The Jakmania di Bantul: 1.000 Suporter, Kemenangan 4-0, dan Bukti Suporter Bisa Bersaudara
Baca dalam 60 detik
- Sekitar 1.000 pendukung Persija hadir di Stadion Sultan Agung saat Macan Kemayoran menaklukkan PSIM 4-0 pada pekan keempat BRI Super League 2026/2027.
- Mantan Ketua The Jakmania Ferry Indrasjarief menilai keramahan Brajamusti dan The Maident membuktikan laga tandang tak selalu identik dengan risiko gesekan.
- Tren positif ini menjadi ujian bagi pengelola kompetisi dan kepolisian untuk menjadikan laga away sebagai norma, bukan pengecualian.

Stadion Sultan Agung, Bantul, menjadi panggung langka dalam sepak bola Indonesia: sekitar 1.000 pendukung Persija Jakarta, The Jakmania, menonton langsung laga tandang melawan PSIM Yogyakarta tanpa insiden berarti, Sabtu (10/10/2026). Laga pekan keempat BRI Super League 2026/2027 itu berakhir 4-0 untuk Macan Kemayoran, tetapi cerita yang mencuat justru dari tribun.
Mantan Ketua The Jakmania, Ferry Indrasjarief, yang hadir di stadion menyebut sambutan dua kelompok suporter tuan rumah, Brajamusti dan The Maident, sebagai contoh yang jarang terjadi. Menurutnya, kehadiran suporter tim tamu tidak otomatis melahirkan ketegangan jika ada kemauan dari kedua belah pihak untuk menjaga hubungan baik.
"Saya tahu persis bagaimana perjuangan mereka untuk mendapatkan izin di sini. Terima kasih buat Brajamusti, The Maident, panpel, PSIM," ujar Ferry, yang kini berusia 61 tahun, kepada Bola.com.
Ia menolak menyebut pengalaman itu sebagai "away rasa home", namun mengakui keramahan tuan rumah membuat The Jakmania merasa diterima. "Warna oranye dan merah bisa menyatu di hampir setiap tribun. Itu bukti bahwa di tempat-tempat tertentu sebetulnya tidak perlu ada kekhawatiran," tambahnya.
Dari sisi kompetisi, hasil di Bantul menegaskan konsistensi Persija di bawah Shin Tae-yong. Kemenangan keempat secara beruntun membuat Macan Kemayoran mengoleksi 12 poin dan memuncaki klasemen sementara. Namun, bagi banyak pengamat, nilai laga ini tidak berhenti pada papan skor.
Sepak bola Indonesia punya rekam jejak panjang soal risiko bentrokan suporter, terutama pada laga-laga bertensi tinggi. Karena itu, keberhasilan penyelenggaraan di Bantul menjadi pembanding penting: apakah model koordinasi antara panpel, kepolisian, dan kelompok suporter bisa direplikasi di kota-kota lain? Ferry menyebut hubungan historis JakartaโYogyakarta yang sudah seperti saudara sebagai faktor pendukung, tetapi ia juga menekankan bahwa izin kehadiran suporter tamu tidak datang begitu saja.
"Kita tetap menghargai mereka sebagai tuan rumah. Tapi kenyataannya kita bisa lihat warna oranye, merah, bisa menyatu semua di hampir setiap tribun," kata Ferry.
Laga tersebut juga menjadi momen yang dinanti setelah kompetisi libur tiga pekan akibat agenda FIFA Matchday. Antusiasme penonton, menurut Ferry, terlihat dari performa Persija yang dinilainya konsisten dalam tiga laga sebelumnya dan memuncak di Bantul. Euforia Timnas Indonesia yang baru berlaga turut menyuntik semangat baru bagi para pendukung klub.
Bagi pengelola BRI Super League, kasus ini bisa menjadi tolok ukur baru. Jika laga tandang dengan suporter tamu dalam jumlah besar dapat berjalan aman, maka kebijakan pembatasan kehadiran suporter tamu perlu dievaluasi secara berkala. Sebaliknya, keberhasilan di Bantul tidak otomatis menghapus risiko di laga-laga lain yang memiliki sejarah konflik berbeda.
Pertanyaannya kini: apakah panpel dan kepolisian di daerah lain mampu meniru pendekatan yang sama, ataukah Bantul hanya menjadi pengecualian musiman? Jawabannya akan menentukan apakah sepak bola Indonesia benar-benar bergerak menuju budaya pertandingan yang lebih dewasa.



