Satelit Soviet Meteor 2-7 Hancur di Orbit, Sinyal Bahaya Sampah Antariksa Makin Nyata
Baca dalam 60 detik
- Satelit cuaca era Uni Soviet Meteor 2-7 pecah menjadi puluhan serpihan di orbit rendah Bumi, terdeteksi oleh jaringan radar LeoLabs di Australia Barat.
- Insiden ini melengkapi rangkaian fragmentasi satelit dalam enam bulan terakhir, memperkuat kekhawatiran akan lonjakan sampah antariksa yang sulit dikendalikan.
- Para pakar menilai tabrakan dengan satelit operasional tinggal menunggu waktu, sementara operator seperti Starlink harus bermanuver puluhan kali per tahun untuk menghindari benturan.

Satelit cuaca Meteor 2-7 yang diluncurkan Uni Soviet pada 1981 kembali menjadi sorotan setelah terdeteksi hancur berkeping-keping di orbit rendah Bumi. Perusahaan pemantau antariksa LeoLabs menangkap sinyal fragmentasi saat satelit tua itu melintas di atas stasiun radar mereka di Australia Barat, dengan perkiraan puluhan serpihan berserakan di sekitar lokasi orbitnya.
Peristiwa ini bukan yang pertama bagi Meteor 2-7. Pakar sampah antariksa Jim Shell mencatat melalui platform X bahwa satelit tersebut pernah mengalami kehancuran serupa pada Maret 2004. Kali ini, fragmentasi terjadi di ketinggian sekitar 855 kilometer, wilayah yang menurut Shell memiliki kepadatan spasial serpihan paling tinggi di orbit rendah Bumi.
Yang membuat insiden ini lebih mengkhawatirkan adalah posisinya dalam sebuah pola. Dalam kurun enam bulan terakhir, setidaknya empat objek lain mengalami nasib serupa: satelit mata-mata Amerika Serikat USA 32 pada September 2026, badan roket China pada akhir Agustus 2026, satelit Starlink milik SpaceX sekitar empat bulan sebelumnya, serta satelit inspeksi Rusia pada Januari 2026 di orbit geostasioner yang jauh lebih tinggi.
LeoLabs menyebut rangkaian kejadian ini sebagai tren yang mengkhawatirkan bagi keselamatan dan keamanan antariksa. Mereka menekankan perlunya pengawasan berkelanjutan terhadap objek-objek di orbit, karena fragmentasi yang terus berulang berpotensi menciptakan efek berantai: semakin banyak satelit hancur, semakin banyak serpihan yang mengancam wahana lain.
Data Badan Antariksa Eropa (ESA) mendukung peringatan tersebut. Pada 2005, ESA memantau sekitar 16.000 serpihan di orbit Bumi. Dua dekade kemudian, jumlahnya melampaui 44.000. Meskipun mayoritas berukuran kecil, kecepatan orbit yang sangat tinggi membuat serpihan-serpihan itu menyimpan energi besar dan mampu menimbulkan kerusakan serius jika menabrak satelit atau stasiun antariksa.
"Saya kira kita sedang menuju situasi di mana akan ada tabrakan yang melibatkan satelit operasional di konstelasi," ujar Hugh Lewis, pakar keberlanjutan antariksa dan profesor astronautika dari University of Birmingham, seperti dikutip Space.com. "Dan itu bukan karena kurangnya upaya menghindar. Itu akan terjadi justru di tengah semua manuver yang dilakukan."
Ancaman tidak hanya datang dari serpihan pasif. Satelit aktif kini harus sering bermanuver untuk menghindari satelit lain, terutama karena orbit rendah Bumi semakin padat. Dalam laporan semesterannya kepada FCC Amerika Serikat, SpaceX mengungkapkan bahwa setiap satelit Starlink melakukan lebih dari 40 manuver penghindaran per tahun antara Juni 2025 dan Mei 2026.
Meski peringatan demi peringatan muncul, pemerintah dan perusahaan swasta di berbagai negara tetap berencana meluncurkan puluhan ribu satelit baru setiap tahun dalam megakonstelasi raksasa. SpaceX, misalnya, berulang kali menyatakan ambisi menempatkan satu juta satelit pusat data di orbit. Rencana-rencana ini berpotensi memperparah kepadatan lalu lintas antariksa yang sudah rentan.
Dampaknya sudah terasa. Pada Februari 2026, stasiun antariksa Tiangong milik China mengalami keadaan darurat singkat ketika wahana "sekoci" untuk tiga astronautnya rusak akibat serpihan, sehingga tidak layak digunakan untuk kembali ke Bumi. Ketiga astronaut tersebut terpaksa bertahan tanpa kendaraan evakuasi selama sepuluh hari.
Bagi Indonesia, perkembangan ini bukan sekadar berita jauh di angkasa. Sebagai negara kepulauan yang bergantung pada satelit untuk komunikasi, navigasi, pemantauan cuaca, dan mitigasi bencana, memburuknya lingkungan orbit dapat mengganggu layanan vital tersebut. Indonesia memiliki sejumlah satelit operasional, termasuk Satria-1 untuk konektivitas, dan setiap gangguan akibat serpihan antariksa berpotensi berdampak pada layanan publik serta sektor ekonomi digital.
Pertanyaannya kini, apakah negara-negara dan perusahaan antariksa akan memperkuat tata kelola orbit sebelum insiden tabrakan besar terjadi? Tanpa kesepakatan global yang mengikat mengenai pengelolaan lalu lintas antariksa dan pengurangan sampah orbit, risiko yang dihadapi satelit operasional—termasuk milik Indonesia—akan terus meningkat dari tahun ke tahun.



