John Herdman Bongkar Strategi Lini Depan Timnas: Beban Nomor 9 Kini Dibagi
Baca dalam 60 detik
- John Herdman menegaskan tanggung jawab mencetak gol Timnas Indonesia tidak lagi dipikul seorang striker nomor 9 semata.
- Sembilan pemain berbeda telah menyumbang gol dalam empat laga, menandakan pola serangan kolektif yang dirancang pelatih asal Inggris itu.
- Herdman tetap berambisi melahirkan penyerang tengah murni dari Indonesia, meski mengakui prosesnya butuh waktu hingga satu dekade.

Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, mengungkapkan pendekatan taktis yang membuat lini depan Garuda produktif di FIFA ASEAN Cup 2026. Ia menegaskan bahwa beban mencetak gol tidak boleh ditimpakan hanya kepada pemain bernomor punggung 9, melainkan harus menjadi tanggung jawab kolektif seluruh pemain yang mengenakan jersey merah.
Dalam empat pertandingan yang sudah dilakoni, sembilan pemain berbeda telah mencatatkan nama di papan skor. Fakta itu menjadi cerminan bagaimana Herdman membangun pola serangan yang tidak bergantung pada satu sosok penyerang tunggal. Menurutnya, setiap pemain memiliki peluang yang sama untuk menjadi penentu kemenangan, terlepas dari posisi aslinya.
"Kami memiliki mantra dalam tim. Jika Anda mendengar saya berbicara sebelum pertandingan melawan Oman, sangat jelas bahwa setiap orang yang mengenakan jersey merah bisa menang," ujar Herdman dalam wawancara eksklusif dengan Liputan6 Sport, seperti dikutip Bola.com.
Herdman menyadari bahwa Indonesia masih bermimpi menemukan striker nomor 9 ideal yang bisa menjadi tumpuan utama lini depan. Namun, ia menilai proses itu tidak bisa instan. "Jelas bagi saya bahwa Indonesia bergantung pada mimpi ini, bahwa kita akan menemukan nomor 9 di seluruh dunia atau kita akan mengembangkannya. Tapi itu mungkin tidak akan terjadi untuk generasi lain, 10 tahun lagi, satu dekade, bahkan dua dekade," jelasnya.
Karena itu, Herdman memilih memaksimalkan potensi pemain yang ada saat ini. Ia mengamati banyak pemain Indonesia mampu beroperasi di berbagai posisi, tetapi tidak banyak yang secara natural berperan sebagai striker murni. "Jadi kami harus bergantung pada apa yang kami miliki sekarang. Apa yang kami miliki sekarang adalah sekelompok pemain yang memainkan banyak posisi, tetapi tidak banyak yang bermain sebagai striker," tuturnya.
Strategi berbagi beban gol ini juga terlihat dari keterlibatan pemain belakang dalam situasi bola mati. Herdman mencontohkan Rizky Ridho yang berada di posisi tepat untuk mencetak gol saat menghadapi Bangladesh. Menurutnya, kemunculan pemain dari posisi berbeda bukan kebetulan, melainkan hasil latihan yang dirancang sistematis. "Posisi-posisi ini kami latih dan tidak terjadi secara kebetulan," ungkapnya.
"Peran striker adalah sesuatu yang tidak bisa kami bebankan hanya kepada seseorang yang memakai nomor 9. Kami semua harus berbagi tekanan itu." โ John Herdman
Bagi Herdman, mengurangi tekanan pada nomor 9 bukan berarti mengabaikan kebutuhan akan penyerang tengah sejati. Ia tetap berambisi melahirkan center forward asli Indonesia, meski nama-nama seperti Mitchell Baker dan Ole Romeny dinilai bisa memberikan kontribusi besar. "Menurut saya, untuk menempatkan itu pada Mitchell Baker atau Ole Romeny, kami masih harus menghasilkan seorang center forward dari Indonesia. Dan itu adalah mimpi saya," pungkasnya.
Pendekatan kolektif ini menjadi sinyal bahwa Herdman ingin membangun fondasi jangka panjang, bukan sekadar solusi instan. Dengan sembilan pencetak gol berbeda, Timnas Indonesia menunjukkan variasi serangan yang menyulitkan lawan. Namun, tantangan sesungguhnya adalah menjaga konsistensi ketika menghadapi tim dengan pertahanan lebih rapat. Akankah strategi berbagi beban ini bertahan hingga fase gugur, atau justru memunculkan kebutuhan mendesak akan striker murni?



