan Ukraina. Trump merinci bahwa Rusia akan segera mengirim lebih dari 300.000 ton diesel, disusul 500.000 ton pada November, dan 1 juta ton setelahnya. Tambahan 3 juta ton akan dikirim bergantung pada kondisi kilang minyak Rusia. Sebagai imbalannya, Departemen Keuangan AS memberikan pengecualian sanksi sementara terhadap diesel Rusia hingga April 2027.
Langkah ini menuai reaksi keras dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Dalam unggahan di media sosial, ia mengecam kesepakatan tersebut sebagai "hadiah untuk Putin" yang tidak akan membawa perdamaian. "Rusia akan 'membalas' diesel dengan teror dan tipu daya lebih lanjut. Mengizinkan Rusia menjual produk minyak adalah investasi dalam perang yang harus diakhiri, bukan diperpanjang," tegasnya.
Serangan Iran terhadap kapal tanker di Selat Hormuz semakin memperkeruh situasi. Menurut kantor berita Fars yang dekat dengan Garda Revolusi, seorang pejabat senior IRGC menyatakan Iran akan memblokir semua "rute ilegal" melalui Hormuz. Serangan terhadap tanker terjadi hampir setiap hari, sementara ekspor minyak mentah Timur Tengah justru rebound ke level praperang pada September lalu berkat pengawalan militer AS di sepanjang pantai Oman.
Kesepakatan sementara AS-Iran yang ditandatangani Juni lalu untuk menghentikan permusuhan demi negosiasi cepat runtuh. Ketegangan kembali memanas, dan kini Rusia tampil sebagai perantara tak terduga dalam konflik tersebut.
"Hadiah untuk Putin tidak akan membawa perdamaian atau manfaat apa pun bagi dunia yang beradab. Rusia akan 'membalas' diesel dengan teror dan tipu daya lebih lanjut." — Volodymyr Zelenskyy, Presiden Ukraina
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi langsung. Sebagai importir minyak neto, fluktuasi harga diesel global akan memengaruhi biaya logistik dan transportasi domestik. Jika pasokan tambahan dari Rusia meredakan harga, tekanan inflasi energi dalam negeri bisa sedikit berkurang. Namun, ketergantungan pada minyak impor tetap menjadi kerentanan struktural, terutama saat eskalasi geopolitik mengganggu jalur pelayaran internasional.
Pemerintah Indonesia perlu mencermati apakah pelonggaran sanksi AS terhadap Rusia ini akan mengubah peta perdagangan energi global. Langkah Trump yang kontroversial menjelang pemilu sela November mendatang menunjukkan bahwa tekanan politik domestik—terutama dari petani dan konsumen bahan bakar—memainkan peran besar dalam kebijakan luar negeri AS.
Ke depan, pertanyaannya: akankah pasokan diesel Rusia benar-benar menstabilkan harga, atau justru memperpanjang konflik di Ukraina dan memperbesar ketegangan di Timur Tengah? Dunia menunggu langkah berikutnya dari Washington dan Moskow.



