Kesalahan Kontrol Balapan di Kualifikasi Sprint F1 Singapura Picu Kemarahan Tim
Baca dalam 60 detik
- Kesalahan manusia di kontrol balapan membuat mode overtake tidak aktif setelah bendera merah di SQ1, memengaruhi performa beberapa mobil.
- Williams dan Racing Bulls sangat frustrasi, sementara Aston Martin mempertimbangkan protes terkait hasil kualifikasi sprint.
- FIA telah meminta maaf dan mengakui kesalahan, namun hasil SQ1 tidak dapat diubah karena keterbatasan regulasi dan ban.

Kesalahan manusia dalam kontrol balapan pada sesi kualifikasi sprint Grand Prix Singapura menyebabkan beberapa pembalap kehilangan tenaga ekstra, memicu kemarahan tim dan memunculkan ancaman protes dari Aston Martin. Insiden ini terjadi di Sirkuit Marina Bay ketika sesi SQ1 dihentikan sementara untuk membersihkan serpihan sayap depan Sergio Perez.
Setelah sesi dilanjutkan, mode overtake—yang biasanya aktif selama kualifikasi untuk memberikan tambahan tenaga listrik—tidak diaktifkan kembali. Akibatnya, sejumlah pembalap melaporkan mobil mereka terasa kurang bertenaga. Petugas kontrol balapan menyadari kesalahan tersebut dan sempat mengaktifkan mode itu selama 27 detik sebelum kembali mematikannya. Namun, dampaknya sudah terlanjur merusak hasil SQ1 karena beberapa mobil telah mencatatkan waktu terbaik sebelum bendera merah, sementara yang lain tidak bisa meningkatkan catatan waktu tanpa tambahan tenaga.
Tim yang paling dirugikan antara lain Arvid Lindblad, Lance Stroll, dan kedua pembalap Williams yang tersingkir di SQ1. Menurut informasi yang dihimpun Motorsport.com, Williams sempat meminta agar semua 22 mobil diizinkan mengikuti SQ2 sebagai kompensasi, namun steward menolak karena tidak yakin memiliki kewenangan regulasi. Permintaan untuk mengulang SQ1 juga tidak bisa dipenuhi karena keterbatasan set ban.
Direktur FIA untuk kategori single-seater, Nikolas Tombazis, bertemu dengan tim dan pembalap yang terdampak. Williams dan Racing Bulls dikabarkan sangat kecewa, namun keduanya memilih tidak memprotes hasil kualifikasi sprint. Aston Martin masih membuka opsi untuk mengambil langkah hukum jika FIA tidak melakukan perbaikan yang memadai. Tim asal Inggris itu menginginkan grid balapan sprint pada Sabtu pagi mencerminkan persaingan yang adil dan setara.
"FIA mengakui bahwa kesalahan manusia yang tidak menguntungkan ini berdampak pada performa mobil tertentu berdasarkan waktu putaran dan posisi mereka di lintasan," demikian pernyataan resmi FIA. "Sesi kedua dan ketiga kualifikasi sprint tidak terpengaruh."
Insiden ini merupakan kesalahan signifikan kedua dalam dua pekan berturut-turut. Sebelumnya, start Grand Prix Bahrain di Malaysia tertunda akibat gangguan perangkat lunak pada sistem kontrol unit daya. Masalah di kontrol balapan FIA ini juga terpisah dari persoalan timing yang dikelola manajemen F1, yang gagal mencatat beberapa waktu putaran selama SQ1. Ketidakpastian catatan waktu semakin membingungkan pembalap apakah mereka telah lolos ke SQ2.
Dalam konteks Indonesia, insiden ini menjadi pengingat bahwa penyelenggaraan balapan internasional, termasuk MotoGP di Mandalika, menuntut kesiapan teknologi dan prosedur yang ketat. Kesalahan kecil dalam sistem kontrol dapat merusak integritas kompetisi dan memicu protes. Indonesia yang tengah berupaya menjadi tuan rumah event motorsport kelas dunia perlu memastikan infrastruktur dan sumber daya manusia di kontrol balapan memiliki redundansi yang memadai. Kejadian di Singapura bisa menjadi pelajaran berharga untuk menghindari kontroversi serupa di masa depan.
Ke depan, FIA dihadapkan pada tekanan untuk meningkatkan prosedur operasional dan transparansi. Meskipun hasil SQ1 tidak dapat diubah, preseden ini dapat memicu diskusi tentang perlunya mekanisme koreksi yang lebih fleksibel dalam regulasi olahraga motorsport. Akankah FIA merevisi aturan untuk mengakomodasi situasi darurat serupa, atau justru memperketat standar agar kesalahan manusia tidak terulang?



