EU Kucurkan €21 Miliar untuk 46 Proyek Mineral Kritis, Bidik Kemandirian dari China
Baca dalam 60 detik
- Uni Eropa menggelontorkan dana €21 miliar guna mempercepat pasokan bahan mentah kritis lewat 46 proyek strategis hingga 2030.
- Langkah ini sebagai respons atas ketergantungan tinggi pada China dan potensi krisis dagang yang mengancam sektor otomotif, pertahanan, serta energi terbarukan.
- Keberhasilan target 2030 dipertanyakan setelah beberapa proyek gagal, sementara Jepang menjadi contoh sukses diversifikasi pasokan.

Uni Eropa resmi mengumumkan dukungan untuk 46 proyek strategis bahan mentah kritis dengan total nilai pendanaan mencapai €21 miliar (sekitar Rp357 triliun). Langkah ini diambil untuk mempercepat pasokan lithium, galium, dan logam tanah jarang yang selama ini banyak diimpor dari China, serta mengantisipasi potensi krisis perdagangan dalam beberapa bulan mendatang.
Komisioner Industri Uni Eropa, Stéphane Séjourné, menegaskan bahwa blok tersebut sedang "mengeluarkan segala upaya" untuk menghindari krisis. "Kita bisa menghadapi krisis dalam beberapa bulan ke depan. Ketegangan dagang dapat memicu krisis di sejumlah sektor. Kita harus siap, dan kita sedang bersiap sekarang," ujarnya dalam konferensi pers, Jumat (9/10/2026).
Proyek-proyek ini mencakup pembangunan pabrik lithium, galium, dan tanah jarang yang menjadi komponen vital bagi industri otomotif, pertahanan, dan energi terbarukan. Séjourné menyebut tiga proyek ikonik: pabrik tanah jarang Carester di dekat Pau, Prancis barat daya, yang dijadwalkan beroperasi akhir 2026 dan memproduksi disprosium serta terbium—dua bahan yang hampir seluruhnya diimpor dari China. Pabrik ini diproyeksikan menyumbang sekitar 15% produksi global oksida tersebut. Selain itu, ada pabrik galium di Yunani yang sudah beroperasi, dan pabrik ekstraksi lithium Keliber di Finlandia yang juga telah berjalan setelah mendapat dukungan €150 juta dari Bank Investasi Eropa.
Langkah ini merupakan bagian dari Critical Raw Materials Act 2024 yang mewajibkan Komisi Eropa mengurangi ketergantungan pada negara ketiga. Status "flagship" yang diberikan tidak menyertakan dana langsung, tetapi mempercepat perizinan dan membantu mobilisasi pendanaan. Uni Eropa berharap dapat meniru Jepang, yang berhasil menurunkan ketergantungan pada China untuk tanah jarang dari 90% menjadi 60% sejak 2011, ketika Beijing melarang ekspor sekitar 20 bahan ke Jepang dengan alasan penggunaan militer.
Meski demikian, sejumlah kalangan industri di Eropa meragukan efektivitas skema ini. Kritik muncul karena target ambisius 2030 dinilai sulit tercapai. Sebuah contoh nyata adalah Viridian Lithium, pemurni lithium asal Prancis yang mendapat status strategis UE pada 2025, namun justru dilikuidasi secara hukum pada Maret tahun ini. Sebelumnya, 23 dari 60 proyek yang ditetapkan strategis pada 2025 mengirim surat kepada Komisi Eropa, meminta tindakan lebih lanjut untuk "segera membuka proyek, terutama yang menuju keputusan investasi akhir dan menghadapi tekanan likuiditas serta pasar yang akut."
"Pertambangan dibuka, pabrik dibangun, perjanjian pembiayaan ditandatangani, dan rantai nilai Eropa sedang muncul," kata Séjourné, seraya menambahkan bahwa target utama adalah memenuhi kewajiban hukum dan tantangan geopolitik yang bisa mengejar dengan cepat.
Di tengah ketidakpastian global, langkah Uni Eropa ini juga berdampak pada Indonesia. Sebagai pemasok utama nikel, timah, dan bauksit, Indonesia dapat memanfaatkan peluang kerja sama diversifikasi pasokan. Namun, Indonesia juga perlu waspada terhadap potensi pergeseran permintaan global yang dapat memengaruhi harga komoditas. Pemerintah Indonesia didorong untuk memperkuat industri pengolahan dalam negeri agar tidak hanya menjadi pengekspor bahan mentah, tetapi juga pemain dalam rantai pasok global.
Ke depan, keberhasilan Uni Eropa akan sangat bergantung pada eksekusi proyek dan stabilitas hubungan dagang dengan China. Jika ketegangan meningkat, blok tersebut mungkin perlu mempercepat realisasi proyek atau mencari mitra alternatif. Pertanyaannya, mampukah Eropa mewujudkan kemandirian mineral sebelum krisis benar-benar melanda?



