Headphone Bluetooth Mahal Tak Selalu Bersuara Emas: Ini Penyebab dan Solusinya
Baca dalam 60 detik
- Banyak pengguna headphone premium mengeluh kualitas audio di bawah ekspektasi, padahal perangkat berharga jutaan rupiah itu mendukung codec canggih.
- Penyebab utamanya bukan kerusakan hardware, melainkan ketidaksesuaian profil suara, platform streaming, dan fitur ANC yang mengubah karakter output.
- Dengan penyesuaian equalizer dan pemilihan sumber audio yang tepat, pengalaman mendengarkan bisa meningkat signifikan tanpa perlu membeli perangkat baru.

Membeli headphone Bluetooth kelas atas seperti Sony WH-1000XM6 seharga belasan juta rupiah sering kali tidak serta-merta menghadirkan pengalaman audio yang memukau. Banyak pengguna justru merasa suara yang dihasilkan datar atau bahkan mengecewakan. Menurut sejumlah pengamat audio, akar masalahnya bukan pada kerusakan unit, melainkan pada ketidakcocokan antara karakter perangkat, genre musik yang didengarkan, dan sumber audio yang digunakan.
Seorang pengguna yang juga penulis teknologi mengisahkan pengalamannya dengan Sony WH-1000XM4. Lagu progresif rock berusia puluhan tahun terdengar luar biasa, tetapi ketika beralih ke musik metal yang agresif, campurannya justru terlalu ramai dan menggelegar. Ia kemudian memanfaatkan aplikasi Sound Connect untuk menciptakan profil suara berbentuk V—treble tinggi, mid rendah, bass tinggi—yang akhirnya membuat musik metal terdengar lebih seimbang. Kisah ini menunjukkan bahwa equalizer bukan sekadar pelengkap, melainkan alat penting untuk menyesuaikan output dengan preferensi telinga.
Faktor lain yang sering diabaikan adalah platform streaming. Layanan seperti Spotify dan Apple Music memang praktis dan menawarkan jutaan lagu, tetapi keduanya masih mengandalkan codec SBC dan AAC yang bersifat lossy. Bagi pemilik perangkat yang mendukung codec hi-res, beralih ke Tidal atau Qobuz yang menyediakan streaming FLAC hingga 24-bit/192kHz bisa menjadi lompatan kualitas yang signifikan. Sayangnya, pengguna iPhone tidak bisa menikmati audio lossless secara nirkabel karena tidak ada perangkat iOS yang mampu mendekode format tersebut melalui Bluetooth. Solusinya adalah koneksi kabel USB-C, yang memang lebih stabil dan minim kompresi, meski perbedaannya mungkin sulit dideteksi oleh telinga awam.
Fitur active noise-canceling (ANC) juga dapat memengaruhi kualitas suara. Teknologi ini bekerja dengan mikrofon dan perangkat lunak untuk meredam kebisingan, tetapi proses tersebut terkadang menimbulkan efek samping pada reproduksi audio. Cobalah mendengarkan lagu yang sama dengan ANC aktif dan nonaktif; pada beberapa model, perbedaan karakter suara bisa cukup terasa. Selain itu, kualitas rekaman asli memegang peranan besar. Lagu lawas yang telah di-remaster dengan baik, seperti katalog The Beatles, tetap enak didengar, sementara rekaman era 1970-an tanpa perbaikan akan memperdengarkan distorsi dan noise yang justru diperkuat oleh headphone mahal.
Bagi konsumen Indonesia, fenomena ini relevan mengingat pasar headphone premium terus tumbuh. Banyak pengguna di kota-kota besar membeli perangkat mahal untuk bekerja dari rumah atau menikmati musik di perjalanan, tetapi jarang memaksimalkan fitur equalizer atau beralih ke layanan streaming berkualitas tinggi. Padahal, dengan penyesuaian sederhana, investasi jutaan rupiah itu bisa terasa jauh lebih memuaskan. Produsen pun dituntut untuk lebih gencar mengedukasi pengguna tentang pentingnya kalibrasi suara dan pemilihan sumber audio yang tepat.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah platform streaming akan segera mengadopsi codec lossless secara universal, atau akankah produsen headphone menyertakan profil suara otomatis yang menyesuaikan diri dengan genre musik? Hingga saat itu tiba, pemilik headphone mahal sebaiknya mulai bereksperimen dengan equalizer dan tidak ragu mencoba koneksi kabel untuk merasakan potensi penuh perangkat mereka.



