Robot Anjing Korea Selatan Cetak Sejarah: Lari Maraton 42 Km dengan Satu Baterai
Baca dalam 60 detik
- RAIBO2, robot berkaki empat asal Korea Selatan, menjadi quadruped pertama yang menuntaskan jarak maraton resmi tanpa henti mengisi daya.
- Efisiensi energinya melampaui manusia, dengan biaya transportasi 0,25 berbanding 0,37 pada manusia, berkat optimasi perangkat keras dan lunak.
- Terobosan ini membuka peluang robot berkaki empat untuk misi pencarian dan penyelamatan di medan sulit, termasuk di Indonesia.

Sebuah robot berkaki empat asal Korea Selatan berhasil menuntaskan lomba maraton penuh sejauh 42,2 kilometer hanya dengan sekali pengisian baterai, menandai tonggak baru dalam daya tahan robotik. RAIBO2, demikian nama robot itu, finis dalam ajang Sangju Dried-Persimmon Marathon ke-22 dengan catatan waktu 4 jam 19 menit, mengalahkan keterbatasan yang selama ini membelenggu robot berkaki empat.
Prestasi yang diraih pada 17 November 2024 itu baru diungkap secara rinci dalam jurnal Nature edisi 23 September lalu. Para peneliti mengungkap bahwa keberhasilan ini bukan sekadar soal baterai besar, melainkan hasil rekayasa menyeluruh pada sistem kontrol, komponen mekanis, dan strategi penghematan energi.
Selama ini, robot berkaki empat unggul dalam menaklukkan medan yang sulit dilalui robot beroda, seperti tangga dan jalur berbatu. Namun, daya tahan menjadi titik lemah karena menggerakkan banyak sendi sekaligus untuk menopang berat tubuh menguras energi besar. "Berbeda dengan robot beroda, quadruped terus-menerus mengeluarkan energi di sendi-sendinya untuk menopang berat badan dan mengalami kehilangan energi kinetik saat kaki menyentuh tanah," tulis para peneliti.
Ujian sesungguhnya terjadi di lintasan menanjak. RAIBO2 harus melewati dua tanjakan setinggi 50 meter dengan kemiringan mencapai 10 derajat, yang menguras energi ekstra. Sebelumnya, robot ini pernah gagal di kilometer 37 dalam lomba lintas medan karena baterai habis, sebagian akibat sering mengubah kecepatan menyesuaikan pelari di sekitarnya.
Untuk mengatasi itu, tim pengembang menambah kapasitas baterai sebesar 33% dan menyempurnakan sistem kontrol, termasuk kontrol kekakuan sendi yang memungkinkan robot melunakkan kaki saat menyerap benturan atau memberi dorongan kuat. Hasilnya, jangkauan maksimum RAIBO2 meningkat menjadi 67 km dalam sekali cas, meski pada jalur lurus.
"Kami berhasil meningkatkan efisiensi energi secara signifikan melalui komponen mekanis ringan, sirkuit penggerak motor berugi rendah, dan kebijakan lokomosi yang dioptimalkan," ujar para peneliti dalam studi tersebut.
Efisiensi itu tercermin dari biaya transportasi total (total cost of transport) RAIBO2 yang hanya 0,25, jauh lebih rendah dari manusia yang berada di angka 0,37. Ini menjadikannya robot quadruped pertama yang melampaui efisiensi manusia. Kemampuan regenerasi energi saat menuruni bukit, mirip kendaraan listrik, turut membantu mengimbangi konsumsi daya saat mendaki.
Bagi Indonesia, terobosan ini membuka bayangan baru. Dengan topografi vulkanik dan hutan tropis yang menantang, robot berkaki empat berdaya tahan tinggi dapat dimanfaatkan untuk misi pencarian dan penyelamatan korban bencana, pemantauan gunung berapi, atau pengiriman logistik ke daerah terpencil. Selama ini, operasi semacam itu masih mengandalkan tenaga manusia dan helikopter yang berisiko tinggi.
Para pengembang memperkirakan RAIBO2 masih bisa menempuh tambahan 25 km lagi, hingga total 67 km, berkat peningkatan kapasitas baterai. Daya jelajah sejauh itu disebut dapat memperluas peran robot quadruped di zona bencana dan pegunungan, tempat robot beroda tidak praktis. Robot dapat membawa kamera, sensor, atau peralatan komunikasi melintasi medan yang tidak rata.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah robot berkaki empat bisa menandingi manusia dalam hal ketahanan, melainkan seberapa cepat teknologi ini diadopsi untuk tugas-tugas berbahaya yang selama ini mengorbankan nyawa. Jika RAIBO2 saja mampu berlari maraton di lintasan berbukit, bukan tidak mungkin generasi berikutnya akan menjelajah medan yang lebih ekstrem dengan intervensi manusia yang minimal.



