Topan Isaias Hantam Produksi Minyak AS, Harga Diesel Dunia Terancam
Baca dalam 60 detik
- Topan Isaias memaksa penutupan 1,3 juta barel per hari produksi minyak di Teluk Meksiko, setara 63% dari total output kawasan tersebut.
- Dua kilang di Mississippi dan Alabama dengan kapasitas gabungan 466.000 barel per hari berada di jalur badai, berpotensi mengganggu pasokan diesel global yang sudah ketat.
- Indonesia perlu mewaspadai lonjakan harga minyak mentah dan bahan bakar impor jika gangguan pasokan berlanjut, mengingat ketergantungan pada impor BBM.

Badai Topan Isaias yang bergerak menuju pesisir Teluk Meksiko telah memaksa perusahaan minyak menghentikan sekitar 1,3 juta barel per hari produksi minyak mentah AS per Kamis (8/10), atau setara 63% dari total output di kawasan tersebut. Badai kategori 3 dengan kecepatan angin 120 mil per jam ini diprediksi mendarat Jumat malam atau Sabtu dini hari, mengancam tidak hanya produksi hulu tetapi juga infrastruktur kilang di Mississippi dan Alabama.
Menurut Biro Keselamatan dan Penegakan Lingkungan AS (BSEE), penutupan tersebut merupakan respons cepat terhadap jalur badai yang berbelok menjauhi pusat kilang padat di Louisiana selatan. Namun, dua fasilitas pengolahan minyak kini berada di zona bahaya: kilang Chevron di Pascagoula, Mississippi, dan kilang Vertex Energy di Saraland, Alabama. Keduanya memiliki kapasitas gabungan 466.000 barel per hari, atau sekitar 2,4% dari total kapasitas kilang nasional AS. Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, menyatakan bahwa kehilangan kapasitas kilang apa pun saat pasokan diesel berada di level terendah musiman sejak 1982 adalah pukulan telak.
Lipow menambahkan bahwa risiko terbesar bagi kedua kilang adalah kehilangan pasokan listrik atau kerusakan akibat banjir. Jika sampai berhenti operasi, dibutuhkan waktu satu hingga dua minggu untuk memulai kembali produksi, dengan catatan tidak ada kerusakan permanen. Situasi ini diperparah oleh fakta bahwa kilang-kilang di Teluk Meksiko sudah beroperasi pada tingkat 95% dari kapasitas, sehingga tidak ada kelonggaran untuk mengkompensasi kehilangan produksi.
"Tidak ada ruang cadangan dalam sistem. Setiap gangguan akan langsung terasa di pasar," ujar Lipow dalam catatannya, Jumat.
Dampak badai ini tidak hanya pada produksi minyak mentah. Kevin Book, managing director ClearView Energy Partners, mengingatkan bahwa dalam sejarahnya, harga bahan bakar justru naik saat kilang-kilang Teluk terganggu, sementara harga minyak mentah bisa turun. Fenomena ini terjadi karena kilang yang berhenti tidak lagi meminta pasokan minyak mentah, tetapi juga tidak memproduksi bahan bakar untuk konsumen. Selain itu, lalu lintas tanker akan terganggu; pengiriman minyak mentah ke kilang dan pengangkutan bensin, jet fuel, serta diesel dari kilang akan mengalami penundaan. Florida diprediksi mengalami keterlambatan pasokan bahan bakar.
Krisis ini terjadi di tengah pasar energi global yang sudah rapuh. Serangan Ukraina terhadap kilang-kilang Rusia memaksa Moskow melarang ekspor diesel, sementara Iran dan sekutunya Houthi juga menyerang fasilitas pengolahan di Timur Tengah. Kilang-kilang AS memanfaatkan margin keuntungan lebar dengan mengekspor diesel ke seluruh dunia, terutama Eropa. Namun, dengan gangguan saat ini, kemampuan AS untuk memenuhi permintaan global bisa terganggu.
Bagi Indonesia, gangguan pasokan minyak mentah dan produk kilang di Teluk Meksiko dapat berdampak pada harga minyak mentah dunia, yang menjadi acuan impor. Meskipun Indonesia bukan importir utama dari AS, fluktuasi harga global akan memengaruhi APBN melalui subsidi energi dan harga BBM nonsubsidi. Pemerintah perlu mengantisipasi potensi kenaikan harga minyak mentah jika badai menyebabkan kerusakan berkepanjangan. Selain itu, ketegangan geopolitik di Eropa Timur dan Timur Tengah yang belum mereda membuat pasar energi rentan terhadap guncangan pasokan.
Pertanyaan besarnya: apakah badai ini hanya gangguan sementara atau awal dari krisis pasokan yang lebih dalam? Dengan kapasitas kilang yang sudah maksimal dan stok diesel yang tipis, setiap hari penutupan berarti tekanan tambahan pada harga energi global. Dalam beberapa hari ke depan, arah badai dan kecepatan pemulihan infrastruktur akan menentukan seberapa besar guncangan yang harus diserap pasar—termasuk Indonesia.



