Verstappen Cetak Sejarah di Marina Bay: Pole Sprint Pertama, Pirelli Soroti Taktik Berbeda
Baca dalam 60 detik
- Max Verstappen mengamankan pole sprint F1 Singapura, pencapaian pertama baginya di Marina Bay Street Circuit, mengalahkan George Russell dengan selisih 0,120 detik.
- Pirelli mencatat tiga pendekatan ban berbeda di SQ3, namun menegaskan keunggulan Verstappen lebih karena performa mobil dan keyakinan pembalap, bukan semata strategi satu lap.
- Tantangan trek bergelombang dan berdebu menjadi ujian bagi RB22, tetapi Red Bull berhasil memperbaiki setelan mobil antara FP1 dan kualifikasi sprint.

Max Verstappen akhirnya memecahkan kebuntuan di Marina Bay Street Circuit. Untuk pertama kalinya sepanjang karier Formula 1-nya, pembalap Red Bull itu menutup sesi kualifikasi di Singapura sebagai yang tercepat, meski statusnya bukan pole position resmi melainkan pole sprint. Jumat (waktu setempat) menjadi penanda penting: Verstappen mengungguli George Russell (Mercedes) dengan margin tipis 0,120 detik, sementara Charles Leclerc (Ferrari) tertinggal 0,243 detik di posisi ketiga, diikuti kedua mobil McLaren.
Hasil ini mempertegas kekuatan RB22 di tikungan lambat—karakter yang memang melimpah di sirkuit jalanan Singapura. Namun, Verstappen sendiri mengaku terkejut. "Saya tidak menyangka bisa secepat ini," ujarnya. Ia menyoroti keterbatasan mobil yang masih terasa, terutama saat menghadapi permukaan bergelombang dan gundukan. "Dua balapan terakhir kami memang lebih kuat, tapi trek ini masih menyoroti kelemahan kecil pada mobil kami," tambahnya.
Yang menarik, Verstappen memilih pendekatan berbeda dari para pesaingnya di segmen SQ3. Ia hanya menjalani satu flying lap dengan ban soft, sementara Russell dan Leclerc melakukan beberapa lap pemanasan sebelum mencetak waktu. Perbedaan strategi ini membuat Pirelli angkat bicara. "Kami melihat tiga pendekatan berbeda untuk tiga pembalap teratas," kata Simone Berra, chief engineer Pirelli. Menurutnya, Verstappen melakukan out-push-in, Russell out-push-double cool lalu push lagi, dan Leclerc out-push-one cool kemudian push. "Semua pendekatan berhasil dengan baik karena degradasi rendah dan kemampuan ban untuk pulih," jelas Berra.
Meski pendekatan satu lap terlihat berani, Berra menegaskan itu bukan faktor penentu utama. "Saya tidak berpikir salah satu dari tiga pendekatan itu yang terbaik. Itu lebih soal performa mobil dan faktor pembalap," katanya. Ia menambahkan bahwa di sirkuit jalanan, kepercayaan diri pembalap meningkat lap demi lap. "Max memilih langsung push semaksimal mungkin, itu pendekatan yang berbeda dari sisi pembalap."
Pendekatan satu flying lap memang berisiko: selain potensi bendera kuning atau merah, batas lintasan juga menjadi ancaman. Isack Hadjar dan Pierre Gasly sempat merasakannya. Namun, Pirelli menegaskan Verstappen tetap yang tercepat secara merit. "Soal suhu ban dan grip puncak, performa bagus bisa didapat selama beberapa lap. Bahkan bisa membaik di percobaan kedua dengan ban bekas, jadi bukan keuntungan besar bagi Max. Menarik karena dia memutuskan hanya sekali dan berhasil," ujar Berra.
"Kami kesulitan dengan gundukan, tapi Max, Isack, dan para engineer melakukan pekerjaan hebat antara FP1 dan SQ. Mobil membaik, dan pole ini menunjukkan semua orang menderita dengan permukaan trek." — Laurent Mekies, Team Principal Red Bull
Kepala tim Red Bull, Laurent Mekies, mengakui trek Singapura sangat menantang. "FP1 tadi pagi berat untuk kedua mobil. Sangat bergelombang," ujarnya. Meski demikian, ia memuji upaya tim yang berhasil memperbaiki setelan mobil. "Ini belum sempurna, tapi pole sudah di tangan. Ini akhir pekan yang panjang, tapi bagus bisa kembali ke depan."
Bagi Red Bull, hasil ini menjadi sinyal positif setelah beberapa balapan terakhir yang kurang mulus. Kemenangan di kualifikasi sprint—meski tidak dihitung sebagai pole resmi—tetap memberikan modal berharga untuk balapan sprint dan grand prix. Sementara itu, para rival seperti Mercedes dan Ferrari harus mencari celah untuk mengejar ketertinggalan di sisa akhir pekan.
Pertanyaannya kini: apakah Verstappen mampu mengubah pole sprint ini menjadi kemenangan di balapan utama? Dengan trek yang masih akan berevolusi dan cuaca Singapura yang tak terduga, keunggulan tipis bisa saja sirna. Namun, satu hal yang pasti, dominasi Verstappen di Marina Bay malam ini telah mengirim pesan jelas ke seluruh paddock.



