Starlink Mobile Borong Spektrum 800MHz, Siap Tantang AT&T hingga Verizon?
Baca dalam 60 detik
- SpaceX mengakuisisi 14MHz spektrum low-band 800MHz untuk Starlink Mobile, memperkuat penetrasi sinyal dalam ruangan.
- FCC menyetujui konstelasi Gen2 dengan 15.000 satelit baru, diklaim beri bandwidth 100 kali lipat generasi saat ini.
- Analis menilai langkah ini belum cukup menggoyang operator besar AS karena keterbatasan spektrum dan infrastruktur darat.

SpaceX resmi mengumumkan akuisisi lisensi spektrum low-band 800MHz seluas 14MHz untuk layanan Starlink Mobile. Langkah ini disebut sebagai fondasi bagi ambisi perusahaan milik Elon Musk tersebut untuk menjelma menjadi operator seluler besar di Amerika Serikat, menantang dominasi AT&T, T-Mobile, dan Verizon yang selama ini menguasai pasar.
Spektrum 800MHz dikenal memiliki karakteristik propagasi yang baik untuk menembus dinding dan hambatan fisik lainnya, sehingga sangat ideal untuk menyediakan sinyal di dalam gedung. Selama ini, Starlink Mobile mengandalkan spektrum mid-band yang menawarkan kecepatan tinggi tetapi kurang optimal untuk penetrasi indoor. Kombinasi kedua pita frekuensi itu diyakini dapat menghadirkan layanan yang lebih komprehensif.
Tak hanya soal spektrum, SpaceX juga mendapatkan lampu hijau dari Federal Communications Commission (FCC) untuk mengajukan konstelasi Gen2. Persetujuan ini membuka jalan bagi peluncuran hingga 15.000 satelit baru yang diklaim mampu menghadirkan bandwidth lebih dari 100 kali lipat dibandingkan generasi saat ini. Dengan tambahan ini, Starlink Mobile berpotensi menyediakan layanan mobile broadband kecepatan tinggi di seluruh dunia, termasuk di wilayah terpencil.
Meski terdengar menjanjikan, analis industri menilai langkah ini belum serta-merta mengubah peta persaingan. Tim Farrar dari TMF Associates menyatakan kepada CNBC bahwa akuisisi spektrum ini memang menambah panas persaingan antara SpaceX dan operator seluler, namun jumlah spektrum yang dimiliki masih terbatas. Ia menekankan bahwa untuk mendapatkan penetrasi sinyal yang andal di area perkotaan, SpaceX tetap harus membangun menara pemancar di darat.
"Ini menambah bahan bakar dalam pertempuran antara SpaceX dan operator seluler, tetapi jumlah spektrumnya masih sangat terbatas, dan untuk mendapatkan penetrasi gedung yang andal di perkotaan, SpaceX harus menempatkan menara di darat," ujar Farrar.
Pernyataan itu diperkuat oleh fakta bahwa operator besar seperti AT&T, T-Mobile, dan Verizon telah memiliki jaringan infrastruktur darat yang masif dan pengalaman puluhan tahun. Mereka juga menguasai spektrum dalam jumlah besar di berbagai pita frekuensi. Namun, klaim CEO AT&T pekan lalu yang meragukan viabilitas rencana Starlink Mobile tampaknya perlu ditinjau ulang setelah akuisisi ini.
Bagi Indonesia, perkembangan ini bisa menjadi cermin sekaligus peluang. Sebagai negara kepulauan dengan banyak daerah terpencil yang masih blankspot, kehadiran layanan satelit seperti Starlink Mobile berpotensi mempercepat pemerataan akses internet. Namun, tantangan regulasi dan infrastruktur darat juga tidak kecil. Pemerintah perlu menyiapkan kerangka hukum yang jelas agar kehadiran operator berbasis satelit tidak sekadar menjadi ancaman bagi operator nasional, tetapi juga mendorong kolaborasi untuk menjangkau wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).
Ke depan, SpaceX masih harus menggelontorkan investasi besar untuk membangun infrastruktur darat dan menambah spektrum. Jika berhasil, lanskap telekomunikasi global bisa berubah signifikan. Akankah operator tradisional mulai melirik teknologi satelit untuk mempertahankan posisi mereka, atau justru SpaceX yang akan memaksa mereka beradaptasi dengan cara baru?



