Pilot Tewas dalam Serangan Houthi di Bandara Riyadh, Koalisi Saudi Janji Balas
Baca dalam 60 detik
- Tiga warga Saudi, termasuk seorang pilot, tewas dalam dua serangan Houthi di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh.
- Ratusan penerbangan dibatalkan, namun otoritas Saudi menyatakan operasional bandara kembali normal sehari setelah insiden.
- Koalisi pimpinan Saudi berjanji merespons tegas, sementara diplomasi AS-Iran menekan harga minyak mentah.

Serangan udara yang dilancarkan kelompok Houthi yang didukung Iran menghantam Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, menewaskan tiga warga negara Saudi, termasuk seorang pilot. Otoritas Penerbangan Sipil Saudi (GACA) mengonfirmasi bahwa dua serangan terpisah terjadi pada Kamis, dengan target pertama fasilitas bandara dan yang kedua sebuah pesawat milik maskapai Saudia. Kapten Hamoud Ali Alkalthami menjadi salah satu korban tewas dalam insiden tersebut.
Insiden ini menandai eskalasi terbaru dalam kampanye militer Houthi terhadap infrastruktur sipil Arab Saudi. Sebelumnya, kelompok militan tersebut telah meningkatkan serangan ke arah Riyadh, termasuk klaim menargetkan lokasi-lokasi "sensitif" di kota itu pada bulan lalu. Serangan Kamis memicu pembatalan ratusan penerbangan dari Arab Saudi, menurut data Cirium, meskipun GACA menyatakan operasi bandara dan lalu lintas udara telah kembali normal pada Jumat.
Koalisi pimpinan Saudi yang berperang melawan Houthi menyatakan akan memberikan respons tegas. Juru bicara koalisi, Mayor Jenderal Turki al-Malki, menegaskan bahwa serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil tidak akan dibiarkan. Koalisi juga mengklaim telah menghancurkan tiga peluncur rudal yang digunakan kelompok tersebut. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya tekanan militer setelah pasukan Yaman merebut kembali kota pelabuhan strategis di Laut Merah dari Houthi.
"Serangan Houthi terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil akan mendapat respons tegas," ujar Mayor Jenderal Turki al-Malki.
Di sisi lain, dinamika diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran turut mempengaruhi pasar energi. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Washington tidak akan melancarkan serangan ke Iran hingga setelah pemilihan sela November mendatang. Ia juga menyebut sedang menjalin "diskusi produktif" dengan Teheran. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dikabarkan sedang meninjau proposal AS dan akan merespons dalam beberapa hari ke depan. Pernyataan ini sempat meredakan harga minyak, meskipun kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan jangka panjang masih membayangi.
Bagi Indonesia, eskalasi di Timur Tengah memiliki implikasi langsung terhadap perekonomian domestik. Sebagai negara net importir minyak, kenaikan harga minyak mentah dunia akan membebani APBN melalui subsidi energi dan meningkatkan biaya impor. Pemerintah perlu mengantisipasi volatilitas harga minyak yang dapat mempengaruhi nilai tukar rupiah dan inflasi. Selain itu, ketegangan di kawasan dapat mengganggu jalur pelayaran internasional, yang berpotensi meningkatkan biaya logistik dan harga barang impor.
Ke depan, situasi di Yaman dan hubungan AS-Iran akan menjadi penentu arah stabilitas kawasan. Jika ketegangan terus meningkat, harga minyak berpotensi kembali melonjak dan menekan pertumbuhan ekonomi global, termasuk Indonesia. Sebaliknya, jika diplomasi berhasil, tekanan terhadap pasar energi dapat mereda. Namun, dengan pemilu sela AS yang semakin dekat, keputusan strategis Washington akan sangat dipengaruhi oleh pertimbangan politik domestik. Akankah ketegangan ini mereda atau justru memicu konflik yang lebih luas?



